Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
10. Serangan Balasan


__ADS_3

"Kenapa bisa begini, sial*n." Umpat seseorang yang sedang mengawasi pertandingan dari luar lapanagan. "Bukannya tadi mereka sudah terdesak? Lalu dengan pelangaran barusan tidak membuat jatuh mental mereka?"


Seorang pemain menghampirinya. Pemain itu mebawakan air minum kepadanya. "ini, bos. Silahkan diminum,"


"Kenapa jadinya seperti ini?" tanya orang itu sambil mengambil air meneral yang diberikan untuknya.


Dengan sedikit takut pemain itu menjawab. "Menurut saya, ini semua karena pemain yang baru datang itu bos."


"Bangs*t, kalian semua payah. Hanya karena satu pemain kalian tunduk? Apa kalian pikir itu logis," Teriak pria itu melemparkan air tersebut sampai membasahi semua yang ada di depannya, termasuk pemain yang memberikan minuman barusan. "Kalian semua, kemarilah!"


Pria itu menunjuk semua pemain pengganti yang ada di sana agar berbaris menghadapnya. "Kalian bocah tengik, kenapa bisa seperti ini?"

__ADS_1


"Ma,maaf, bos. Tapi benar kata dia barusan, semuanya karena satu pemain itu. Semenjak dia bermain di babak kedua, kekuatan dan momentum tim lawan menjadi lebih baik," Jelas salah satu pria di antara mereka dengan gelagapan di hadapan sang bos.


Fakta itu tidaklah salah. Sebab, sebelum Bira bermain, tim mereka dapat unggul 2 angka dari tim lawan. Namun ketika peluit babak kedua dibunyikan dan Bira bermain, tim lawan menjadi begitu agresif. Mereka yang mengira lawan akan bermain aman dibuat kewalahan dengan permainan mereka di babak kedua. Terlebih ketika Bira berhasil mencetak satu gol ke gawang mereka, tim lawan malah menjadi semakin agresif.


"iy, iya, bos. bener. Sewaktu dia berhasil cetak gol pertama tadi, tim mereka jadi lebih ganas. Mereka seperti tidak peduli dengan pertahanan dan menyerang membabi buta. Tapi ternyata yang mereka lakukan adalah menggempur kita dan membalikkan momentum pada mereka." Terang seorang pemain yang sedang membenarkan sarung tangannya, jelas bahwa dia adalah kiper tim itu.


"owh, jadi kalian bilang orang itu penyebab semuanya? bukan karena kalian tidak becus!" Sarkas pria itu dengan nada tinggi. Untungnya tidak terlalu terdengar oleh orang lain, karena suara pertandingan yang sedang berlangsung suaranya lebih kencang. "Hahahaha,, kalian benar-benar hebat. Bajing*n hebat yang tidak berguna!"


"Cih, aku tidak peduli akan hal, itu. Ku hanya butuh kalian menang. Ingatlah, bayaran kalian akan kuberikan bila kemenagan di pihak kalian. Jika tidak, jangan harap sepeserpun uang dariku." Titah pria itu dengan begitu kejamnya.


"Hei, tapi bukannya kau bilang akan membayar kami?" tanya sang kapten tak terima. Dia ingin sekali memukul wajah pria itu, tapi dia tidak bisa melakukan begitu saja. Pria itu adalah Wengky Padasari. Anak dari pejabat di negara ini, sekaligus donatur tetap kampus. Jadi, bila membuat masalah dengannya, maka sama saja seperti mencari ribut dengan polisi.

__ADS_1


"Heh, jika kamu ingin uangmu, maka menangkan pertandingan ini untukku!" Tanpa berkata-kata lagi, Wengky duduk di kursi terdekat dengan menghiraukan tatapan kebencian dari semua anggota tim. Mereka begitu kesal dengan sikap sombong dan sok mengatur Wengky. Tapi mereka tahu tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menurut. Samg kapten yang tahu perasaan mereka, berinisiatif menyemangati timnya agar perasaan mereka tidak terus memburuk. Namun belum sempat menyelesaikan perkataannya, sang kapten dibuat kaget ketika melihat ke lapangan futsal.


"Apa yang terjadi pada mereka?" Tanyanya entah pada siapa.


"Nampaknya mereka sudah sangat kelelahan, kapten." analisa salah satu anggotanya yang berdiri disebalahnya. Dan benar, para pemain mereka nampaknya begitu kelelahan. Melihat keadaan begitu miris, sang kapten memutuskan untuk meminta time out kepada wasit.


Begitu peluit time out terdengar, semua pemain berkumpul di masing-masing kubu.


"Ehm, ini buat kamu." ucap Cia memberikan sebotol air minum kepada Bira dari luar lapangan dengan malu-malu. Sontak satu tim yang mendengar itu kaget. Bahkan Bian yang masih kesulitan berdiri, secara ajaib mampu berdiri tanpa bantuan orang lain.


Semuanya menatap ke arah yang sama, yaitu Bira dan Cia. Satu pertanyaan dalam benak mereka semua, "Siapa wanita barusan?"

__ADS_1


__ADS_2