Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
21. Mabuk Ketampanan


__ADS_3

"Dasar bucin," Ucap Bira ketika menyaksikan penuturan cinta Adelard di depan umum. Namun tiba-tiba seorang wanita menabrak ia dan membuat si wanita terjatuh.


"aw," Wanita itu mengaduh kesakitan karena benturan dengan lantai.


"Kau tak apa?" Tanya Bira hendak menolong wanita itu berdiri. Namun ternyata uluran tangannya ditolak mentah-mentah oleh wanita itu. Wanita itu lebih memilih berdiri sendiri dan langsung berlari meninggalkan Bira.


Sedangkan Donny hanya menahan tawanya melihat tangan bosnya yang tidak dapat meraih wanita itu.


"Cuih, dasar wanita sombong." ucap Bira asal agar tidak terlalu terlihat memalukan. Dia melirik ke arah Donny yang masih cekikikan kepadanya. "Hei, gajimu mau ku potong?"


"Tidak, Tuan." dengan secepat kilat Donny merubah eksperesinya menjadi datar.


"sudahlah, aku bosan. lebih baik langsung menuju tempat acara saja."


"baik, tuan."


Akhirnya mereka berdua melanjutkan langkahnya menuju tempat acara utama diselenggarakan. Terdengar lantunan lagu nan merdu menyambut kedatangan mereka. kini, tidak ada seseorang yang menjaga atau menghalangi mereka hanya untuk sekedar meminta identitas. Sepanjang mata memandang hanya terlihat puluhan tamu sedang menikmati pesta.


"Hem, tuan. Apakah ingin ke tempat VIP?" tanya Donny berinisiatif untuk menjauhkan bosnya dari keramaian dan kebisingan yang ia kira menganggu bosnya.


"Untuk apa?"


"Agar lebih nyaman saja, tuan."


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Yah, pesta ini terlalu bising, Tuan. Jadi lebih baik kita ke ruangan VIP."


Bira hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas ajakan Donny. Dan sedetik kemudian, sepasang kekasih mendekati mereka berdua.


"Tuan Donny!" sapa si pria begitu jarak mereka sudah cukup dekat. Pria itu menjulurkan tangannya ke arah Donny.


"Oh, tuan Aledra. Lama tidak bertemu." sambut Donny tak lupa dengan senyuman manis ala-ala pebisnis.


"Hahahaha, iya terakhir kali kita bertemu kalau tidak salah di Kuala Lumpur. Dalam acara apa itu yah? kok saya lupa."


"Hem, kalau tidak salah dalam acara opening ajang perlombaan asia tahun lalu."


"Wah, sudah lama sekali kalau begitu. Ngomong-ngomong anda kemari hanya sendiri?" tanya Adelard yang maknanya menyindir Bira lantaran berdiri di samping Donny sedaritadi.


'Hmm, pria yang tampan. yah, meski pakaiannya biasa saja, tapi wajah dan parasnya memang tampan. Terlebih dia kerabat jauh Donny, jadi nampaknya aku harus menaklukkannya.' Batin Sisca menilai Bira dari luar.


"Hem, hem." Deham Adelard membuyarkan lamunan kekasihnya.


"Eh, ada apa, sayang?" tanya Sisca spontan. Lantas Adelard mengisyaratkan maksudnya pada Sisca dengan mengarahkan bola matanya.


"Oh, maaf." ucap Sisca yang sudah sadar sambil menyambut tangan Bira yang sedaritadi sudah terjulur.


Namun percakapan mereka berhenti ketika pembawa acara meminta para tamu yang menerima undangan untuk berkumpul di sebuah ruangan, tentunya untuk membicarakan pasal bisnis.


"Wah, nampaknya kita harus pergi, tuan Donny. Kalau tidak keberatan, bagaimana bila kita bersama ke sana?" tawar Adelard dengan sopan.

__ADS_1


"Oh, tentu." jawab Donny singkat menerima tawaran Adelard. Tanpa perlu persetujuan dari Bira, Donny sudah melangkah menjauh. Karena memang, untuk hal seperti ini Bira tak pernah ingin mengikutinya. Dia hanya akan bekerja dibalik layar.


"Sayang aku pergi dulu, yah." Kata Adelard pada Sisca sekaligus memberi kecupan perpisahan di kening Sisca.


"iya, sayang. Bye." Balas Sisca melambaikan tangannya melepaskan kepergian kekesihnya. Dan kini tinggallah mereka berdua dalam keramaian pesta, mungkin lebih tepatnya tinggal Sisca sendiri karena Bira sudah melangkah menjauhinya.


"Bira!" panggil Sisca begitu sadar Bira ikut pergi menjauh.


Bira yang mendengar, tidak langsung menoleh ke arah Sisca. Entah mengapa dia merasa malas berurusan dengan wanita satu ini.


"Iya, ada apa." Sahut Bira mencoba menahan rasa malasnya ke ujung pikirannya.


"Hehehe, tidak apa-apa."


"Oh." balas Bira Singkat. Meski berkata tidak ada apa-apa, Sisca malah mengikuti langkah Bira sehingga mereka berjalan besama menikmati pesta. Dan entah angin dari mana, secara tiba-tiba, tangan Sisca mencoba mengandeng tangan Bira. Sontak hal itu membuat sang empu kaget.


"Hei, apa-apaan ini?" protes Bira dengan suara yang cukup keras sambil melepaskan tangannya ketika tangan Sisca menyentuhnya. Sementara Sisca hanya menunjukkan sebuah senyum yang tidak dapat diartikan oleh Bira.


'Hei, apakah wanita ini sudah tidak waras? apa maksud dari senyumnya itu? tunggu dulu, dia tidak mungkin mencoba merayuku, kan?' batin Bira begejolak. Hal itu karena saat melepaskan tangannya sempat menyentuh bagian krusial dari tubuh Sisca. Dan dia tidak bisa memungkiri bahwa tampilan Sisca memang sangat mengoyahkan iman para pria.


Namun untungnya di tempat keduanya berdiri tidak banyak orang yang sedang berada di sekitar sana. Jadi perdebatan kecil keduanya tidak menjadi perhatian.


"Oh, maaf, Tuan. Aku tidak sengaja. Mungkin karena ketampanan tuan, membuat diriku terpukau," Ucap Sisca dengan menunjukkan sifat feminimnya. Dan Bira yang awalnya ingin meluapkan ketidaksukaannya, menjadi enggan.


"Ehm, yah, tidak masalah." Balas Bira sedikit salah tingkah. Mungkin hatinya tidak menyukai Sisca, tapi pikiran dan matanya tidak bisa menolak apa yang ada di depan matanya. Bira tidak bisa berbohong kalau Sisca merupakan wanita dengan body goals dan tambahan kecantikan di atas rata-rata. Oleh karena itu, menjauh dari Sisca adalah pilihan terbaik untuk tetap bisa berpikir logis. "Baiklah aku ke toilet sebentar."

__ADS_1


__ADS_2