Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
22. Minuman Sesat


__ADS_3

Tanpa persetujuan dari Sisca, Bira pergi ke toilet. Dia juga mempercepat karena tak mau terlalu terbuai oleh pesona wanita itu.


"Cih, wanita itu. Sudah kuduga berdekatan dengannya bukanlah hal baik. Yah, meskipun bila memandangnya sangat menyegarkan." Ujar Bira begitu berada di toilet. Ia memandang pantulan dirinya sendiri dari cermin yang ada di atas wetafel. Tidak ada orang lain di sana. Jadi, Bira bebas berbicara sendiri.


"Lalu, sekarang aku harus bagaimana? kuyakin wanita itu masih menungguiku. Atau mungkin sudah pergi?" Gelisah Bira karena binggung harus berbuat apa. Ia membasuh mukanya agar mendapat pencerahan dari segarnya air. "Hhmm, Ah. aku ada ide."


Selesai mengucapkannya, Bira mengambil nakas yang ia simpan di kantong celananya. Dan tak butuh lama, sebuah sahutan terdengar.


"Donny, cepat kemari! Aku butuh bantuan!"


******


"Ada apa, Tuan?" Tanya Donny panik ketika bertemu dengan Bira di dalam toilet. Lantas Bira heran dengan tingkah Donny yang panik.


"Kenapa kamu panik?"


"Eh, saya kira tuan sedang sakit."


"Hah, sakit apa?"


"Tidak tahu, tuan. Hanya saja, ketika tuan menelpon saya tadi, saya mendengar suara tuan seperti sedang kesulitan."


"Iya, saya kesulitan, tapi tidak sakit. Sudahlah bantu saya keluar dari sini." Ucap Bira pada Donny sambil melangkah keluar dari toilet.


' lah, itu kan tuan bisa keluar. Pintu kamar mandi emang gak bermasalah kok daritadi. Terus, kenapa minta tolong antarkan keluar?' Tanya Donny pada batinnya sendiri.

__ADS_1


"Hei, cepatlah!" Bentak Bira membuyarkan pikiran Donny. Akhirnya Donny mengikuti langkah Bira. Mereka kembali memasuki area pesta. Dan benar saja, perkiraan Bira benar-benar terjadi. Wanita itu masih menunggu Bira, alias mengobrol bersama temannya sebagai pengalihan isu.


"Eh, tuan Donny." Sapa Sisca terlebih dahulu. Donny yang belum tahu nama Sisca hanya mengangguk dan melirik ke arah bosnya. Dia pun mendapati pandangan aneh dari bosnya.


"Oh, iya. Saya lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan nama saya Sisca." Tak lupa Sisca menjulurkan tangannya.


"Iya, saya Donny." Ucap Donny seraya membalas jabatan tangan Sisca. Namun ia menemukan sesuatu yang aneh pada tatapan wanita di depannya. Bukan, tatapannya bukan tertuju padanya. Melainkan orang yang berdiri di belakangnya, tak lain adalah Bira. Memang setelah melihat Sisca menghampiri, Bira menyuruh Donny berjalan di depan. Dan akhirnya Donny dapat menangkap chemistry di antara keduanya.


"Baiklah, Nona Sisca. Kami harus pergi dulu." Kata Bira begitu tahu bosnya tak mau berurusan dengan Sisca. Dia mencoba membawa bosnya menjauh dari sana.


"Oh begitu. Yah, silahkan. Tapi, bukannya acara untuk para penerima kartu undangan belum selesai? soalnya sedaritadi aku belum melihat satupun dari mereka." Balas Sisca dengan tenang. Wajahnya memang tapi hatinya pasti busuk, itulah yang dipikirkan oleh Bira begitu mendengar perkataan Sisca barusan.


"Oh iya memang benar. Tapi saya ada urusan...." Belum genap ucapan Donny, Bira menepuk pundaknya dan membisikkan sesuatu padanya. Terlihat Donny mengangguk beberapa kali dan jelas itu membuat Sisca penasaran, tapi tak sedikit pun ia tampakkan.


"Silahkan, tuan." Balas Sisca mempersilahkan Donny lewat. Namun pandangan matanya menangkap sesuatu hal aneh yang mengikuti Donny, siapa lagi kalau bukan Bira. Dia malah mengikuti langkah Donny.


"Tuan Bira, kurasa kau tidak bisa ke sana." sambung Sisca menahan langkah Bira.


"kenapa?"


"Karena di sana hanya untuk mereka yang dapat undangan, jadi kita yang ikut mereka hanya bisa di sini."


"oh, tapi aku hanya ingin ke sana." Balas Bira menunjuk salah satu meja yang penuh makanan. Tanpa melirik ke arah Sisca, ia melanjutkan langkahnya. Dan Donny pun sudah tak terlihat di antara mereka. Sebenarnya, Bira tidak membisiki Donny hal-hal aneh. Dia hanya meminta Donny untuk pergi saja karena ternyata dugaannya benar, yaitu Sisca menunggu dirinya.


"Hhmm, hidangan ini enak sekali." Ucap Sisca kepada Bira yang ada di sebelahnya. Entah karena alasan apa wanita itu terus mengikutinya, Bira tak tahu pasti.

__ADS_1


'Heh, itu enak bagimu, tapi tidak denganku. Kenapa kau terus mengikuti ku? Kau tidak tahu aku paling tidak suka diikuti? Terlebih semenjak berdekatan denganmu orang lain jadi melirik kepadaku terus!' Batin Bira meronta-ronta.


Dia merasa tidak nyaman dengan pandangan orang lain. Meskipun yang paling mereka perhatikan adalah penampilan Sisca yang memukau, tapi karena dia berada di samping Bira, ia akhirnya ikut menjadi sorotan di sana. Di tambah dengan ketampanan Bira yang di atas rata-rata tanpa memperhitungkan pakaiannya. Membuat dirinya tak luput dari pembicaraan.


"Eh, lihat itu. Bukannya itu kekasihnya tuan Adelard?" Bisik seseorang kepada yang lainnya. Meski berbisik, Bira sangat paham bahwa yang mereka bicarakan adalah dirinya.


"Heh, iya. tadi kalau tidak salah namanya Sisca, bukan?" Jawab teman di sebelahnya.


"Iya, iya. tadi aku juga dengar. Peryataan cinta terlarang Adelard sudah cukup jelas tadi." timpal yang lainnya tertawa merendahkan.


"Hei, ayolah. bukan cinta terlarang, tapi mungkin itu perjodohan yang tak diinginkan. Kuyakin juga istri tuan Adelard punya kekasih." Ujar yang lainnya memberikan argumennya.


"Entahlah, tapi aku penasaran dengan pria tampan yang di sebelahnya. Siapa dia? aku belum pernah melihatnya."


"Iya, aku juga penasaran. Siapa pria tampan itu?" Timpal yang lainnya sambil sesekali melirik Bira.


Sedangkan Bira yang merasa banyak yang melirik, memilih untuk mencari tempat lain atau bahkan pulang. Namun ternyata tidak semudah itu, tangan Sisca dengan cepat mencegahnya.


"Mau ke mana? pestanya belum selesai," tahan Sisca.


"Tidak kemana-mana." jawab Bira tidak jadi pergi. Dan Bira hanya bisa mengumpati Sisca dalam hati.


"Ini minumlah, kulihat kau belum minum dari tadi."


"Hhmm." Meski ragu Bira tetap mengambil gelas yang disodorkan oleh Sisca. Dalam benaknya, Bira tidak bisa percaya kepada minuman itu. 'Kuyakin ini minuman sesat.'

__ADS_1


__ADS_2