
Erick sudah beberapa hari di Jepang. Urusan perpindahannya sudah hampir selesai. Dia telah mengurus semuanya. Yah, mereka pun telah resmi menjadi warga negara Jepang.
Masalah nama ... yap, pria itu tak memedulikan dan asal ceplas-ceplos. Erick membuat nama marga. Yaitu Gure.
Jadi, Erick namanya kini ada tambahan Gure di depan. Gure Erick, Gure Lilis, Gure Anto, Gure Mina, Gure Mona.
Setelah mengurus kependudukan. Erick langsung fokus soal masalah kuliah. Dia memilih universitas Tokyo sebagai pilihan.
Lalu, soal pekerjaan ... ini untuk orang tuanya, ibunya Karamel, atau bahkan Fian, Ariel, Mina-Mona, dan Karamel yang ingin bekerja paruh waktu. Terus diam di dalam apartemen seperti seorang introvert pasti membosankan.
Erick dengan mudah membeli sebuah restoran dekat dengan tempat tinggal sementaranya. Restoran kecil, tapi cukuplah untuk menghabiskan waktu, bukan untuk dijalankan secara serius. Jika serius, mungkin restoran itu sudah menjadi tempat makan berbintang lima yang terkenal seantero Jepang, bahkan dunia.
"Erick? Kita mau kemana?" tanya Ariel penasaran. Dia tiba-tiba diajak Erick keluar. Yah, cuma berdua.
"Ke mall, sih."
"Mau beli apa?"
"Tinggal ikuti saja. Nanti juga tahu sendiri."
"Huh, ya. Oke. Padahal aku tak butuh barang apapun!"
Erick menyeringai, "Hmm ... tak butuh, yakin? Aku pastikan kamu menyesal!?"
"Memangnya apa? Aku sedang tak ingin apa-apa!" Ariel mengerutkan kening. Dia memang sedang tak mendambakan apa pun.
"Lihat saja dulu."
Beribu-ribu pertanyaan hadir di kepala wanita itu. Sepanjang berkeliling mall, dia terus memikirkan sesuatu yang hendak dibeli Erick untuknya.
"Barang apa, ya? Umm ... aku sih, pernah bilang bahwa bra yang kupakai mulai kekecilan. Tapi ... akh, nggak mungkin!" batin Ariel. Dia tak sadar sudah sampai di lokasi yang dimaksud Erick.
"Kita sudah sampai, Putri."
"Hah? Beneran?" kaget Ariel yang mengucek-ngucek matanya. "Mau beli bra, nih?"
"Bukan toko itu! Yang sebelahnya! Iya, nanti kita juga ke sana. Milikmu bertambah besar saja, ya?" ucap Erick bergurau, membuat Ariel cemberut.
"Salah siapa itu?"
"Oke, oke ... salah kita berdua!" Erick memimpin jalan ke toko perhiasan.
Pegawainya melihat kedatangan Erick dan Ariel. "Selamat datang." ucapnya dalam bahasa Jepang.
Erick dan Ariel cuma mengangguk.
"Umm ... Erick, kenapa kita ke sini? Mau memberiku perhiasan? Sepertinya tak perlu." Ariel berbisik-bisik. Dia memeluk lengan Erick dengan kuat.
"Jika tak mau terserah. Aku beli buat Fian dan Karamel saja! Tapi, jangan menyesal lho, ya? Aku tadi juga sudah memperingatkanmu!"
"Untuk apa menyesal?" balas Ariel mengangkat bahu dengan entengnya.
"Huh, oke."
Erick langsung mendatangi pegawai yang bertugas melayani pelanggan. Toko itu lumayan ramai oleh banyak pasangan. Agak lama untuk mendapat pelayanan.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" ucap si pegawai wanita dengan ramah.
"Tolong carikan cincin pernikahan yang pas untuk kami." Erick melirik Ariel yang lebih memilih bermain handphone-nya. Wanita itu tak ngeh terhadap kalimat yang Erick ucapkan.
Ariel belum paham bahasa Jepang.
"Oh, kami punya banyak pilihan. Mau model yang seperti apa? Tolong lebih spesifik!" Pegawai toko perhiasan itu menunjukkan beberapa sampel.
Erick kurang srek dengan semuanya.
"Huh, butuh yang lebih simpel." batin Erick.
"Beginilah saja ... tolong buatkan ...." Erick membisikkan perihal cincin yang ingin dia pesan kepada pegawai itu.
Ariel yang menyadari itu pun bersikap biasa saja. "Terserah Erick saja lah."
Erick cukup lama dalam mendeskripsikan model cincinnya.
"Sudah?" tanya Ariel.
"Ya. Nah, ayo ke toko sebelah. Berapa ukuranmu? Oh, ya ... G-cup——"
"Bukan! Milikku tak sebesar itu!"
.
.
.
"Sekarang kita mau kemana lagi?" Ariel terus mengeluh karena Erick mengajaknya mampir terus-terusan, tak kunjung pulang.
"Urusan seperti apa? Tempat ini menyeramkan! Kamu mau menangkap hantu?" ucap Ariel bergidik saat melihat keadaan tempat yang mereka singgahi. Dia tak bisa jauh-jauh dari Erick.
Sebuah terowongan tua yang sudah terbengkalai.
"Jika memang benar, gimana?"
"Kamu pasti bercanda!?"
"Kenapa sih? Aku sedang tak mau uji nyali. Apa tak ada tempat kencan yang bagus?"
Aura di terowongan itu sangat menekan Ariel, membuat semua bulu halusnya menegang. Terlebih tempatnya yang gelap dan sedikit lembab. Tempat yang cocok sebagai sarangnya makhluk ghaib.
"Makannya ... huh, cukup pegang tanganku erat-erat! Jangan pernah lepaskan! Kamu akan baik-baik saja." perintah Erick. Sebelum diperintah pun Ariel sudah melakukannya.
Tujuan Erick ke tempat itu adalah untuk menangkap beberapa makhluk yang dikiranya bisa berguna. Lebih menguntungkan memperkerjakan mereka daripada manusia. Ada sesuatu yang tak bisa dilakukan manusia, namun bisa dilakukan para makhluk tak kasat mata itu.
"Mungkin mereka bisa mencari Anya! Setidaknya mereka sedikit lebih peka dan mempunyai jangkauan pencarian yang luas." batin Erick yang terus melirik beberapa makhluk. Namun, belum ada yang menarik buatnya.
"Erick. Aku lama-lama bisa pingsan, nih?!"
"Tenang, aku akan menggendongmu!" balas Erick dengan santainya.
Kemudian, hembusan angin bertiup kencang ke arah mereka berdua padahal berada d tengah terowongan. Panjang terowongan itu ratusan meter.
__ADS_1
"Ini baru para elite!" ucap Erick tersenyum kecut.
Para makhluk metafisika mulai menunjukkan eksistensinya.
"Erick, Erick. Kenapa bisa ada mobil? Bukannya terowongan ini sudah tak berfungsi?" teriak Ariel panik. Suara mesin mobil terdengar dari kejauhan.
Dia menunjuk siluet berupa cahaya seperti lampu mobil yang datang dari ujung lorong. Ariel menjadi semakin panik dan memeluk Erick dengan erat.
"Yah, ini cuma ilusi. Mereka sengaja memperlihatkan hal ini!"
Erick dengan tenang meminta Ariel untuk meringkuk. Memintanya untuk menutup mata dan telinga. Sementara itu, Erick membekap erat.
Mobil-mobil itu datang ke arah mereka, kemudian dari arah berlawanan muncul mobil box yang melaju dengan kecepatan sangat tinggi.
"Dimulai!"
Suara klakson mulai memekik keras, decitan ban mobil akibat direm pun bergesekan dengan aspal. Suara-suara itu bercampur, menggema di seluruh terowongan. Sampai ...
"Sumbat telingamu yang kuat, Ariel!"
Terjadi tubrukan berantai. Mobil box tadi dengan brutal menghantam belasan mobil hingga terpental kesana-kemari.
Banyak kendaraan terguling, ringsek, bahkan hancur seluruhnya. Puncak dari kejadian itu adalah ledakan akibat bensin yang bocor. Bersahut-sahutan, seisi lorong luluh lantak, asap mengepul kemana-mana. Dan ratusan orang pun menjadi korbannya.
"Itu sungguh mengerikan!" batin Erick yang menyaksikan seluruh kejadian itu.
Reka ulang adegan selesai, keadaan terowongan berangsur-angsur pulih seperti sedia kala, yaitu menjadi sepi kembali.
"Ariel, kamu bisa membuka mata. Sudah tak apa-apa."
"Erick, tadi itu apa?" ucap Ariel yang tak bisa menahan air matanya.
"Bayangan kejadian masa lalu. Tapi, sudah tak apa-apa. Tak ada yang perlu ditakutkan!" balas Erick lembut. Dia membelai pipi Ariel, menghapus air matanya.
Tak berselang lama muncul siluet belasan manusia yang agak transparan. Yah, mereka adalah penunggu tempat itu. Para korban kecelakaan.
Erick tak menyangka akan bertemu dengan mereka.
(Maaf, anak muda. Tapi, kami tak bisa melakukan apa yang kamu perintahkan. Meski kamu menggunakan kekerasan untuk memaksa kami, masih percuma)
(Kami hanya arwah penasaran yang tak bisa pergi dari tempat ini)
(Maaf, kak. Kami tak bisa membantumu)
Mereka muncul hanya beberapa detik dan kemudian menghilang lagi.
"Mereka ....? Satu keluarga? Dan juga yang lainnya ... tak bisa pergi dari tempat ini?" ucap Ariel yang meloloskan air mata.
"Memang kadang begitu. Biasanya ada urusan yang belum selesai. Namun, jangan terlalu dibawa ke hati. Itu bukan urusan kita!"
Erick membantu Ariel berdiri.
"Sudah, ayo kembali!"
"Kita tak akan pergi ke tempat seperti ini lagi, 'kan?"
__ADS_1
"Ya. Biar aku saja yang pergi. Kita kembali dulu."
"Huh, sial. Aku salah memilih tempat." batin pria itu.