Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
53. Khawatir


__ADS_3

"Liam! Aku gak mau tahu, cepat cari ayah sekarang juga!" Teriak Clara menghiraukan tatapan seisi rumah yang mengarah padanya.


"Iya, non. Anak buah saya sudah mencari tuan besar kemana-mana tapi belum berhasil menemukan beliau, nona." Liam membalas ucapan Clara dengan wajah tertunduk.


"Kamu itu tangan kanan ayah! Bisa-bisa kamu gak tahu lokasi ayah ada di mana sekarang. Kalau ayah kenapa-kenapa gimana? Kamu mau tanggung jawab?"


"Saya yakin tuan pasti aman, nona. Beliau punya pasukan khusus untuk menjaga beliau."


"Ah, sial*n kamu!" Umpat Clara dengan air mata yang tak kuat lagi ia bendung.


"Hush, Clara! Kamu gak boleh ngomong kasar begitu." Nesya langsung berdiri dan menenangkan anaknya itu. Mereka semua kini sedang berada di ruang keluarga kediaman Biantara. Terlihat ada Cia dan Bagas sedang duduk di salah satu kursi.


"Kamu yang tenang ya, nak." Ucap Nesya lembut sambil mengelus punggung Clara.


"Aku gak bisa tenang ma sampai papa bawa balik lagi suami aku ke sini." Balas Clara. Ia menolak semua perhatian mamanya itu.

__ADS_1


"Kak! apa-apaan sih ini! Kok pakai kata suami segala? Bahkan Kakak sampai marah-marah gak jelas gara-gara lelaki bangs*t itu. Ingat kak, dia itu pria bangs*t!" Kini Bagas ikut-ikutan bangkit dari tempat duduknya. Awalnya ia tak ingin ikut campur terlalu dalam. Tapi melihat kakaknya malah membela pria itu, emosinya malah semakin tak bisa ia kontrol.


"Jangan mulut kamu, Bagas!!!" Teriak Clara dengan sangat kencang. Bahkan Nesya sampai terperanjat mendengarnya.


"Udahlah kak, bang. Jangan pakai emosi. Kita bicarain baik-baik oke?" Giliran Cia yang angkat bicara. Berada di antara kemarahan seperti ini bukan gaya yang ia sukai. Terutama jika permusuhan ini sesama saudara.


"Kamu juga tutup mulut, Lucia. Kakak masih marah sama kamu!" Clara mengalihkan pandangannya ke arah Cia. Tatapannya mengartikan bahwa ada perasaan tak suka dengan adiknya itu.


"Kok aku sih, kak?" Jujur perasaan takut menjalar ke seluruh sel tubuh Cia. Belum pernah sekalipun dia melihat kakak perempuannya marah.


"Ah, itu,,," Rasanya lidah Cia sudah mati rasa sekarang. Perasaan takut sudah menyelimutinya sepenuhnya.


"Kenapa? Hah, kenapa? Kenapa waktu tadi ayah bawa Bira pergi, kamu gak mau nolong kakak, hah? Kamu malah nurut sama perintah ayah, Cia! Kamu tahu, ayah bisa ngelakuin apa aja sama Bira! Kalo aja ka,,"


"Kak, cukup kak. Cia gak salah di sini. Jadi jangan pernah salahin dia!" Bagas malah ikut meninggikan intonasinya. Perasaan tak sukanya dengan pria bernama Bira semakin menjadi-jadi ketika mendengar kakaknya membela pria itu.

__ADS_1


"Kamu gak tahu apa-apa, Bagas! Jadi jangan sok ikut campur masalah aku sama, Cia."


"Aku abangnya Cia. Jadi aku harus lindungin adik aku."


"Oh, begitu?! Lalu aku apa? Inget aku itu kakak kamu! Kamu harus nurut dan patuh sama perkataan aku!"


"Man,,"


"Sudah-sudah. Kalian ini! Buat semua masalah makin rumit aja!" Nesya yang tak tahan, langsung menjeda perkelahian anak-anaknya itu. "Bagas, Cia, mama mau kamu balik ke kamar kalian sekarang!"


"Tapi, ma." Cia nampak masih ingin mencari keberadaan Bira.


"Gak ada tapi-tapi an. Sekarang, masuk kamar!" Dengan begitu Cia dan Bagas langsung pergi ke kamar masing-masing. Tersisa Nesya, Clara, dan Liam di sana. "Liam, aku mau kamu cari suami aku sampai ketemu. Aku gak mau tahu, pokoknya sebelum besok pagi dia sudah harus ketemu dan berhadapan sama aku!"


"Ba, baik, nyonya." Jawab Liam masih dalam keadaan syok. Perdebatan antara saudara keluarga Biantara barusan adalah pertama kalinya ia lihat. Sebelumnya tidak pernah ada perdebatan yang sepatah itu.

__ADS_1


"Kalau dia menolak untuk ke sini, bilang padanya aku akan tuntut janjinya."


__ADS_2