Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
83. Permintaan Bira


__ADS_3

Setelah mengetahui permintaan Bira, Clara setengah lega dan setengahnya lagi agak panik.


"Ah, iya aku lupa tentang itu. Aku minta maaf, gara-gara aku kau jadi harus mengalami hal seperti itu." Clara mencoba mengucapkan kata maaf yang belum sempat ia ucapkan pada Bira.


"Tak perlu minta maaf. Bukan kau yang salah. Tapi ayahmu," Balas Bira.


Perasaan marah Bira tentunya bukan karena alasan yang berujung melainkan karena Bira baru tahu kalau ternyata Clara adalah anak dari Biantara, orang yang sudah membuat ia babak belur secara tidak langsung. Oleh karena itu pula tensi Bira agak naik saat melihat Clara saat ini.


"Ah, itu. Aku yakin ayahku juga menyesal melakukan hal itu." Clara mencoba meyakinkan Bira kalau Biantara pasti tidak sungguh-sungguh ingin menyingkirkan Bira.


"Aku tak bisa percaya begitu saja sampai pria itu yang mengucapkannya langsung. Dan kurasa pertemuan ini bisa kita cukupkan sampai di sini saja." Bira berniat menyudahi percakapan mereka.


Nampaknya Bira hanya ingin mengambil hukuman sesuai kesepakatannya dengan Clara, yaitu Clara harus mengabulkan satu permintaan Bira. Dan Bira hanya mau ayah Clara minta maaf padanya.


Sella sendiri dari awal menyimak akhirnya bisa bernapas lega begitu mendengar permintaan Bira dan langsung menyudahi pertemuan ini.


"Fuih, untung tuan tampan ini gak minta yang aneh-aneh." Batin Sella lega.


"Tunggu Bira, kamu mau ke mana?!" Sedetik sebelum Bira berdiri, Clara menahan Bira.

__ADS_1


Bira menatap heran ke arah Clara.


"Tentu saja pulang. Memangnya ke mana lagi? Lagipula urusanku sudah selesai." 


"Ta, tapi masalah kita belum sepenuhnya selesai." Clara tampak ragu-ragu untuk bicara.


"Ma, masalah semalam dan,," Clara sampai gugup untuk melanjutkan perkataannya.


"Dan apa?" Bira tak sabar mendengar kelanjutan ucapan Clara.


"D, dan aku hamil. Aku hamil anakmu Bira." Meski sudah mengungkapkannya Clara tetap tak berani menatap Bira secara langsung.


Suasana kemudian hening. Sella spontan menutup mulutnya seolah tak percaya kalau Clara bakal buka-bukaan di depan Bira. Pasalnya saat tahu Clara postitf hamil, sekeluarga Biantara termasuk beberapa ajudan terpercaya, seperti Sella dan Liam, sudah sepakat untuk tidak membeberkan hal ini. Dan keputusan itu sudah disepakati oleh Clara dan sekeluarga.


"Aduh, nona Clara Buat apa dikasih tahu." Batin Sella mempertanyakan alasan Clara membeberkan kehamilannya pada Bira.


Tapi mau bagaimana pun itu keputusan Clara. Jadi, dia memang tak bisa berbuat banyak untuk itu. Toh, di sana ia hanya seorang sekretaris.


"Lalu?" Balas Bira menanggapi pernyataan kehamilan Clara. 

__ADS_1


Sontak tanggapan Bira ini membuat Sella dan Clara makin terkejut. Tanggapan Bira mengatakan seolah-olah Bira smemang sudah tahu kalau Clara hamil. Kedua wanita itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Bira. Sementara yang di pandang hanya bersikap biasa saja.


"Apa kali kau mau meminta pertanggung jawabanku?" Bira melanjutkan ucapan seraya menatap tajam ke arah Clara.


Clara yang di tatap balik oleh Bira langsung tertunduk ketakutan. Padahal ketika bertatapan dengan seorang pria dia tak pernah takut. Tapi entah mengapa dengan Bira ia bisa seperti itu.


"It, itu,," Clara menjawab Bira dengan suara yang sangat pelan.


Namun Clara tak melanjutkan ucapannya karena ia sendiri binggun harus jawab apa.


"Kalau kau memang mau pertanggung jawabanku maka sama artinya kau menjilat ludahmu sendiri." Bira langsung memotong tanpa peduli jawaban Clara atas pertanyaannya.


"Tuan, mohon ucapan anda di jaga." Sella yang mendengar perkataan Bira barusan langsung tersentil emosinya.


Dan Bira yang mendengar itu malah tertawa.


"Hahaha, apa yang kuucapkan itu barusan adalah fakta, nona sekretaris. Bukannya waktu itu aku sudah bilang akan bertanggung jawab apabila Clara hamil?" Tutur Bira mencoba membuat Sella mengingat-ingat ucapan Bira kala itu.


"Tapi bukannya nona Clara sendiri yang dengan sombongnya menolak semua itu. Dia bilang tak membutuhkan pertanggung jawabanku." Tambah Bira memperkuat argumennya dengan fakta yang memang benar diungkapkan oleh Clara.

__ADS_1


Baik Sella maupun Clara mati kutu dibuatnya. Mereka sama sekali tidak bisa membantah karena memang itulah faktanya. 


"Yah sudahlah cukup saja sampai di sini. Aku malas memperpanjang masalah. Kalian cukup kabulkan permintaanku saja. Kabari aku kapan dan di mana pertemuannya melalui nomor ini." Bira menyerahkan sebuah kertas kecil berisi sebuah nomor pada Sella.


__ADS_2