System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 23 : Mulai kuliah


__ADS_3

Akuisisi perusahaan ternama asal Amerika itu menyita perhatian dunia. Pasalnya identitas dari pihak yang membeli mayoritas sahamnya adalah anonim. Misterius. Tak diketahui siapa. Yang jelas, dia adalah pihak dari Indonesia.


Siapa orang sultan dari Indonesia yang sanggup membelinya?


Beberapa orang terkaya di Indonesia pun sampai harus dikejar-kejar media, baik dalam maupun luar negeri.


"Saya tekankan ... itu bukan saya! Sudah, saya sibuk!" ucap orang terkaya nomor 1 di Indonesia, yang berusaha masuk ke dalam mobilnya. Baru keluar dari gedung kantor, tapi puluhan orang telah mencegat di parkiran.


"Astaga, siapa orang pemalu yang nekat membeli perusahaan sebesar itu? Jika tak mau ekspos media, jangan membuat gempar dunia, bodoh! Dasar brengsek!" maki dalam hati, si orang kaya nomor satu di Indonesia.


Sedang kondisi si orang terkaya nomor 2.


"Bukan saya! Lagipula saya tak mengenal wanita itu. Dia bukan salah satu dari pegawai perusahaan kami!" terangnya yang berusaha membuat yakin para awak media. Dia ditemui di mall terbesar di kota, bersama cucu-cucunya.


"Ahh ... kalian membuat cucu-cucuku manyun!" si orang terkaya memang mengharap quality time. Tapi, yah ... hancur.


Sementara itu ... sang biang keladi.


Erick sedang berjibaku dengan perutnya yang mules. Bersemedi di dalam toilet hampir 2 jam, Erick kepayahan mengeluarkan ampas perutnya. Tersangkut di usus.


"System, apa kau tak bisa membantuku? Ini sungguh menyebalkan. Tak mau keluar!" keluh Erick meminta bantuan.


[Tak bisa Master. Ini adalah pinalti yang harus Anda terima karena tidak mengerjakan misi bersepeda]


"Misi itu. Cih, Akhhh!." Erick pada akhirnya cuma mengeluh. Berusaha mengeluarkan ampas yang sudah seperti batu itu.


Setelah setengah jam antara hidup dan mati ... Erick berhasil keluar dari toilet. Kondisinya buruk sekali.


"S-sial! Begini saja aku ngos-ngosan. Yang jelas itu menguras banyak sekali ... hah ... hah ... t-tenaga."


Namanya juga pinalti. Seluruh fungsi System tak akan bekerja, Erick seperti menjadi Fandi yang belum memiliki System.


"Apa yang kamu lakukan, nak? Adik-adikmu menunggu, lho!?" ucap Lilis yang kebetulan melihat Erick keluar dari kamarnya, telah rapi hendak berangkat kuliah.


"Urusan perut." jawab Erick serta-merta, meraih tangan Lilis terus mengecup punggung tangannya.


"Aku berangkat."

__ADS_1


"Ya. Jaga adik-adikmu." Lilis berpesan.


Hari ini adalah hari pertama mereka kuliah. Hari pertama Erick mengenyam pendidikan setelah vakum beberapa tahun.


Dia memilih jurusan manajemen bisnis. Sedangkan Mina dan Mona masing-masing memilh sastra Inggris dan Jepang.


Erick membuka pintu apartemennya. Dia langsung sudah disambut oleh dua gadis kembar, mereka melipat tangan di dada.


"Kenapa kak Erick lama banget? Hampir terlambat, nih!" rengek Mona melayangkan protes.


"Semakin lama kita di sini ... semakin terlambat kita! Kak Erick bisa menjelaskannya sambil jalan." timpal Mina yang langsung berjalan. Erick memberikan jempol, Mina memang lebih cerdas daripada Mona.


"Benar apa yang dikatakan Mina. Kuliah itu sangat berbeda dengan sekolah biasa seperti SMA. Mereka tak peduli kalian itu berangkat tepat waktu atau tidak. Yang dipentingkan adalah kalian tetap membayar. Pihak kampus pun bakal senang jika kalian tak lulus tepat waktu. Semakin lama kalian kuliah ... maka semakin cuan. Terpenting adalah uang." terang Erick seraya berjalan tepat di belakang adiknya.


Mona yang mendengar penjelasan itu mengerutkan kening. Perkataan Erick sama saja mensugesti bahwa kebiasaan-kebiasaan buruk seperti itu adalah hal normal.


"Kak Erick sesat! Tak begitu konsepnya. Huh ... aku tak mau jadi mahasiswi tua. Harus lulus tepat waktu, kalau bisa malah kurang." Mina menyanggah. Mengungkapkan ambisinya.


Lalu, rintangan lagi-lagi muncul. Ketika mereka ingin menggunakan lift, sebuah kertas membuat muka Erick maupun adik-adiknya seketika lesu.


"Lift dalam masa perawatan. Maaf, atas ketidaknyamanannya." ucap Mona yang membacakan keras tulisan pada kertas yang tertempel di pintu lift.


[Turun ke lantai dasar menggunakan tangga]


[Tingkat kesulitan D]


[Hadiah : 20.000 poin]


[Batas waktu 3 menit]


[Pinalti : ???]


Erick trauma pada tanda ???, dia lantas bergerak cepat menuju tangga darurat di dekat lift. Misinya sungguh berpacu dengan waktu. Tanpa memberikan penjelasan yang jelas pada Mina dan Mona, Erick asal menaikkan adik kembarnya ke atas pundak selayaknya karung beras. Di kiri dan kanan. Tentu saja mereka berontak.


"K-kak Erick. Apa yang kau lakukan? Turunkan! Jika mau gendong ... gunakan posisi yang benar——waaaa!"


Mona belum sempat menyelesaikan ucapannya, Erick keduluan mengajak menuruni tangga dengan kecepatan yang bila salah memijak bisa meregang nyawa. Apartemen milik Erick ada di lantai teratas, hampir. Jadi, waktu yang dibutuhkan untuk turun menggunakan tangga darurat sekurang-kurangnya adalah 5 menit lebih.

__ADS_1


Erick terpaksa membawa kedua adiknya menantang malaikat maut.


"Tak akan sempat. Ahh! Harus cepat! Melompat!" batin Erick buru-buru. Dia asal melompat dari ketinggian puluhan meter. Akan memakan waktu jika melalui anak tangga yang jumlahnya ratusan itu.


"Waaaaa!"


Gaya gravitasi menjalankan tugasnya dengan baik. Erick terjun bebas, membawa serta kedua adiknya yang terus berteriak.


"KAK ERICK!!"


Deg ...


Erick berhasil mendarat mulus dengan kedua kakinya di lantai dasar, tapi itu sedikit memberikan efek sakit seperti keseleo pada kakinya. Jika manusia normal, jatuh dari ketinggian semacam itu sudah cukup untuk membunuhnya. Lain hal untuk Erick yang fisiknya berkali-kali lipat dari manusia biasa.


"Kakiku ... masih saja memberikan ... e-efek!" ucap Erick menahan nyeri, dia seketika jatuh terduduk ke belakang.


Buk ...


Mina dan Mona berpegangan sangat erat, mereka bahkan seakan mencekik Erick.


[Misi berhasil diselesaikan]


[Selamat, Master mendapatkan 20.000 poin]


[Bonus]


[Cedera Master akan dipulihkan]


Erick sontak menghela nafas lega. Dia kini mampu berdiri lagi. Tadi memang sungguh menguji adrenalin.


"Semuanya baik-baik saja. Mina, Mona ... buka mata kalian!" ucap Erick lembut menepuk-nepuk pipi kedua adiknya.


"Kak Erick, kak Erick ... hah, hah!? K-kita selamat?" panik Mona yang tak bisa mengontrol laju nafasnya.


"Tenang, tenang. Semuanya sudah terkendali!" ucap Erick Mona tak tahan untuk memukul-mukul kakaknya. "Mina, kak Erick sudah kelewatan. Dia harus menuruti permintaan kita."


'Aku ingin kak Erick tidur di kamarku, tanpa Mona.'

__ADS_1


"Hah?" Erick tak sengaja berteriak kaget. Dia mendengar suara hati dari Mina. "Eh? Ah, ya, ya. Kakak akan menuruti semua permintaan kalian. Tapi, kita harus segera berangkat ke kampus!"


'Apa kak Erick bisa mendengar suara hatiku?'


__ADS_2