
"Ini kau sebut pesta?" tanya seorang wanita kepada teman di sebelahnya.
"Hehehe, ayolah. Kamu itu butuh hiburan." Jawab temannya mencoba membujuk wanita itu untuk menetap lebih lama. Namun dengan kencang wanita itu menepis tangan temannya dan meninggalkan tempat itu tanpa peduli teriakan temannya.
"Itu club malam, bukan tempat pesta, Cindy" Bentak wanita yang tak lain adalah Clara kepada dirinya sendiri karena Cindy tertinggal di belakangnya. Dia segera meninggalkan bar itu dan menuju ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana. Ingin rasanya ia langsung meninggalkan bar tersebut sekaligus temannya di sana. Tapi mengingat bahwa temannya sedang hamil, ia mengurungkan niatnya dan menunggunya di dalam mobil.
"Woi, Clara. cepet amat jalannya. Gak tahu apa ini emak-emak udah ngos-ngosan ngejernya?" keluh Cindy begitu sudah masuk ke dalam mobil Clara. Tanpa berkata-kata Clara melajukan mobilnya meninggalkan bar tersebut. "Eh, kita mau kemana Clara?"
"Sudah jelas. Aku bakal anter kamu ke Alex." Jawab Clara santai.
"Hah, ke mas Alex? jangan Clara." Balas Cindy dengan nada tinggi secara tiba-tiba. Clara yang di belakang kemudi dibuat kaget karena nada orang di sebelahnya. Saking kagetnya, dia hampir menyerempet seorang pengendara sepeda motor. Namun untungnya, dia berhasil mengendalikan mobil sehingga tidak terjadi kecelakaan.
"Bisakah kau tidak membuatku kaget?" Kesal Clara kepada sahabatnya itu.
"Aku tidak bermaksud membuatmu kaget, Clara. Hanya saja, kita jangan ke Alex sekarang ya," Pinta Cindy pada Clara agar tidak ke tempat suaminya. Lantas Clara heran dengan pernyataan barusan.
__ADS_1
"Lalu kita harus ke mana, Cindy? Bukannya kalian tadi sudah baikan? Kenapa kamu tiba-tiba tidak mau bertemu dengan Alex?" Clara dibuat begitu heran dengan perilaku sahabatnya. Rasanya ingin sekali dia memukul otak Cindy agar dia dapat melakukan sesuatu hal yang wajar.
Cindy menatap sahabatnya seolah meminta pengertian kepadanya. Namun sayangnya, sahabatnya justru menolak dan tetap bersikukuh untuk pergi ke tempat suaminya berada. Sehingga mau tak mau, dia menuruti kemauan sahabatnya. Mendengar kata suami, dia tiba-tiba kembali teringat dengan keributan kecil antara dirinya dan suaminya yang terjadi sekitar satu jam yang lalu.
Flash back on
"Clara, itu semua bisa aku jelaskan. Please, kamu percaya padaku kan?" Mohon Alex kepada Clara setelah Cindy menunjukkan pada Clara sebuah tiket yang di anggap sebagai bukti perselingkuhan dirinya.
"Jadi Alex, kamu bisa jelaskan apa maksud dari semua ini? Dan siapa itu Maya?" Tanya Clara menanggapi permohonan Alex. Yang ditanya hanya memberikan sebuah anggukan tanda bahwa dia menyanggupi pertanyaan Clara.
"Aku perkenalkan kepada kalian semua, ini Maya." ucap Alex memperkenalkan wanita yang baru saja datang. Sontak kedua wanita yang di depan Alex terkejut, terutama Cindy. Dia begitu marah ketika mendengar bahwa itu Maya, wanita selingkuhan suaminya. Selain muda, wanita itu juga terlihat manis. Sehingga Cindy begitu marah dan hendak mengajak ribut wanita itu.
"Cindy, tenanglah! Kau ini, bukannya kamu sedang hamil? jangan melakukan sesuatu yang berbahaya, Cindy!" Perintah Clara yang menahan Cindy agar tidak menyosor ke arah Maya. Alex terkejut mendengar pernyataan Clara. Dia baru tahu bahwa istrinya sedang hamil.
"Apa sayang?! Kamu lagi hamil? kenapa gak kabarin aku?" Semprot Alex dengan pertanyaan karena jujur, dia sebagai suaminya tidak mengetahui hal itu. Tanpa berpikir panjang, Alex mendekati Cindy.
__ADS_1
"Stop, jangan mendekat! ingat, masalah kita belum selesai. Jadi jangan harap bisa menyentuhku!" Bentak Cindy begitu melihat tangan Alex ingin memeluknya. Melihat kejadian itu, Clara turut prihatin. Clara memang percaya pada Alex. Dan dia tahu Alex begitu mencintai Cindy. Buktinya Alex langsung datang ke Indonesia secepat mungkin begitu tahu istrinya sedang marah kepadanya. Hanya saja untuk menyelesaikan ini, tidak semudah dengan kedatangan Alex. Cindy butuh bukti yang dapat mematahkan alibinya.
"Alex, sudahlah. lebih baik kamu melanjutkan penjelasanmu." Ucap Clara yang tak ingin Alex terlalu memaksa agar Cindy memaafkannya. Dengan gusar Alex kembali duduk ke posisi awalnya.
"Tiket itu, tiket itu kubeli untuk liburan aku dengan Cindy." Jelas Alex membeberkan niat awalnya. Tapi Cindy tidak percaya begitu saja, dia ingin memotong ucapan Alex namun Clara menahannya. Clara meminta agar Cindy tetap mendengar sampai selesai dengan isyarat mata. "Dan Maya ini adalah sekretarisku yang baru. Dia yang menyarankan agar aku pergi liburan bersama Cindy. Bahkan dia sudah sudah menyiapkan segala sesuatu untuk liburan kami berdua. Tapi operator pesawat salah mencantumkan nama Cindy, sehingga nama Maya dan akulah yang ada dalam tiket itu."
Maya yang sedari tadi mendengarkan penjelasan atasannya mengangguk sebagai tanda membenarkan ucapan bosnya. Akhirnya Clara paham yang terjadi sekarang, meski berbeda dengan Cindy.
"kamu dengar, Cindy? Itu hanya salah ketik." Bujuk Clara mencoba membuat Cindy mengerti bahwa semua ini hanya salah paham saja.
"Bohong, kamu pasti berbohong! wanita itu pasti cari aman, sehingga berlagak polos di sini." Balas Cindy yang tidak mau terima dengan perkataan suaminya.
"Sayang,, sayang,, Please listen to me." Dengan berani Alex berlutut di hadapan Cindy. Meski terus ditolak oleh Cindy, tak membuat dia mundur. Sehingga mau tak mau tangan Cindy berhasil ia genggam. "Look at my eyes,,"
"You're a liar." Ucap Cindy tak mau menatap mata orang yang sedang berlutut di hadapannya. Bukannya marah akan ucapan Cindy, Alex justru tersenyum manis.
__ADS_1
"And, I love you." Balas Alex dengan tulus.