
Dia, Kaisar sialan.
Umpat Hani setelah pergi tergesa-gesa dari kediaman Kaisar Ryu. Ia berharap tak akan menemui kaisar mesum itu lagi. Benar apa yang pernah Hani dengar dari rumor yang beredar.
Dasar Mesum, kejam, licik, Jahat. sudah seharian penuh hani mengumpat dalam hati Kaisar Ryu tanpa lelah. Membuat lily teman sekamarnya takut ingin menyapa.
"H-han, apa kau ada masalah?" Mulut lily akhirnya terbuka mengisi kesuraman kamar yang sepi sejak tadi.
Hani hanya menggelengkan kepalanya sambil memukul-mukul bantal miliknya dengan keras.
"Kau terlihat sangat kesal? Kau bisa bercerita padaku".
Lagi, hani hanya menggelengkan kepalanya dengan raut muka yang memberengut.
"Hei jangan kerutkan dahimu seperti itu. Kau bertambah jelek jika begitu" oh apa yang kulakukan. lili menutup mulutnya segera karena telah menyinggung hani dengan terang-terang an.
"Bu-bukan maksudku..."
"Tidak, kau benar. aku memang jelek". Hani mengendurkan kerutan didahinya. namun sorot matanya masih tetap dengan keadaan tajam.
"Oh maafkan perkataan ku, hani" lily segera berhambur memeluk hani." Aku aku.. ." Ia sangat menyesal telah menyinggung keadaan hani yang sedikit berbeda darinya, karena hanya warna kulitnya yang terlihat gelap.
"Tak apa, kau memang benar" Hani menenangkan lily dalam pelukannya.
"Sudah, sudah aku tak apa. Aku lebih suka kau berkata jujur dari pada berbohong padaku itu lebih baik".ucapnya masih menenangkan lily yang memiliki sifat sensitif jika melakukan kesalahan. Tangisnya akan langsung membahana.
Suara gaduh dari luar kamar menyadarkan mereka. Hani dan lily segera membenahi keadaan agar terlihat membaik.
"Oh sun apa kau melihat tadi. Panglima Hiro tampan sekali".
"Kau betul kita beruntung melihatnya tadi . Sungguh ia begitu mempesona maomi"Tambah sun dengan wajah berbinar .
"Kalian jangan berkhayal terlalu tinggi. belum tentu panglima hiro akan menatap pelayan rendahan seperti kita . Buang jauh jauh fikiran kalian itu". Ziu memporak-porandankan khayalan tinggi maomi dan sun dengan mulut pedasnya.
"Kau sungguh menyebalkan". Sun mendelik tak suka kepada ziu.
"Takdir siapa yang tau ziu. bisa saja Tuhan hadir dalam mimpinya dan memerintah panglima hiro untuk menikahiku besok secara tiba-tiba. Oh aku tak akan menolaknya". Maomi tetap dengan kepercayaannya yang tinggi.
"Haishh mimpimu mustahil sekali". Ziu kembali menimpali.
"Apa yang kalian bicarakan?" Hani tampak penasaran dengan gosip yang dibicarakan ketiga temannya.
"Oh hani, kami membicarakan panglima hiro yang sangat tampan. Dia kembali dari masa tugasnya". Maomi melanjutkan pujiannya.
"Ya, betul apa kau tak melihatnya. Dia begitu gagah dengan baju zirahnya". Sun kembali bersemangat membicarakan panglima hiro yang ia agung-agungkan.
"Kalian tahu betul. Seorang pelayan Kaisar ryu tidak akan mempunyai waktu istirahat secara bebas seperti kita. Apalagi harus menjadi pelayan pentingnya". Ziu menjawabnya dengan gamblang.
Mendengar orang penyebab kemarahannya disebut. Hani segera bangkit keluar dari kamar dengan bantingan pintu yang keras.
"Ada apa dengannya?"ziu heran dengan reaksi hani.
"Hei tunggu kau mau kemana?"lily segera berlari menyusul hani.
"Sepertinya, ucapanmu telah menyinggungnya?" Maomi menegur ziu yang telah banyak berbicara tanpa diatur terlebih dahulu.
__ADS_1
Begitupun ziu ia terlihat menerawang mengingat perkataannya. Sesekali menatap kepergian kedua temannya yang hilang di balik pintu.
Dimana letak kesalahanku? Bukankah yang kukatakan adalah kenyataan. Ziu hanya bisa bernafas pasrah.
...######...
Hani bertambah emosi. Ia ingin sekali menumpahkan kemarahannya kepada kaisar kejam itu. Tetapi apa yang bisa ia perbuat. ia hanyalah pelayan rendahan yang tak memiliki kekuasaan.
"Hani tunggu ! " lily tergesa-gesa berlari menyusul hani . Belum sempat hani berpaling melihat keberadaan lily . Tubuhnya tiba-tiba membentur benda keras tanpa bisa di hentikan.
Bughhh
akh...
"Oh tuhan". lily segera mendekat membantu hani untuk berdiri .
"Apa kau tak apa?" Tanya lily pada hani.
"Ya, aku baik".
"Maaf. maafkan teman saya tuan". Lily membungkuk hormat kepada sosok didepan hani.
Sepertinya bukan kayu atau batu yang hani bentur melainkan sosok pria yang hani yakini sedang memakai baju zirah dengan gagahnya.
Sepertinya dia tengah memperhatikanku. Hani segera membungkukkan badannya meminta maaf sampai hani menatap wajah pria itu.
Keterkejutan memenuhinya saat ini.
Bukankah di-dia? .hani tergugu dalam diam.
Tidak berlangsung lama ia berpindah menatap hani yang langsung bersiborok dengan mata biru yang terasa familiar menurutnya.
Dimana aku pernah melihat mata itu? Indah sekali seperti lautan lepas. Gumamnya dalam hati.
"Tuan hiro? Apa tuan baik-baik saja?"lily menyadarkan Panglima hiro dari lamunannya.
"Hm aku baik. Kurasa aku harus segera pergi".
"Ah ya, silahkan panglima". Lily tersenyum malu melihat panglima hiro yang berlalu pamit.
"Ah panglima hiro sungguh tampan. Jika harus setiap hari aku bisa melihatnya. Aku rela menjadi pelayan istana seterusnya".
Berbeda dengaan hani . Ia bertambah melototkan matanya tak percaya. Panglima hiro? di-dia orang yang berada dihutan waktu itu. Tidak! itu tidak mungkin. Lalu siapa pria bertopeng yang ia sebut tuan? Oh tidak. tidak. Aku menyelamatkan orang yang salah. Kaisar sialan!.
"Han apa kau baik-baik saja?" Tanya lily karena hani terdiam sedari tadi.
"Ya aku baik" . Tetapi tidak untuk hari-hari kedepan . Firasatku mengatakan akan ada sesuatu yang menantiku. Batin hani dalam senyum kecemasan.
********
-Pavilliun Sakura
Malam telah larut .angin berdesir melewati bambu-bambu hijau membawa udara sejuknya malam. Serta bunga sakura yang berguguran menambah harumnya penciuman.
Halamam itu selalu tampak sepi . Hanya didiisi dengan kecipak air akibat ulah ikan-ikan yang dibiarkan hidup dalam kolam.
__ADS_1
"Dia tak datang kembali . Kurasa ia sudah tau kalau aku melihatnya". Kaisar ryu memejamkan matanya menikmati kesendirian ditengah gazebo.
"Ibunda . Apa ibunda dan ayah bahagia disana? dan kapan anakmu yang kejam ini bahagia? Ryu ingin ibunda mendatangkan ia kembali. Lama sudah ryu tidak pernah tidur senyenyak kemarin ibunda. Dan Bisakah ryu menyebutnya sebagai Dewi-nya Ryu ?" Kaisar ryu tersenyum tipis mengingat pertemuan yang begitu terelalu singkat dengan dewinya. Ia tak akan melupakannya.
Angin berhembus sedikit berbeda sepertinya akan ada yang datang. kaisar langsung terbangun dari posisi tidurnya. Ia membuat gazebo kembali kotor dengan menghempaskan lengannya. Secara cepat ia langsung menghilang menyatu dengan kegelapan di balik semak dahan pepohonan. Ia ingin tau siapa gerangan yang akan datang. Akankah dewinya kebambali? Semoga saja harapnya membatin.
Hani tampak begitu lelah. Emosi dan kecemasan bercampur rata saat ini. Ia langsung menghempaskan bokongnya di gazebo. Sesekali memeriksa area sekitar. Ia takut seseorang menemukannya. Apalagi harus lari seperti kemarin malam karena ada pengawal yang berpatroli. Ia tak ingin ketahuan.
Sepertinya aman. Ia mengeluarkan tusuk rambut pemberian ibunya. Rasanya terlalu sia-sia jika tidak hani pergunakan. Beruntung sekali pamannya dulu pernah mengajarinya bagaimana cara bermain seruling dengan benar.
"Sepertinya ini sama saja dengan seruling". Hani tersenyum sumringah.
Satu tiup
Dua tiup.
Hanya untuk memastikan serulingnya masih bisa berfungsi. Sepertinya tak ada masalah. Kakak memang hebat. Benar apa yang dikatakan ibu. Kak ryeon kau memang kakak terbaik seumur hidupku. Semoga kau bahagia diatas sana. Hani tersenyum menatap langit berbintang sebentar. Dan segera melanjutkan tiupan serulingnya yang tertunda.
Ia sangat mahir bahkan terbilang baik sehingga dapat membuat Kaisar ryu terlena dalam persembunyiannya. Ia meneliti wajah dewi-nya yang tertutup cadar putih tipis . Guratan keindahan yang terpancar dari wajah cantik itu tak dapat ditutupi.
Siapakah dirimu wahai dewi? Apakah kau memang dikirim oleh ibunda untuk menemani kekejaman hidupku? Jika iya, kumohon jangan pernah pergi dari diriku. Kaisar ryu tersenyum simpul menutup mata menyandarkan punggungnya di batang pohon. Ia ingin menikmati permainan seruling dewi-nya untuk waktu yang lama.
Namun itu tak pernah terjadi. Permainan seruling itu tiba-tiba terhenti. Dan ia mengernyit tidak suka.
Sepertinya ada yang tidak beres. Dan ya, tak jauh dari perkiraannya mata biru itu telah menatapnya di antara kegelapan malam.
Sepertinya tempat persembunyianku telah ia ketahui. Dewiku yang hebat. Ia segera turun dengan cepat ingin menyapa sang dewi.
Melihat benda berkilau diantara dahan pohon yang gelap. hani mencurigai ada sesuatu disana. Ia segera menghentikan permainan serulingnya. Dan tak butuh waktu yang lama ia sadar. bukan hanya dirinya yang berada dalam halaman ini. Ia harus segera pergi sebelum orang itu menangkapnya. Dan itu bisa berbahaya bagi penyamarannya.
Belum sempat dirinya lari pergelangan tangannya sudah ada yang mencekal. Sosok pria bepakaian hitam tak lupa dengan topek peraknya yang mengkilap mencegah langkahnya. Sepertinya ia harus bertindak.
" Kau tak bisa pergi". Cegah kaisar ryu ia memegang pergelangan tangan dewi-nya dengan erat. Sampai matanya melotot atas tindakan yang terjadi selanjutnya. Rupanya dewi kecilnya bukan hanya dalam keindahan rupa saja yang dimiliki. melainkan keahlian beladiri yang begitu baik.
Pantas saja dewi kecilnya bisa menyelamatkan dirinya dihutan waktu itu.
Pertarungan sengitpun terjadi dengan hanya kaisar ryu yang menangkis serangan tanpa melukai. Ia tak ingin menyakiti dewinya.
"Kau begitu ahli juga rupanya". Puji Kaisar ryu pada dewinya.
"Terimakasih atas pujian tuan". Dan disaat itu celah pun datang. Kaisar ryu tertegun sejenak dari fokusnya. Mendengar suara dewi-nya. disertai senyuman mempesona dari bibir merah yang membuatnya tergoda.
Ketika ada celah. Hani langsung meloloskan dirinya. Ia berhasil pergi dengan cepat. Namun, sesuatu yang tak ia sadari tertinggal.
Sial, kaisar ryu tampak frustasi karena terlena hanya dengan senyuman dewi-nya saja ia bisa lengah.
Aku harus menemukannya kembali. Matanya tampak berkilat tajam. namun, hatinya dalam kesenduan. Ia menatap tempat terakhir dewi-nya menghilang sampai benda berkilau menjadi titik pusatnya.
"Bukankah ini miliknya?". Kaisar ryu mengambil tusuk rambut dewi-nya yang terjatuh tanpa disadari.
" Ini? apakah ini seruling yang ia pakai tadi? "Kaisar ryu mengamati tusuk rambut dewi-nya yang mempunyai lubang-lubang kecil seperti lubang seruling.
"Indah seperti pemiliknya" Takdir memihakku dewi kecilku. kau akan kembali dengan segera. Jikalaupun tidak kupastikan orang yang telah memasuki wilayahku tak akan pernah bisa keluar tanpa seizin dariku. Kaisar ryu tersenyum menyeringai mendapatkan barang berharga yang akan membawa dewinya kembali datang.
__ADS_1