
Tanpa pikir panjang, Clara menampar wanita itu dengan sekuat yang ia bisa.
Plak, satu tamparan itu tepat mengenai pipi kanan wanita itu. Bahkan sebuah warna merah membekas di sana.
"Dasar jal*ng!" Bentak Clara dengan penuh emosi. Untungnya mbok Inem segera menahan tubuh Clara yang masih ingin menampar wanita di depannya itu.
Namun anehnya, wanita itu bukan kesakitan melainkan tertawa dengan nada merendahkan. Tawa itu melengking kencang sampai mbok Inem takut mendengarnya.
"Kenapa?! Apa barusan kata-kata ku sebuah fakta?" Tanpa rasa takut wanita itu mendekati Clara yang sedang sangat emosi. "Gak terima? Sini tampar lagi."
Wanita itu menepuk-nepuk pipi bagian lain di depan wajah Clara. Mbok Inem tentu dengan sigap menahan tubuh Clara. Dirinya tak mau Clara kelepasan sehingga mungkin membunuh orang di sana.
"Non, sabar, non. Sabar." Bujuk Mbok Inem dengan tenaga fokus menjauhkan Clara dari wanita itu.
__ADS_1
"Lepas, mbok. Biar aku kasih pelajaran wanita jal*ng itu! Kalau perlu biar kubunuh sekalian saja dia."
"Nyebut, non. Nyebut. Gak gini cara nyelesein ini. Kalau non bunuh dia, gimana perasaan ayah non? Nyonya pasti bakal sedih banget, non." Setelah mbok Inem menyebut kata nyonya, tenaga Clara mulai menurun.
"Mbok,,," Clara berbalik arah dan memeluk mbok Inem kembali. Isak tangis kembali bergulir dalam pelukan mbok Inem. Dengan pelan, mbok Inem mengelus kepala bagian belakang Clara.
"Cih, buang-buang waktu saja." Wanita itu masih setia memperhatikan tingkah Clara dan mbok Inem. "Hei, Clara! Biar ku beri kamu satu saran. Ceraikan suami mu secepatnya. Biarkan suami mu bahagia. Tentunya bahagia dengan ku. Jangan terus menerus membebani hidupnya. Kamu tahu itu kan?"
Setelah mengatakan hal itu, wanita itu masuk kembali ke dalam kamar. Dia menghiraukan tatapan mbok Inem yang sangat tidak suka kepadanya. Tak lupa pula ia mengunci pintu kamar agar tak ada yang bisa masuk ke dalam.
"Hiks,,, sa, sakit, mbok." Lirih Clara dengan penuh penghayatan. Bukan luka fisik yang ia terima. Tapi sebuah luka penghianatan yang kini ia rasakan.
"Non, dengerin mbok." Mbok Inem melepaskan pelukannya dan menatap wajah Clara. "Mbok paham, non. Paham betul perasaan, non. Tapi cukup, non. Cukup sampai di sini melukai perasaan, non. Setidaknya jangan buat mbok merasa terluka juga, non."
__ADS_1
Tatapan mata Clara langsung tertuju wajah sendu mbok Inem. Baru ia sadari bahwa ia masih mempunyai banyak orang yang menyayanginya seperti mbok Inem. Mereka adalah orang yang juga merasa sakit ketika dirinya yang mengalami hal itu. Tangan Clara menyeka air mata mbok Inem.
"Makasih, mbok. Sekali lagi terimakasih." Seutas senyum melengkung di wajah Clara. Bukan berarti ia mudah melupakan kesedihannya. Hanya saja Clara tak mau membuat orang di sekitarnya ikutan bersedih karenanya.
"Hehe, gitu dong, non. Kalau senyum kan jadi cantik pake banget."
"Loh berarti daritadi gak cantik dong?"
"Hahahaha,,, Yaudah mending kita turun ya, non. Makan dulu."
"Ya,,,,"
Bugh,,,,
__ADS_1
"Non,,,,!!!!!! Pak satpam! Kang Adji!!!! Tolong,,,,,"