
☝️Visual Chen guys
"Baiklah kalo begitu titip salam untuknya, dariku". Sebuah kejutan tidak terduga. Hani langsung terkejut mendengar perkataan seorang panglima Hiro menitipkan salam kepada seorang pelayan seperti Lily.
Apakah dia menyukai Lily?
... ***************...
"Ta-tadi, Ap-apa yang kau bicarakan bersama Panglima Hiro?. Jika aku boleh tau". Cicit Lily seperti bisikan. Ia sangat malu karena telah kedapatan mengintip panglima dengan jelas oleh Hani.
Hani tau Lily sangat menyukai panglima. Ia menyadari nya sejak awal Lily menceritakan bagaimana sosok panglima Hiro yang sangat di puja dan didamba. Mata polos Lily tidak dapat menyembunyikan hal itu .
Dan masih terfikir kan olehnya juga, mata elang yang sempat mengawasinya tajam ketika ia Berbincang dengan panglima Hiro tadi.
"Hani, apa kau mendengarkanku?" Lily sangat resah ia takut panglima Hiro kecewa mengetahuinya suka mengintip. Bukan, ia hanya tidak sengaja melakukan itu.
"Lain kali jangan pernah mengintip dikawasan kediaman kaisar lagi. Jika kaisar tau atau orang lain mengetahui nya. lalu melaporkannya kepada kaisar. Aku tidak dapat memprediksi kepalamu utuh atau tidak" Jelas Hani.
'Glek '
Lily menelan ludah tercekat. Ia tak dapat membayangkan kepalanya terpenggal akibat mengintip sembarangan . Lagipula ketika ia mencari Hani kekediaman kaisar, ia telah melewati pengawal penjaga kediaman kaisar. Bukankah itu sudah termasuk izin jika ia boleh memasuki kediaman kaisar.
"Ta-tadi itu aku - aku hanya tidak sengaja melihatmu dengan panglima. Kumohon maafkan aku. Aku hanya ingin memanggil mu tadi untuk segera kedapur istana karna disana sedang membutuhkan bantuannmu. Kumohon jangan laporkan aku kepada kaisar". Lily sangat was-was ia takut dipenggal . Jika itu terjadi tamatlah riwayat nya.
'Ha ha ha'
Hani tak dapat menyembunyikan kegeliannya lagi ketika melihat Lily memohon kepadanya dengan mata berkaca-kaca ingin menangis
"Mengapa kau tertawa? Hani, kau membohongiku? "Wajah Lily kini berubah cemberut. Ia tak menyangka Hani mempermainkan nya.
Cukup sudah Hani tidak kuat. Ia memegang perutnya, sakit karna tertawa. Lagipula ia begitu puas melihat wajah Lily yang sudah memerah Menahan malu.
"Baiklah sudah cukup" Hani menghembuskan nafas nya pelan."lagipula Aku juga tidak membohongi mu. Lain kali jangan pernah mengintip sembarangan atau mencuri dengar pembicaraan seseorang karena nyawamu bisa menjadi taruhannya" peringat Hani.
Lily langsung mengangguk mengerti ia paham betul aturan istana.
"Aku tak akan mengulangi nya lagi. Janji?"
Hany tersenyum mengiyakan.
"Ah aku melupakan sesuatu" .ia mengingat pesan panglima .
"Apa? "Lily menatap Hani penasaran.
"Panglima Hiro menitipkan salam untukmu".
Lily melotot tak percaya.
"benarkah? Oh tuhan".
Ia langsung memeluk Hani erat sesekali memekik girang.
'Ha ha ha'
" aku sangat bahagia". Ucap Lily tidak mengkhawatirkan Hani yang tidak nyaman dipelukannya .
...************...
Ruang perjamuan istana sangat ramai . Bukan karena tamu yang sangat banyak. Melainkan hanya beberapa orang yang bercengkrama tidak masuk akal.
"Dasar gentong, kau masih kecil namun, nafsu makanmu seperti raksasa".
"Berhenti mengatai adik ku, lelaki palsu! Kau ingin pisau ini memotong barang pribadi mu agar kau selamanya menjadi lelaki palsu hah?". Seorang gadis berpakaian lelaki terlihat kesal melihat lelaki didepannya yang mengapit kipas dengan sangat anggun menghina adik satu-satunya.
"Coba saja jika kau berani cheche". Senyum menantang tersinggung dibibir tipis lelaki itu.
"Kau ...." gadis bernama cheche mengangkat pisaunya bersiap melempar pisau makan yang ia pegang.
Sedangkan orang satu-satunya yang menjadi topik masalah. Tidak terlihat tersinggung sama sekali . Ia hanya bisa menonton sesekali memindahkan piring yang sudah kosong didepannya untuk ditumpuk menjadi satu dan mengambil kembali piring yang berisi makanan. Seperti tidak makan berbulan-bulan ia menikmati jamuan yang dihidangkan kaisar Ryu tanpa menghiraukan sekitar.
"Ini enak sekali". Bibir mungilnya bergumam ia tak yakin seseorang mendengar nya. Berbeda dengan kaisar Ryu yang duduk di singgasana yang berada jauh didepan. Ia terlalu peka.
__ADS_1
"Benarkah? Jika kurang. Kau bisa menambah nya lagi chen". Kaisar Ryu menatap chen- adik cheche yang berusia 10 tahun.
"Ti-tidak yang mulia . Ini sudah cukup".Chen segera menyudahi makannya dengan berat hati. Ia tak ingin membuat urusan bersama kaisar Ryu. Cukup dengan keseharian nya saja ia sudah lelah. Namun, menikmatinya.
Mendengar seruan chen. Beberapa orang yang berada ditempat itu langsung menyudahi makannya.
"Mengapa kalian semua berhenti? setelah ini masih ada beberapa makanan yang akan dihidangkan kembali. Bukankah perjalanan kalian sangat panjang untuk kembali kesini. hingga menguras tenaga begitu banyak. Betulkan Ichiro?" Kaisar Ryu memamerkan senyuman geli nya pada salah satu pria yang sejak tadi terdiam khidmat pada makanannya.
Wajahnya mendongak menatap kaisar Ryu yang mengajaknya berbicara.
"Kurasa begitu yang mulia".
"Tetapi, Chen sudah kenyang yang mulia . Terimakasih atas sambutan jamuan kami kembali". Cengir chen membuat matanya menyipit dan menampakkan giginya yang bersih terawat.
Berbanding terbalik dengan si pengapit kipas. Ia terlihat mengerutkan alisnya nampak berfikir. "Apa ini?" Ia menemukan bau serbuk hama tanaman dalam wadah masakan yang ia makan.
"Oh tidak, Chen sudah berapa mangkuk bubur ayam yang telah kau makan?" Suara pengapit kipas yang awalnya gemulai kini nampak terdengar kejantanan nya jikalau ia seorang lelaki.
"Kurasa 10 mangkuk kak kei". Chen menjawab pertanyaan kei sangat polos.
Mendengar hal itu Kei bertambah melotot . "Apa?! Kau memakannya 10 mangkuk dan tidak bereaksi apapun dalam tubuhmu. Sungguh kau benar-benar keluarga Setan Merah".
"Tutup mulutmu Kei. Jika tidak pisau ini yang menutupnya" . Cheche menatapnya horor sambil mencengkram pisau ditangannya.
"Ck lalat mana yang berani sekali meracuni tamu pentingku". Kaisar Ryu menyeringai senang menatap Chen. Ia tak habis pikir dengan kekebalan tubuh Chen yang sangat luar biasa. Jikapun ia yang menelannya mungkin hanya akan berefek sakit perut saja tetapi ini, anak berumur 10 tahun yang tidak mengalami efek apapun. Sungguh hebat!
"Kau berhasil menjadikan nya setan kecil terhebat Ichiro". Kaisar Ryu menatap Ichiro puas.
"Ya, itu aku". Hanya sedetik Ichiro menanggapinya dengan senyuman.
To tok tok.
"Yang mulia hidangan penutup telah tiba". Suara penjaga pintu memberitahu kan kedatangan pelayan istana yang membawa makanan penutup keperjamuan.
Para pelayan berbaris rapi meletakkan hidangan penutup satu persatu lalu undur diri. Dan ketika tiba pada waktu Hani meletakkan hidangan terakhir disamping Kaisar Ryu.
Chen berseru girang.
"Olimpus kau kah itu? Aku sangat merindukanmu". Hanya sepersekian detik Chen telah memeluk Hani sangat erat. Ia bisa merasakan tangan kecil Chen melingkar di pinggangnya.
Sedangkan cheche, kei dan Ichiro terkejut mendapati penampakan didepan mereka saat ini. Wajah coklat bak lumpur dengan mata biru secerah samudera.
Ha ha ha. Kei tertawa geli memegangi perutnya sesekali menutupi mulutnya dengan kipas agar terlihat anggun.
Disampingnya, cheche menganga tidak percaya . Baru kali ini diistana kerajaan ia menemukan seorang pelayan istana buruk rupa melebihi dirinya yang tidak suka berdandan.
Sedangkan Ichiro keterkejutan nya hanya sepersekian detik ia langsung berubah ke mode batunya . Hanya saja matanya sangat awas- tajam meneliti Hani.
"Olimpus aku merindukan mu".
Hani tersadar dari lamunannya. Setelah mengamati para tamu yang begitu unik. Auranya berbeda-beda tetapi tidak dapat mengalahkan aura dominan dari kaisar Ryu.
"Ha-hamba bukan olimpus". Hani menguraikan pelukann Chen dipinggangnya namun tidak bisa. Apa apa an bocah ini?.
Hani tidak dapat menjauhkan tangan Chen dari dirinya. ia ingin segera berlalu dari hadapan kaisar Ryu. Dari ekor bola matanya ia sudah tau betul kaisar Ryu tersenyum senang melihatnya tersiksa karena pelukan erat bocah tersebut.
"Oh kalian belum mengetahui sesuatu. Dia tameng baruku". Kaisar Ryu tersenyum puas ia bisa melihat cheche yang meradang, kei yang kembali melotot tidak percaya dan Ichiro yang terlihat penasaran.
pandangan apa itu? Baru kali ini aku melihat ichiro tertarik.
Kaisar Ryu mengalihkan pandangannya kearah Chen yang masih betah memeluk Hani tetapi wajahnya telah menengok ke arahnya.
"Yang mulia berarti dia bukan olimpus kucing besar coklatku?" Chen bertanya polos sedangkan Hani yang mendengar nya langsung meradang.
Ia menyamakan aku dengan kucingnya? Hah
"Olimpus bukan kucing chen . Dia singa bukan kucing". Bantah cheche
Apa?! bocah sekecil ini telah memelihara seekor singa? Hani tidak habis pikir dengan orang tua bocah satu ini yang telah membiarkannya memelihara hewan buas begitu saja.
"Ya, betul. Dia bukan olimpus Chen". Kei menambahi ucapan cheche.
Chen mendongak menatap Hani .
"Benarkah kau bukan olimpus? "
__ADS_1
Tanya Chen dengan raut polosnya.
Hani menganggukkan kepalanya lemah. Sepertinya salah satu tulang belakang nya remuk. Pelukan Chen terlepas. Ia kembali ketempatnya semula dengan raut wajah lesu.
"Lain kali jaga sikapmu Chen . Dia manusia bukan olimpus". Terang cheche pada Chen.
"Ya kakak".
"Dan kau tameng baru". Tunjuk cheche pada Hani dengan pisau. "Apakah kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik? Apakah kau sudah mencoba makanan disini sebelum dihidangkan?" Serobot cheche menghampiri Hani yang terdiam kaku. "Jawab pertanyaan ku. Atau kau mau pisau ini yang menjawabnya". Cheche mengangkat dagu Hani tinggi-tinggi dengan bantuan pisau di tangannya.
"Jawab!" bentak cheche. Hani bisa merasakan keringat dingin mengalir di tubuhnya. Baru kali ini ia ketakutan. Mungkin karena ia berada di kandang singa dengan berbagai macam singa didalamnya. Ia tak dapat melakukan apapun.
Kaisar Ryu cukup senang dengan pertunjukan kedatangan mereka seperti ini. Ia ingin tau seberapa kuat tameng barunya menghadapi kemarahan cheche karna chen-adiknya telah memakan bubur beracun.
"Su-sudah hamba sudah mencobanya.
Semua makanan telah saya pastikan aman dari racun". Hani memantapkan jawabannya.
"Oh sudah?" Cheche memiringkan salah satu alisnya. Menyeringai tipis. "Kalau begitu bisa kau coba satu kali lagi bubur ayam yang kau katakan aman".
Hani mengangguk pasrah .Cheche mengambil sesendok bubur ayam untuk diberikan kepada Hani.
"Makan!", perintah nya tak terelakkan.
Ini? Hani mengerutkan alisnya tak percaya. Bukankah sebelum kesini aku sudah mencobanya dan tidak ada racun sama sekali . Lalu apa ini? Mengapa ada racun hama tanaman dibubur ini?
"Cepat makan!". Cheche memaksa ia tidak lupa menodongkan pisau pada leher Hani kembali.
Glek
Hani menelan ludahnya pahit. Baiklah akan kubuktikan bahwa aku melaksanakan tugas ku dengan baik.
Hani merasakan buburnya melewati kerongkongan nya dan
Ting
Sendok yang ia pegang terjatuh sedangkan tubuhnya goyah. Ia mencari benda untuk menumpu. Ia memegang kursi disampingnya untuk berdiri. tidak menghiraukan seseorang yang mendudukinya beraut cemas.
Ada rasa kesal di wajah kaisar Ryu saat ini. Ia dapat melihat dari pantulan gelas didepannya jika Hani tengah memegangi kursi bagian belakangnya untuk menumpu.
Dasar bodoh mengapa ia tidak melawan Dengan kata kata pintarnya seperti dulu ketika pemilihan Tameng. Kaisar Ryu mengepalkan tangannya dibalik pakaian yg ia kenakan. Ada apa dengan perasaan ku ini? . Sial! Aku harus segera menyelamatkan nyawanya sebelum terlambat.
Belum sempat kaisar Ryu berdiri ia telah didahului oleh Ichiro yang telah melesat cepat menangkap Hani yang hampir terjatuh.
Hap. . .
'Dapat' Ichiro mendapatkan tubuh Hani sebelum jatuh ke lantai.
Aku harus segera mengobati nya. Ichiro lekas melesat pergi meninggalkan tempat perjamuan. Membawa tubuh Hani dalam pelukannya. Tanpa mengetahui para mata orang orang yang berada dibelakang nya ada yang terheran, marah, melotot dan datar.
Chen menatap datar peristiwa itu seperti halnya tidak terjadi sesuatu apapun. Bagai angin lalu yang hanya sekedar lewat saja. Ia Lebih tergiur dengan makanan penutup yang baru saja tiba. Itu adalah hal biasa bukan? Untuk anak anak yang masih polos seperti chen. Bahkan dari sangat polosnya Chen tidak pernah tau apa yang selalu kakaknya- Ichiro campur ketika ia hendak makan.
...*******...
"Bertahanlah" gumam Ichiro lirih. Ia segera membawa hani kerumah pengobatan. Sesekali menatap Hani yang kesakitan.
Dalam redupnya pandangan serta lemasnya tubuh . Hani masih bisa merasakan seseorang menolongnya . Tapi siapa? penglihatan nya memburam tetapi Hani masih bisa menangkap jelas wajah orang yang menolongnya. Seperti paman.
"Paman, tolong aku" ujar Hani disela-sela kesadaran yang masih ada. Ia mencengkram kuat tubuh yang menggendongnya. Menyalurkan rasa sakit dalam tubuhnya akibat racun tersebut. Dan tidak menyadari bahwa sudut matanya telah mengeluarkan cairan bening.
Ia menangis dan Ichiro begitu sangat tergesa hingga menambah kecepatannya menuju rumah pengobatan.
...********...
Dobrakan pintu rumah pengobatan mengejutkan seluruh mata para tabib maupun perawat serta paman Lee yang nampak marah melihat pintu rumah pengobatan telah hancur terpental.
"Berani-beraninya, sia-Ichiro kau?"paman Lee sangat terkejut mendapati pemuda yang ia kenal berada di hadapannya sekarang sedang menggendong seseorang. belum sempat paman Lee menanyakan gerangan siapa seseorang yang Ichiro gendong Ichiro sudah menyelanya
"Paman , tolong bantu aku mengobati nya." Perintah ichiro telak. Sedangkan Hani yang berada di pangkuannya. Tiba-tiba tiba mengeluarkan busa kuning dari mulutnya.
"Oh astaga hani?!" Paman Lee terkejut bukan main mendapati Hani yang digendong oleh Ichiro.
Tubuh Hani bergetar hebat sedang kan mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan busa bahkan Sekarang berganti dengan darah.
Ichiro mendekati telinga Hani . Ia menggenggam tangan Hani begitu erat sebelum berbisik.
__ADS_1
"Kumohon bertahanlah "
Itu yang Hani dengar entah mimpinya atau kesadaran nya. Seperti angin segar yang tiba-tiba hadir menyemangati Hani. Ketika ia telah berada dikegelapan yang begitu jauh.