
Byur, seember besar air ditumpahkan ke arah seorang pria yang tangannya dan kakinya terikat rantai besi. Pria yang terduduk di kursi itu langsung membuka matanya karena kaget.
Matanya mengerjap-ngerjap mencoba beradaptasi dengan cahaya termaram ruangan yang minim dengan cahaya itu. Cahaya yang ia lihat semakin buram. Terlihat beberapa bayangan menghalangi pandangannya. Entah 5 atau enam orang yang ada di sana, ia tak begitu bisa menghitung jumlahnya dengan benar. Pikiran sangat kacau balau saat ini. Dirinya sangat sulit sekali untuk bisa fokus berpikir. Seolah-olah ada sesuatu yang menekannya dari dalam tubuhnya.
"Wake up, Bast*rd." Ucap seorang pria sambil menepuk-nepuk pipinya.
Sebenarnya dia ini sudah bangun. Hanya saja entah kenapa tubuhnya begitu lemah saat ini. Baik itu penglihatan, pendengaran, maupun anggota tubuhnya lainnya terasa begitu tak berdaya.
"Aku bilang bangun!" Bentak pria lainnya yang langsung memberikan sebuah tendangan tepat di bagian dagunya. Sontak pria itu terjatuh dan meringis kesakitan.
"Cukup. Dia itu mangsaku. Angkat rantainya!" Perintah seseorang yang berdiri di paling belakang dari segerombolan pria itu. Dia menghirup kembali rokok yang ia pegang. Jelas sekali bahwa pria ini adalah bos dari segerombolan pria itu. Mereka akhirnya mengangkat rantai sesuai intruksi bos mereka.
Pria itu hanya bisa pasrah dengan kondisinya. Ia sangat kenal dengan kondisi seperti ini. Kondisi penyiksaan yang di mana dialah orang yang akan di siksa di sini. Dan mengenai kondisi tubuhnya yang melemah, ia berspekulasi telah dipakaikan obat oleh orang-orang ini sebelum ia diikat.
__ADS_1
"****!" Umpat pria itu dengan sisa-sisa tenaga miliknya.
"Apa katamu?" Salah satu pria langsung tidak terima dengan umpatan barusan.
"Cih, seharusnya kau berdoa bukannya menghabiskan tenagamu untuk mengumpat!" tanpa basa basi pria yang lain memukul perut pria itu dengan kencang.
"Argh,,," erang pria itu menahan rasa sakitnya.
"Wow, kau memiliki tubuh yang baik." Si bos memberikan komentar entah sebagai pujian atau cacian.
Setelah sisa berdua, tidak ada yang berniat berbicara. Hanya terdengar suara si bos yang asik menghisap rokoknya.
"Kau tahu, sudah lama sekali aku tidak merokok. Mungkin 30 tahun yang lalu aku terakhir kali merokok." Si bos mengulung kemejanya hingga ke siku. Dan kemudian menghisap kembali rokoknya. "Wosh,,, Hah, apa mungkin aku harus berterima kasih padamu karena dirimu aku akhirnya bisa merokok lagi. Apa perlu begitu?"
__ADS_1
Langkah kaki terdengar mendekati pria yang sedang di gantung bak daging potong itu. Tinggal satu langkah untuk mendekat, suara langkah terhenti. Si bos menghisap rokoknya kembali dan membuang asapnya tepat di wajah si pria.
"Mari kita perkenalan terlebih dahulu. Perkenalkan aku adalah Biantara. Salah satu pengusaha terpandang di negeri ini. Dan aku punya satu pertanyaan untukmu. Apa hubunganmu dengan anakku Clara?!" Bukan terdengar seperti sebuah pertanyaan, melainkan seperti sebuah teriakan amarah yang meluap-luap.
****
Wah gak nyangka banget tiba-tiba aja karya aku udah 52 episode, hehehe. Bersyukur banget masih punya kesempatan buat nulis kelanjutan cerita ini.
Aku mau ucapin terimakasih buat kalian yang udah mau baca cerita aku dan bahkan memberikan aku like maupun komentar kalian. Dan aku juga mau minta maaf juga kalo semisal karya aku kok pernah macet di jalan, mohon maaf banget. Tapi insyaAllah dalam ke depannya aku bakal usahain buat nyelesein cerita aku yang ini dulu. Yah, walaupun kayaknya aku cuman bisa update di weekend aja.(Aku usahain langsung banyak)
Btw, yang mau komentar komentar aja. Aku sangat berharap dan suka kalau kalian komentar. Sejujurnya kalian aja kok, meskipun komentarnya itu pedes. Aku gak masalah. Gak mesti bagus juga komennya. Intinya itu pendapat kalian.
Terimakasih atas waktunya gaes.😜
__ADS_1
Happy Reading.