
Acara makan malam itu berjalan lancar, tak ada kendala. Ariel merasa diterima oleh keluarganya Erick, bahkan sudah menganggap sebagai keluarga sendiri. Yah, walau Mina dan Mona masih ogah-ogahan.
Erick berada di kamarnya, yang mana lampu sengaja dipadamkan, hanya berteman lampu tidur unik ada di atas nakas. Erick sibuk mengotak-atik handphone-nya. Berbalas pesan dengan Ariel sampai larut.
Ariel
"Woah, aku udah ngantuk. Dah, sayang. Aku mau tidur."
^^^Anda^^^
^^^"Selamat bermimpi indah."^^^
Setelah membalas pesan itu, Erick langsung mematikan handphone-nya terus mencolokkan dengan charger. Baterainya hampir habis. Tapi, Erick tak ingin segera tidur.
"System, tunjukkan rekomendasi perusahaan kecil yang sedang kolaps!"
[Ada tiga perusahaan, Master]
"Tiga? Perusahaan yang bergerak di bidang apa saja?"
[Li-Ge : Perusahaan yang bergerak dalam jasa aplikasi belanja online]
[Banyaknya pesaing membuat Li-Ge tak mampu bertahan. Sistemnya yang terlalu kolot dan repot membuat masyarakat lebih memilih E-commerce lain]
"Next!"
[Mel : Perusahaan yang memproduksi alat-alat elektronik. Terutama TV dan Smartphone]
[Kepengurusan yang tidak baik dari Owner dan bawahan-bawahan yang menyelewengkan uang perusahaan, membuat Mel tak mendapat kepercayaan dari perusahaan induk]
"Ok, ok. Sebuah anak perusahaan?" Erick mangut-mangut puas. Dia merasa tertarik dengan perusahaan yang direkomendasikan dalam urutan nomor 2 oleh System.
[JAYAFOOD : Perusahaan yang memproduksi berbagai makanan instan dan bumbu dapur Instan]
[JAYAFOOD hampir bubar karena masalah internal. Perseteruan para pemilik saham]
"Huh, apa ada informasi yang lebih penting? Umm ... pemancing agar aku mau membelinya. Selain bisa dibeli dengan harga murah, juga harus memiliki keuntungan lain!" keluh Erick yang merasa ada yang kurang. Dia memang condong untuk memilih Mel, tapi dirasa belum cukup motivasinya.
[Master sepertinya akan sangat tertarik dengan perusahaan nomor 2 yang saya rekomendasikan]
__ADS_1
"Kenapa dengan perusahaan itu?"
[Mel adalah anak perusahaan dari perusahaan induk yang bernama REKAN]
[Mel dibuat untuk bahan pembelajaran dan pembentuk pengalaman bagi anaknya Owner REKAN]
[Ini sangat kebetulan, Master. REKAN adalah perusahaan yang dijalankan oleh keluarganya Reka]
[Master mengingat Reka?]
"Reka? Siapa juga yang bisa melupakan orang menyebalkan itu? Orang yang memaksa-maksa Karamel untuk menjadi pacarnya, sampai harus mengancam menggunakan orang tuannya."
[Master ingin membeli perusahaan itu?]
"Tentu saja. Penyebab hampir gulung tikar pasti karena si Reka sendiri."
[Sudah diputuskan]
[Kapan Master ingin mengurusnya? Deadline misi adalah 1 bulan]
"Dalam waktu dekat. Tapi, tak buru-buru juga. Sepertinya aku harus melihat-lihat keluarganya Reka."
.
.
.
Alarm dari handphone membangunkan Erick, dia meraba-raba meja kecil dekat tempat tidur. Dia berhasil menggapainya, selepas itu dengan mata yang masih menyipit, Erick mengecek waktu pada layar.
"Aku menyetelnya jam berapa sih? Sangat pagi, baru jam 2 dini hari." omel Erick tak jelas pada siapa. Nyawanya belum terkumpul sempurna sehingga dia belum menyadari sebuah kejanggalan yang terjadi di tempat tidur.
"Wo~ah. Sekarang apa? Terlanjur bangun, niat ngorok sudah sirna." ucap Erick menguap, mengucek-ngucek mata.
[Master, Anda harus segera sadar]
"Hmm, apa?"
Tak berlangsung lama ... suara seseorang yang mengigau muncul, datang dari sebelah Erick. Selanjutnya, tangan seseorang terasa melingkar seperti sabuk di pinggang. Sejujurnya tangan yang dirasa mungil itu menyenggol "masa depannya" untuk Ariel. Alhasil Erick merasa geli, lagipula dia tidur cuma mengenakkan celana boxer.
__ADS_1
Masa depan untuk Ariel itu tak sengaja menegang.
"K-kak Erick!?"
"Huh, jangan bilang ...." Erick mengarahkan layar handphone ke sisi ranjang di sebelahnya sebagai senter.
Erick langsung menghela nafas. Dia telah mengkonfirmasi si biang kerok. Bukannya marah, tapi Erick bersikap lembut. Dia mengelus-elus kepala dari seseorang yang telah menganggapnya sebagai guling.
"Ini handphone-nya Mona?" ucap Erick baru menyadari bahwa handphone yang dipegangnya bukanlah handphone yang dirasa dimiliki. Dia melirik ke arah nakas, handphone miliknya nampak masih tergeletak di sana.
Gambar seluruh keluarga lengkap yang berfoto ria dengan background kota dari ketinggian. Foto itu diambil dari roof top apartemen. Mona menjadikannya sebagai wallpaper handphone.
"Dia menyelinap di tengah malam untuk tidur di sini. Sampai repot-repot menyetel alarm jam 2 pagi supaya bisa kembali, dan tak kepergok bermalam di sini. Berani sekali." Erick tersenyum tipis memandang wajah tidur adiknya itu.
"Eh? Apa Mina juga ikut-ikutan?" ucap Erick sedikit panik, memastikan tak ada pengunjung asing selain Mona.
"Kak Erick?"
"Ukh ... oi, Mona! Mona!" erang Erick menahan nyeri di pada ************. Mona mendadak mencengkeramnya kuat.
"Apa sih yang kau mimpikan?" Erick segera melepaskan cengkraman tangan adiknya. Otomatis Mona terbangun sebab guncangan.
"K-kak Erick?" panggil Mona setengah sadar. Mukanya memerah padam, nafas memburu dengan dada kembang-kempis tak karuan. Mona merasa sedikit panas.
"Kak Erick?"
Mona menimpa Erick dengan badannya hingga si kakak terdorong, terbaring lagi. Mona membaringkan diri di atas tubuhnya Erick.
"K-kak?"
"Hah, sudah sampai sejauh ini." Erick cuma bisa mengeluh dalam hati.
Malam itu pun terlewati dengan mengerikan. Erick merasa gagal menjadi kakak yang baik untuk adik perempuannya. Walaupun begitu, Erick masih sedikit waras, dia tak tega mengambil kehormatan dari Mona.
.
.
.
__ADS_1
Maaf update kedua untuk hari ini telat. Molor sampai sore.