System : Asisten Pribadi

System : Asisten Pribadi
Chapter 45 : Kebal


__ADS_3

"Ada apa, Erick? Kenapa tiba-tiba mengajak ke sini?" Ariel bertanya pada Erick yang matanya menyorot jauh pemandangan kota dari ketinggian.


Erick mengajak Ariel ke roof top padahal hari sedang terik-teriknya, suhu dapat menyentuh 40 derajat mungkin. Kulit putih Ariel bisa saja menggelap. Tapi, wanita itu tak mempersoalkannya. Pacar lebih utama.


Mereka berdua adalah orang aneh yang menjemur diri di roof top.


"Sedikit mencari kedamaian!?" balas Erick. Surai cokelat-pirang nampak berkilau tersinari cahaya matahari. Belum lagi diayun-ayunkan oleh angin. Ariel yang melihat dari samping sontak terpukau. Dia sesaat memandangi rupa pacarnya itu.


Ariel jadi salah tingkah sendiri. "Huh, pacarku emang keren sih. Tapi, yang paling penting ... baik hati!"


Suara hati itu lantas mampu didengar Erick. Pria itu tersenyum simpul. "Yap, aku memang keren. Tak perlu diperdebatkan!" Erick mengangguk-angguk puas.


"Kepedean!" ujar Ariel sok cool, menyikut lengan Erick.


"Benar. Itu suara hatimu sendiri, lho!?" seloroh Erick menunjuk dada Ariel.


"Salah. Aku nggak pernah membatin begitu!" sangkal Ariel tetep kekeh tak mau mengakui.


Erick justru menatap Ariel penuh selidik, memojokkan wanita itu sampai tangannya menyentuh tepian pembatas.


"Beneran?"


Ariel kelabakan, matanya jelalatan tak terkendali. Erick mendekatkan wajahnya. "Aku cium, nih?!"


Wanita dengan style rambut kucir kuda itu menyerah. "Baiklah, baiklah. Aku memang menganggap pacarku itu sangat keren." ujar Ariel tersenyum getir seraya menunjukkan jari-jarinya yang membentuk huruf V. "Peace!"


"Eh? Kamu nggak mau dicium?" ucap Erick pura-pura kecewa, menunjukkan wajah sedih.


"Bukan begitu ... ahh! Aku ingin ciuman yang lebih tulus!"


Cup ....


Ariel asal nyosor, bibir berias lipstik tipis berwarna pink itu mengecup bibir pujaan hatinya. Cuma berlangsung beberapa saat.


"Huh, Ariel. Kamu memang mood booster terbaik!" puji Erick tersenyum lembut. Tak lupa dua jempol diberikan.


"Eh? Apa? Apa?" Ariel mengernyitkan dahi. Dia sedikit kurang paham.


Akan tetapi, Erick tak ingin menjelaskan apa pun. Dia asal menarik tangan Ariel untuk mengikutinya menyingkir dari roof top.


"Kita pergi dari sini! Lama-lama gosong kita nanti!"


Ariel lantas asal mematuhi, meski tak mengetahui maksud perkataan Erick.


Mereka berdua turun ke lantai 8. Yah, memang bukan lantai di mana apartemen mereka berada.


"Kamu ingin mengunjungi seseorang?" tanya Ariel menarik-narik ujung pakaian Erick.

__ADS_1


"Ya. Kita akan bertamu." jawab Erick yang wajahnya sudah nampak semangat berlebih. Dia tak sabar ingin memberi pelajaran si dukun, mempecundanginya.


[Sedikit pemberitahuan, Master]


"Humm ... tiba-tiba? Ada apa?"


[Ini adalah bagian terpenting. Sebetulnya Master kebal terhadap serangan yang mengincar jiwa dan organ dalam]


[Tubuh Master menyatu dengan System. Dan System lah yang mengatur seluruh fungsinya. Termasuk menghalau segala sesuatu yang dianggap buruk]


[Master dengan kata lain kebal terhadap penyakit dan segala macam guna-guna]


"Aku bahkan tak menyangkanya. Tapi, sangat bagus. Kupikir aku perlu membeli semacam ketrampilan pelindung ilmu hitam."


Erick dan Ariel sudah sampai di kediaman si dukun.


"Eh? Bagaimana dengan Ariel? Dia tak punya perlindungan, terlalu rentan." Erick mendadak berhenti ketika mau menekan bel.


[Master hanya perlu berkontak kulit dengan Ariel, maka ia akan mempunyai perlindungan yang sama]


"Hoh. Ternyata simpel."


Seperti perkataan System, Erick langsung menggenggam tangan Ariel.


"Erick?" panggil Ariel bingung.


Erick pun menekan belnya. Tak butuh waktu lama sampai pintunya terbuka.


[Misi dikonfirmasi]


[Kalahkan si paranormal]


[Tingkat kesulitan : C]


[Hadiah : Keterampilan black magic + 50.000 poin]


[Batas waktu : 2 jam]


[Pinalti : Teror dari makhluk metafisika]


"Misi, ya? Hadiahnya lumayan." batin Erick bersemangat setelah mendapat pemicu tambahan dari System.


"Halo, Pak Ardhi. Apa kami menganggu?" Erick berkata sopan.


"Oh, dari lantai 26, 'kan? Erick, Ariel ... kalian memang pasangan yang serasi, ya? Pegangan tangan terus." Pak Ardhi tersenyum tipis melirik tangan Erick dan Ariel yang menyatu.


"Hahaha, Ariel memang tak bisa lepas!?"

__ADS_1


Ariel sontak menginjak kaki Erick, dia agak tak terima dianggap seperti perempuan manja.


"Hahaha ... ya, ya. Jadi, ada urusan apa kalian ke sini?"


"Itu ... begini ...." Erick dan Ariel asal nyelonong masuk hingga Ardhi merasa tak nyaman.


"Menjebloskanmu ke penjara!" ucap Erick serius, ekspresi ramahnya telah sirna. Dia dengan kuat mendorong Ardhi ke tembok dan mencengkeram kerah bajunya.


Dia sisi lainnya, Ariel semakin kuat menggenggam tangannya Erick. Dia memang tak mengerti situasinya, tapi melihat pacarnya yang bersikap buruk pada Ardhi, sudah cukup menjelaskan semua hal. Pria setengah baya di hadapannya pasti bukan orang baik-baik.


"Apa-apaan ini? Apa maksudnya?" berang Ardhi melotot tajam ke arah Erick.


"Lepas!" titah Ardhi. Dia agak percaya diri sewaktu mengatakannya seolah akan dituruti oleh Erick. Tapi, pria berambut cokelat-pirang itu mangkir.


Erick lantas tertawa terbahak-bahak. "Kami tak memakan kue yang sudah kau tanami guna-guna. Dasar dukun sialan!"


Mata Ardhi melebar, ditatapnya Erick dan Ariel secara bergantian. Mengecek kebenaran dari perkataan Erick.


"Kami tak sebodoh itu menerima pemberian orang asing!" Erick tersenyum penuh kemenangan.


"Dia? Apa pria ini bisa melihatnya? Dia punya indera ke enam? Indigo?!" batin Ardhi sekuat tenaga berusaha mengenyahkan cengkraman tangan dan dari kerah kemejanya.


Perbedaan kekuatan antara kedua pria itu jelas terlihat. Ardhi tak berkutik sama sekali. Hal yang bisa membantu paranormal itu mungkin cuma backingan-nya yang tak kasat mata.


Deg ...


Erick mendadak melepaskan cengkramannya. Dia termundur, ekspresi di wajahnya sedikit bermasalah. Ariel pun sampai cemas.


"Erick ... Erick ... ada apa?"


"Arrghhh!"


Erick guling-guling tak terkendali sambil memegangi perutnya. Wajahnya kentara menahan lara yang luar biasa.


"Erick, ada apa? Kenapa kamu ... Pak Ardhi, apa yang Anda lakukan pada Erick? Tolong hentikan itu!" rintih Ariel berlinang air mata. Dia berupaya menenangkan Erick yang tak terkendali.


"Yah, itu sebagai pelajaran. Paling sebentar lagi mati, gwahaha. Nah, Ariel ...." Ardhi hendak mendekati Ariel.


Namun, siapa sangka ....


Buaaghh ....


Erick melayangkan bogem mentah yang telak mengenai perut Ardhi. Seketika membuat pria itu tersungkur memegangi perutnya, memuntahkan cairan aneh.


"B-b-bbagaimana bisa?" ucap Ardhi parau.


Tak berselang lama, Ardhi pun pingsan.

__ADS_1


"Intinya aku kebal terhadap semua trik-mu, hehehe."


__ADS_2