
Melihat ada pelayan yang mendekat, Bira mendapat ide untuk menjauhi Sisca.
"Bersulang?" Tawar Bira dengan percaya diri. Dan tentunya Sisca tak menolak hal itu.
"Cheers." Ucap Sisca mendekatkan gelasnya dengan gelas Bira sehingga terdengar dentingan kecil.
Mereka berdua pun meminum minuman masing-masing. Tapi tepat sedetik setelahnya, Bira mulai melancarkan aksinya. Dia menjulurkan kakinya ke depan pelayan yang sedang membawa minuman dalam nampan di tangan kirinya. Karena memang benar-benar tidak melihat kaki Bira, pelayan itu pun terjatuh dan membuat minuman yang tadi ia bawa mulai berhamburan, lebih tepatnya mengenai pakaian Sisca.
"What the f*ck!" Umpat Sisca yang mendapati pakaian glamornya basah oleh minuman. Dan pelayan itu segera sadar akan apa yang baru saja menimpanya.
"Maafkan saya, Nona." ucap sang pelayan tertunduk lesu. Dengan segera ia berusaha mengelap pakaian Sisca.
"Jangan sentuh!" Stop Sisca dengan nada yang mencekam membuat si pelayan semakin ketakutan. Sisca hanya bisa menghela nafasnya. Dia benar-benar marah saat ini. Pakaian glamour nan mahalnya ini merupakan buatan seseorang professional kelas dunia. Jadi sudah sangat wajar baginya untuk marah. Hingga akhirnya, ia menyadari bagaimana caranya memanfaatkan moment tersebut.
"Tuan Bira, kau lihat ini. Pakaianku basah bisakah kau...." Ucapan Sisca terpotong. Dia terpaku memeriksa sekelilingnya.
"Maaf Nona. Nama saya bukan Bira." Jawab si pelayan yang heran dengan wanita di depannya.
__ADS_1
"Aarrggh, diam kau! Akan ku minta ganti rugi darimu!" Bentak Sisca tanpa mempedulikan pandangan orang lain kepadanya. Sungguh, dia tak peduli. Dia begitu kesal saat ini. Satu hal yang membuat dirinya sangat kesal, mangsanya berhasil kabur.
*****
"Huh, lelah juga." Kata Bira setelah berlari cukup jauh dari Sisca. Dia bersyukur bisa lepas dari cengkraman wanita itu. Namun ternyata selama dia kabur, dia tidak tahu ke arah mana. Bahkan sampai saat kini dia berhenti, ia tak tahu berada di mana.
Ia mencoba menerawang sekitarnya, hanya sedikit orang yang berada di sana. Dia tahu bahwa pesta ini di selenggarakan di bagian belakang hotel atau lebih tepatnya, area lapangan hotel dan kolam renang. Tapi entah bagaimana caranya, dia tidak ingat bagaimana dia bisa masuk ke dalam sebuah ruangan khusus seperti ini. Mungkin karena terlalu panik sampai dia lupa jalan mana yang sempat ia lewati. Dan semua rasa binggungnya mulai beralih ke sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak bisa dia deskripsikan secara langsung.
"Aih, kenapa ini? Kenapa tubuhku panas sekali?" Tanya Bira pada dirinya sendiri. Tak mau dilihat aneh, Bira melangkahkan kakinya mencari tempat duduk yang nyaman meskipun dirinya masih merasakan kejanggalan pada dirinya.
"Cih, aku tidak yakin dengan spekulasiku. Tapi jika gejalanya seperti ini, aku butuh kamar sekarang juga!" Tanpa berpikir panjang dia menelpon seseorang yang bisa menolongnya, dan itu adalah Donny.
"iya, tuan." Sahut Donny begitu panggilan tersambung.
"Aku butuh bantuanmu."
"Hahahaha, tuan mau aku ke sana mengawal tuan dan pergi lagi seperti orang bodoh?"
__ADS_1
"Hei, kau sudah berani ya?"
"eh, tidak, Tuan. Maaf."
"Sudahlah, lupakan. Kau bantu aku carikan kamar."
"Kamar?"
"Iya, cepatlah!"
Meski binggung dengan permintaan bosnya, tapi Donny tetap mlaksanakan yang diperintahkan.
"Ini sudah, tuan. Anda tinggal masuk ke kamar ini." Ucap Donny memberikan nomor kamar yang ia pesan.
"Ehm, teri..." Belum selesai Bira bicara, tiba-tiba ia memutuskan panggilannya. Lantas hal itu membuat Donny heran.
"Hallo, tuan? eh sudah mati. Aneh-aneh saja. Biarkan saja lah." Meski binggung, Donny memilih untuk tidak terlalu panik. Karena dia tahu, bosnya pasti bisa menyelesaikan masalah. Dan hal yang membuat dia tenang adalah bosnya sedang menikmati nikmatnya dunia yang ia rasa tak perlu bantuannya.
__ADS_1