
Reka atau Reka Tunggal Rekan, nama lengkapnya, merupakan seorang anak tunggal dari keluarga besar pemilik perusahaan REKAN. Perusahaan yang memiliki banyak anak perusahaan dan berbagai cabang di luar negeri.
Rekan, ayahnya Reka, merupakan 10 besar orang terkaya di Indonesia.
Reka sejak kecil, hidupnya tak pernah kesusahan. Dia tak pernah merasakan pahitnya kehidupan. Semua hal dituruti, benar-benar bagaikan Raja.
Tapi, kerena gaya hidup itulah Reka tumbuh menjadi orang yang egois dan sedikit kekanak-kanakan. Sikap orang tuanya juga berperan, memberikan apapun yang dia minta, meski terdengar mustahil atau melanggar hukum sekalipun. Pokoknya Reka tak boleh kecewa. Itu bagaikan bencana bagi orang tuanya.
Oleh karena itu, kegagalan atau kekecewaan yang pernah dialami oleh Reka cuma terjadi beberapa kali. Salah satunya adalah gagal menikahi Karamel. Perempuan yang sudah diincarnya ketika masih SMA.
Penyebabnya adalah Erick. Pria itu harus menanggung kemarahan dan kebencian dari seorang Reka. Sudah tak terhitung berapa orang yang telah dihancurkan hidupnya sebab menghalangi keinginan anak tunggal dari keluarga Rekan itu.
"Awas kau, Erick! Hidupmu pasti hancur ... beraninya kau mencuri wanita yang sudah kuincar sedari dulu." batin Reka menguatkan kepalan tangannya, giginya bergeretak. Kebenciannya sudah mendarah daging.
Dia sudah menjadikan Erick sebagai tujuan barunya. Terfokus untuk membuatnya tak punya kehidupan yang bagus. Harus selamanya menderita.
"Tuan muda, kita sudah sampai!?" beritahu supir pribadinya, dia melihat majikannya itu kebanyakan melamun dan belum sadar dengan kepulangannya di rumah.
"Oh, sampai?!" balas Reka agak kaget.
Sang supir dengan sigap keluar lebih dulu untuk membukakan pintu untuk Reka. Nampak deret mobil lain di belakang, itu adalah mobil para bodyguard-nya. Biasa ... anak orang penting harus dijaga. Di masa lalu, sewaktu Reka masih kecil ... dia pernah diculik. Sejak saat itu, orang tuanya trauma dan melakukan penjagaan ketat untuk anaknya——sang pewaris tunggal.
Rumah Reka begitu besar. Halaman depannya saja memiliki luas hampir setengah lapangan sepakbola dengan ditumbuhi rumput hijau yang segar. Cocok untuk berpiknik ria bahkan menggelar konser.
Dan tentu saja fasilitas rumah dengan bangunan utama mencapai 5 tingkat dan bangunan-bangunan di sekitarnya itu begitu luar biasa. Hunian terintegrasi dengan teknologi, semuanya menggunakan perintah suara.
Fasilitas seperti ruangan lapangan golf mini, bioskop pribadi, bahkan lapangan pacuan kuda di halaman belakang. Masih banyak lagi sederet hal menyenangkan di rumah itu.
Siapa yang tak ingin tinggal di rumah, lebih tepat disebut istana itu? Semuanya pasti langsung mengiyakan jika ada ajakan untuk tinggal di rumah itu, walau sebagai pembantu.
"Apa papa belum kembali?" tanya Reka pada kepala pembantu perempuan yang menyambut kepulangannya.
__ADS_1
"Belum, Tuan muda. Kemungkinan Tuan besar kembali Minggu depan." balas pembantu perempuan itu menunduk sopan.
"Cih ... sampai kapan aku ditinggal sendiri? Padahal ada hal penting yang harus kuberitahu." desis Reka yang kesal melemparkan ranselnya ke sembarang arah. Langsung dipungut oleh si pembantu.
Dalam hati si pembantu, dia tak begitu suka dengan perangai anak majikannya itu. Reka membuat semua pegawai di rumah itu tak betah, namun godaan gaji yang jauh di atas UMR membuat mereka masih bisa bertahan.
Reka menuju ke ruang tamu, terus membaringkan diri di sofa. Malas beraktifitas, termasuk mengisi perutnya dengan makanan.
"Kau ... panggilkan ibunya Karamel!" perintah Reka terdengar uring-uringan.
Pembantu itu sontak kelabakan. Gugup dalam bertutur. Adapun mukanya yang seketika pucat. Dia masih diam di tempat, padahal Reka ingin kerja cepat. Terlebih mood-nya sedang jatuh.
"Kenapa? Kataku ... panggilkan ibunya Karamel!" Reka mengulang perintahnya dengan nada tinggi.
"B-begini Tuan muda. Bu Mala s-sudah tak ada di rumah ini lagi!?" beritahu pembantu itu gagap. Dia seketika menguatkan mental. Bentakan pasti langsung terdengar.
Reka terlonjak bangun, dia segera menatap pembantu itu murka. Meja tak bersalah pun jadi sasaran amarah.
"Apa kau bilang?" bentak Reka. Suaranya menggema ke seisi rumah, membuat ciut para pegawai.
"Bu Mala sudah kabur!?" Pembantu itu berkata dengan takut.
"Bagaimana bisa? Lalu, apa saja tugas para keamanan di rumah ini yang berjumlah puluhan? Akhhh ... Figo, Figo ... di mana kau?!" Reka meneriakan nama seseorang.
Tak berselang lama muncul pria dengan pakaian rapi berjas dan terdapat alat komunikasi di telinganya. Figo adalah pria berumur 30-an tahun yang bertubuh kekar dan tinggi hampir 2 meter. Dia adalah orang yang bertanggungjawab atas keamanan kediaman keluarga Rekan.
"Ya, Tuan Muda. Apa yang bisa saya bantu?" ucap Figo terdengar biasa. Pria dengan rambut bergaya bros itu melirik si pembantu. Dari melihat ekspresinya saja Figo sudah tahu akan mendapat amarah.
"Jangan basa-basi! Kenapa ibunya Karamel bisa kabur?"
"Maaf, Tuan Muda. Tapi, itu di luar perkiraan. Ada orang dalam yang menyelundupkan Bu Mala kabur dari rumah ini!" terang Figo yang masih bisa tenang.
__ADS_1
"Orang dalam? Siapa dia?"
"Saya pun tak mengetahui latar belakangnya."
"Bagaimana bisa tak tau jika dia memang orang yang bekerja di rumah ini. Ah, sialan ... kalian semua yang lalai." Reka merasa seluruh orang di rumahnya tak berguna.
Kemudian, datang seorang wanita dari pintu depan. Reka yakin kedatangannya akan meruntuhkan mood.
"Umm ... Tuan muda. Ada laporan dari Mel——"
"Aku tak peduli pada anak perusahaan kecil itu! Jual saja! Perusahaan itu hanya untuk main-main!?" teriak Reka. Wanita yang baru datang itu adalah sekretarisnya.
"Tapi, bagaimana dengan para karyawan?"
"Terserah pada orang yang membeli perusahaan itu!" ucap Reka acuh.
Puas marah-marah tak jelas, Reka kembali fokus. Memikirkan pembalasannya pada Erick. Dendamnya sudah terlanjur mengakar dalam.
"Figo, atur pertemuan dengan Heaven Mafia! Ada pekerjaan untuk mereka!" perintah Reka pada Figo.
"Tapi, Tuan muda ... k-kita harus memikirkan soal——"
"Biayanya ada di papa. Dia pasti mengizinkan. Bagaimana pun caranya, aku harus menghancurkan hidupnya Erick dan seluruh orang terdekatnya." sela Reka
Reka sudah berkehendak dan membawa-bawa nama Tuan besar. Figo tak ada kuasa untuk menolak, kastanya hanya bawahan.
"Baik, Tuan muda. Akan saya atur segera!"
"Kuharap cepat. Aku tak sabar melihat wajah putus asa orang itu!?" Reka menyeringai licik. Dia sudah membayangkan Erick yang bersujud di bawah kakinya untuk meminta maaf. Yah, dia menantikan itu.
Namun, tak semudah yang dikira. Erick sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi Reka yang menyewa kelompok mafia.
__ADS_1