
"Erick!"
Erick baru akan menekan bel, namun pintu sudah terbuka duluan dan Ariel langsung menyambar. Dia langsung memeluk pacarnya itu dengan erat.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku sangat takut saat kamu hampir terjatuh dari——"
"Sttt ... sudah. Aku lelah, kita bahas lain kali saja. Lagian, kamu melupakan orang tuamu?" ucap Erick mencolek hidung Ariel. Dia sedikit bergeser agar orang-orang di belakangnya bisa terlihat.
Ibu dan ayahnya Ariel mengintip dari belakang badan Erick, muncul dengan wajah cemberut. Anaknya serasa tak memedulikan keluarganya sendiri.
"Kami tak dianggap, nih?!" ucap kesal ibunya.
Ariel tertawa canggung. "M-maaf, reflek." Dia langsung memeluk ibu, ayah, dan adiknya.
Di sisi lainnya, penghuni apartemen lain ingin meluapkan perasaannya juga. Giliran Mina-Mona yang menghantamkan tubuhnya ke Erick.
"Kak Erick berhasil. Kakak sungguh hebat!" puji kedua adiknya. Erick tak tahan untuk tak membelai pucuk kepalanya.
"Kami sangat bersyukur kamu tak mengalami luka serius, Erick." Lilis dan Anto ikut mendekat. Mereka juga bergabung dengan bekapan itu.
"Kami semua panik saat kamu hampir terjatuh!?"
"Maaf, sudah membuat semuanya cemas. Tapi, semuanya sudah berkahir." balas Erick.
Tersisa Fian, Karamel, dan ibunya yang cuma bisa melihat dalam diam. Namun, dalam hati mereka sangat lega bahwa tak terjadi sesuatu yang buruk pada Erick.
Kedua keluarga itu akhirnya selesai meluapkan kebahagiaan dapat bertemu dengan anak-anak mereka. Selanjutnya keluarga Erick dan Ariel berkenalan.
Terjadi makan-makan besar hari itu. Perayaan atas semua keberhasilannya Erick. Namun, hidup mereka tak akan bisa tenang.
Erick sudah terlanjur terkenal. Semua orang di seluruh negeri bahkan dunia tahu tentang dirinya. Orang yang menghabisi ketua Heaven Mafia dan menasbihkan sebagai ketua yang baru. Pin yang Erick dapat dari kakek Fu, yang berlambang gerbang emas setengah terbuka itu merupakan syarat untuk pengakuan.
Pengakuan menjadi ketua dari Heaven Mafia yang baru. Erick tinggal menunjukkannya pada media, dan berita tentangnya yang memiliki syarat penyerahan kepemimpinan pun tersebar.
Cabang-cabang dan organisasi-organisasi lain yang memiliki hubungan dengan Heaven Mafia pun langsung mengakui. Apalagi Erick nampak luar biasa ketika menghadapi Ceres. Jadi, tak ada yang meragukannya.
Terlebih lagi, perusahaan REKAN juga diambil alih oleh Erick. Perusahaan itu terbukti banyak melakukan banyak hal ilegal. Meskipun berujung gulung tikar, Erick masih mau mengakuisisi. Yah, sama saja membangun dari awal.
Selanjutnya pun Erick menyerahkan wewenang mengurus perusahaan itu kepada keluarganya Ariel. Sudah bisa ditebak, jika Erick pasti tak akan terurus. Masih banyak urusan yang harus diselesaikan olehnya dan tentunya sangat penting.
"Wow ... bagaimana dengan orang-orang itu? Mereka sangat ingin bertemu dengan kak Erick?" Mona antuasias melihat kerumunan orang yang berusaha menerobos masuk di gerbang masuk komplek apartemen.
"Mereka, ya? Huh ... aku bingung harus bagaimana."
"Para fans dadakan itu!" ucap Mina kesal, jelas tak menyukai kerumunan orang itu.
Di luar komplek apartemen, sudah ada ribuan orang mengantri untuk bertemu dengan Erick. Mulai dari media dan orang awam yang penasaran dengan Erick. Semua berebutan ingin menyerbu kediamannya Erick.
Kakek Fu dan Ru yang harus terkena imbasnya. Mereka berdua kini yang bertugas menghalau sejumlah massa.
"Dia sudah jadi terkenal!?" keluh Ru yang sibuk menenangkan massa.
__ADS_1
"Ya. Tapi, resiko menjadi terkenal itu sangat besar. Mungkin banyak yang kagum padanya. Namun, di sisi lainnya juga pasti ada yang berniat buruk. Terlebih kekayaan dan ... katana itu!"
"Benda mati yang sok-sokan pilih majikan? Tapi, harus dilakui katana itu luar biasa. Tak heran akan banyak orang yang mengincarnya. Selain itu, sebenernya kau mendapat katana itu dari siapa?" Ru berbicara panjang lebar lewat telepati.
"Seseorang dari negara timur, negeri matahari——sekarang disebut Jepang, ya? Dia seorang samurai terhebat pada zaman itu. Selain itu punya kedudukan yang terhormat di hadapan sang kaisar."
"Katana itu seperti hidup saja, itu bagian paling menyebalkan." ucap Ru.
"Si samurai itu juga mengatakan demikian. Katana itu bisa menilai seseorang, memberikan penilaian. Jadi, selama ini kita tak bisa mengesankan katana itu."
"Aku kesal."
"Hahaha ... tak usah cemberut begitu, adikku." ledek kakek Fu.
.
.
.
"Kak, harusnya kita sudah bisa keluar, 'kan?" Mona gelisah. Meski masalah yang dihadapi Erick berhasil dituntaskan, mereka masih belum leluasa beraktivitas di luar. Masih terpenjara di apartemen.
Unit apartemen Erick selalu didatangi banyak orang setiap hari.
"Menjadi terkenal memang merepotkan. Erick sekarang viral di mana-mana." Celetuk Ariel melihat Erick duduk lesu di sofa.
Pria itu sedang banyak pikiran.
"Yah, beginilah. Aku malas meladeni mereka."
Tentu Erick tak sabar, apalagi dia bisa langsung menyelesaikan sisa masalahnya yang merepotkan itu.
"Ugh ... hari ini adalah hari ulang tahun Ariel, 'kan? Gawat ... aku tak bisa menemukan hadiah. Erick pasti kecewa. Eh? Tidak, karena keributan dengan Mafia itulah aku tak bisa mencarikan hadiah yang Erick minta." batin Fian.
Wanita itu baru ingat bahwa dia beri amanah untuk mencari mobil yang bagus untuk hadiah ulang tahun Ariel. Jadi, Fian berpikir apa kondisi Erick yang terlihat panik adalah karena belum mempunyai hadiah apapun.
"Kak Erick, kapan kita pindahnya?" Mona berhasil membuat Erick mengingat janjinya yang lain. Kabur ke luar negeri. "Ayo, ke Jepang!"
"Jangan seenaknya! Belum diputuskan akan pergi ke Jepang!" Mina membantah. Lalu terjadi perseteruan antara dua saudari kembar.
Erick seketika melirik ke semua orang. Tak ada yang bersuara. Mereka setuju-setuju saja dengan keputusan Erick. Mau pergi kemana pun itu.
"Tenang saja, kami merestui Ariel untuk ikut. Dan kami pasti akan menjalankan perusahaan itu dengan baik." ucap ayahnya Ariel.
"Ya, kami mungkin juga akan menyusul ke sana. Tapi, tak dalam waktu dekat. Jadi, jangan nikah dulu sebelum ...."
"Mama...!" Ariel cukup kesal melihat ibunya terkekeh meledeknya.
"Bercanda, kalian bebas menentukan tanggalnya. Kami sudah merestui, kok. Iya, 'kan calon besan?
"Ya. Terserah Erick, maunya kapan." Lilis berucap malu-malu. Dia melirik Erick agar mengatakan jawaban pasti.
__ADS_1
"Y-ya. Aku malah ingin secepatnya. Risih dengan status pacaran." ujar Erick.
"Hoh, ingin cepat-cepat melakukan itu dengan Ariel——"
"Bukan. Lagipula kami sudah ...." Erick hampir keceplosan. Dia hampir mengatakan bahwa dirinya sudah pernah melakukannya beberapa kali. "Yah, begitulah. Kita berangkat esok hari. Tujuan negaranya ...."
Yah, pengalihan perhatian.
Mona sudah kelewat antusias.
"Huh, yang memilih Jepang tolong angkat tangan, sisanya berarti memilih negara lain." Erick memberikan intrupsi.
Hampir semua orang langsung mengangkat tangannya. Terkecuali Mina, Fian, Karamel, dan ibunya.
"Maaf, Erick. Tapi, kami tak ikut. Kami bukan siapa-siapa dari keluargamu. Cuma orang asing." Karamel beruara.
"Ya. Kami merasa tak enak hati." sahut Fian.
"Siapa bilang kalian orang asing. Kalian juga ...." Erick melirik Ariel sebentar.
"Huh, terserahlah. Terpenting bisa rukun-rukun saja."
"Nah, sudah dengar, 'kan?"
Kedua wanita itu pun langsung menerbangkan dirinya ke pelukan Erick. Agak tersedu-sedu, merasa terharu. Ariel pun ikut-ikutan.
"Cuma segini, 'kan? Nggak nambah, 'kan?"
"Yah, masih ada satu lagi sih. Kamu tau ... dia adalah cinta pertamaku. Jika dia belum menikah. Aku pasti ..."
"Benar-benar buaya. Apa kamu mau seribu wanita? Seperti Raja-raja di masa lalu?"
"Mungkin?" balas Erick tersenyum kecut.
.
.
.
.
Season 1 (end)
Dah habis ...
Season 2?
Silahkan voting untuk pembaca yang kebetulan melihat novel ini update setelah seminggu lebih hilang tanpa kabar.
Mau lanjut apa tidak?
__ADS_1
Itu terserah kalian.
Deadline voting sampai besok, jam 12. Aku tunggu.