Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
32. Buaya


__ADS_3

"Baiklah, pembahasan kerja sama yang lebih terperinci bisa dikirim nanti saja jika memang sudah benar-benar rampung. Karena di rasa sudah cukup, kami mohon undur diri. Masih ada beberapa pertemuan lagi yang harus kami hadiri." Pamit Donny pada Clara dan Sella. "Oh, ya. Terimakasih atas kopinya."


"Sama-sama, Tuan Donny." Ucap Clara dan Sella berbarengan.


"Hati-hati di jalan, Tuan." Sambung Clara dengan wajah sumringah. Dirinya tak bisa berbohong jika saat ini dia sangat senang.


"Ehm,," Deheman seseorang membuyarkan fokus Clara dan Sella. Sontak keduanya melirik ke arah sumber suara. Dan orang itu adalah sekretaris Donny yang masih berdiri di depan Clara.


"Ah iya, hati-hati di jalan juga sekretaris tuan Donny." Clara dengan spontan membungkukkan badannya karena mengira kedua pria tadi akan meninggalkan tempat itu. Namun, bukannya pergi sekretaris Donny malah setia berdiri di tempatnya. Lantas Clara mendongkakkan kepalanya karena heran kenapa pria ini tidak ikut bosnya untuk pergi. "Apa ada yang salah tuan?!"


Clara akhirnya menyerah untuk tidak bertanya kenapa pria ini masih di sini. Rasanya aneh jika sekretaris bos tidak mengikuti bosnya padahal mereka sudah selesai meeting.


"Ah, tidak ada yang salah, Clara." Jawab sekretaris Donny dengan nada yang berbeda di awal pertemuan tadi. Pria itu juga tidak henti-hentinya menatap Clara yang berdiri di depannya. Clara yang menyadari perubahan nada dan sikap sekretaris Donny hanya bisa membendung rasa binggungnya bersamaan dengan Sella yang menatap pria itu dengan tatapan tak suka.


"Nona, kayaknya ada yang aneh dengan pria ini." Bisik Sella sambil menyenggol lengan Clara. Entah kenapa firasat Sella mengatakan pria ini punya maksud tersendiri kenapa ia tetap di sana dan bukannya langsung mengikuti bosnya.

__ADS_1


"Ya, nada bicaranya juga berubah, Sel." Sahut Clara mengamati gerak gerik pria di depannya yang masih setia menatapnya.


"Ah, seperti aku harus pergi dulu." Ucap sekretaris Donny memutuskan untuk pergi dari sana. Namun sebelum pergi, ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menyerahkannya pada Clara.


"Ap, apa ini?" Tanya Clara binggung karena pria itu tiba-tiba saja menyodorkan sebuah ponsel padanya.


"Oh, ini ponselku." Jawab sekretaris Donny enteng. Lantas kedua wanita di depannya saling menatap seolah saling bertanya satu sama lain. Sekretaris Donny yang melihat hal itu hanya tersenyum penuh arti. "Boleh aku minta nomormu?"


"Untuk apa?!" Heran Clara dengan permintaan pria itu.


"hah?!" Sella dan Clara terperanjat karenanya.


"Hahahaha,,, tenang, tenang. aku hanya bercanda. Aku hanya ingin meminta nomer mu saja. Siapa tahu nanti ada pertemuan lebih lanjut." Ungkap sekretaris Donny masih dengan posisi tangan menyodorkan ponsel miliknya.


Clara hanya mengangguk-anggukan kepalanya sebagai jawaban bahwa ia paham maksud sekretaris Donny. Namun, baru ia hendak mengambil ponsel itu, tangan Sella dengan sigap menahan tangannya. Clara tentu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Sella. Dan Sella hanya menggelengkan kepalanya pada Clara.

__ADS_1


"Cukup pakai nomor perusahaan saja, tuan. Ada di dalam kartu nama perusahaan." Sella langsung menjawab permintaan sekretaris Donny dengan menghiraukan Clara.


"Loh, Sel?!" Protes Clara dengan begitu polosnya karena yang ia pahami dengan bertukar nomor telpon dengan sekretaris Donny akan mempermudah kerja sama mereka.


"Hush, nona diam saja. Biarkan saya yang ambil alih kalau masalah ini!" Geram Sella lantaran bosnya ini terlalu kelewat polos. Di lihat dari sisi manapun akan kelihatan jelas maksud dan tujuan pria itu bukan untuk kerja sama. Melainkan untuk mendekati Clara itu sendiri.


Untungnya ini bukan yang pertama kalinya bagi Sella melihat modus para lelaki buaya yang hendak menerkam bosnya. Jadi dia paham betul bagaimana gerak gerik pria bermodus dengan pria serius yang mendekati bosnya. Terhitung sudah puluhan pria yang mencoba melakukan trik-trik agar dapat mendekati bosnya, termasuk trik minta nomor telpon dengan embel pekerjaan.


"Hei, apaan kau?! Bukannya akan lebih mudah kalau pakai nomor pribadi?! Lagipula aku tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh." Sekretaris Donny mencoba mencari celah untuk dapat nomor Clara. Jujur memang ia meminta nomor bukan untuk pekerjaan. Tapi tentu saja agar ia dapat selangkah lebih dekat dengan wanita sesempurna Clara.


"Cih, lebih baik kau pergi atau akan ku ungkapkan niatan aslimu pada pak Donny." ancam Sella yang sudah muak melihat pria itu.


Baru saja ingin memlas ucapan Sella, sebuah deheman khas menghentikan bibir sekretaris Donny.


"Ekhm,, Dasar tak tahu diri! kenapa masih di sini?! ayo, cepat pergi. Masih ada banyak hal yang harus kamu kerjakan." Itu adalah Donny. Dia berbalik arah karena melihat sekretarisnya tak muncul-muncul.

__ADS_1


'Cih, bocah cecunguk sialan. Kalau bukan karena kinerjamu yang bagus, sudah aku kick kau dari jabatanmu yang sekarang. Sering kali aku melihatmu menggoda wanita cantik yang kau temui. Tapi setidaknya jangan goda wanita yang satu ini. Itupun jika kau masih ingin hidup.' Batin Donny sambil membayangkan Bira ketika marah.


__ADS_2