
"Trus ayah pegang gak tuh kata-katanya?" Tanya Clara sambil menahan tawanya. Dia cukup penasaran apakah ayahnya bisa memegang omongannya apalagi menyangkut soal hubungan intim.
"Ya dipegang lah. Kan ayah laki sejati" Jawaban itu bukan keluar dari mulut Nesya melainkan dari seorang pria yang sudah berada di dalam kamar Clara entah sejak kapan.
Keduanya menoleh ke arah suara. Itu adalah Biantara yang membawa sebuah nampan berisi makanan dan segelas susu putih.
"Heleh, apanya yang dipegang coba. Biasanya juga kalau mualnya udah ilang aja langsung minta jatah lagi." Ucap Nesya yang tak setuju dengan jawaban sang suami. Dan hal itu membuat baik Clara maupun Biantara tertawa.
"Hahahaha,, kan jatah itu penting sayang. Clara ini ayah bawain sarapan buat kamu. Soalnya daritadi ditungguin gak turu,, Kenapa Clara?" Binggung Biantara karena tangan Clara malah menahan dirinya untuk mendekat.
"Ayah bau!!" Ungkap Clara dengan tangan yang satunya lagi menutup hidungnya sendiri. Biantara langsung mengendus aroma tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Gak, kok. Ayah gak bau Clara. Baru juga setengah jam yang lalu ayah mandi." Biantara sangat yakin dengan aroma tubuhnya. Dia juga meminta pendapat istrinya dengan isyarat badan. Namun, sang istri langsung menggeleng dan berucap kata "Bau" tanpa suara.
"Aku gak paham juga ayah. Cuman belakangan ini aroma badan pria kalau pagi hari pasti pada bau menurutku." Terang Clara.
"Sini biar aku aja," Tawar Nesya sambil mengambil alih nampan yang dibawa oleh suaminya itu. Nesya mendekat ke arah Clara. Lalu ia menyendok nasi dan lauk yang ada di atas piring itu "Biarin aja, yah. Maklumin aja, nama juga ibu hamil. Suka sensitif sama hal-hal yang gak penting. Masak ayah lupa waktu ibu hamil dulu."
Biantara nampak berpikir sejenak di tempatnya. Setelah itu barulah wajahnya berubah.
"Ah, iya. Kalau gitu ayah tinggal dulu ya. Kasian Bagas ama Cia kalau tinggal kelamaan. Bye," Biantara langsung pergi keluar dari kamar itu. Clara yang melihat itu langsung menatap mamanya heran.
"Hhhhmmmm,,, Gak tahu juga tuh mama." Jawab Nesya dengan entengnya. Jawabannya barusan bertolak belakang dengan raut wajahnya. Terlihat jelas Nesya seperti menahan tawanya.
__ADS_1
Clara sendiri merasa tidak perlu mencari tahu terlalu dalam karena ia tahu hal itu hal mungkin cukup memalukan untuk ayahnya. Beberapa suapan akhirnya masuk ke dalam mulut Clara. Setidaknya itu sudah Clara cukup sabagai sarapannya meski tidak terlalu banyak.
"Udah, ma." Pinta Clara ketika Nesya handak menyuapinya kembali.
"Yakin?" Pertanyaan Nesya itu dijawab anggukan oleh Clara.
"Ya sudah kalau menurutku kamu cukup. Mama bawa turun piringnya dulu. Jangan lupa dihabisin susunya. Kalau udah habis biarin di meja dulu. Nanti mama yang bawa turun ke bawah." Terang Nesya pada Clara seraya menaruh piring di atas nampan dan meletakkan gelas susu di atas meja.
"Hhhhmmmm,, ma. Boleh aku bicara sebentar sama mama?" Dengan ragu-ragu Clara bertanya. Pertanyaan Clara membuat Nesya menghentikan niatnya untuk turun dan kembali duduk di samping Clara.
"Bicara saja, Clara. Mama akan dengerin kamu di sini." Nesya mengelus pelan lengan anaknya itu. Sementara itu Clara menatapnya dengan takut-takut. Sampai pada detik terakhir ia meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Ma, maafin aku. Aku udah bikin mama malu dan kecewa. Aku seharusnya gak ngelakuin itu sama orang asing. Aku udah ngelanggar janji aku sama mama. Aku," Ucapan Clara tercekat di ujung tenggorokannya. Tidak ada suara yang keluar selain tangisnya yang membuncah.
"Hush,,, mama sudah gak kesal dan marah lagi sama kamu, kok." Nesya langsung memeluk Clara dengan erat. Air mata ikut berjatuhan karena tak tega dengan keadaan anaknya.