Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
54. Pria Misterius


__ADS_3

"I love you." Ungkap seorang wanita yang perlahan berjalan menjauh. Semakin jauh langkahnya semakin sulit pula untuk dikejar. Rasanya seperti dia bergerak tapi diri sendiri seperti tertahan tanpa bisa menggapai.


Bahkan tak ada suara yang bisa dikeluarkan dari kerongkongan. Bukannya kurang minum. Hanya terasa begitu tercekat di tenggorokan. Belenggu menahan setiap anggota tubuh untuk bergerak bebas. Namun, asa terus dikerahkan untuk mengejar.


"Sophia!" Teriak Bira yang seketika terbangun dari tidurnya. Baru saja terbangun, tubuhnya langsung merasakan rasa sakit di semua bagian tubuhnya, terutama di bagian wajahnya. Perih dan panas ia rasakan di bagian wajahnya.


Namun, baru hendak ingin berdiri, dirinya tersadar kalau dia tidak sendirian di sana. Ada seseorang sedang duduk di depannya mengamati dirinya.


"Sudah kuduga kau tidak akan terbaring pingsan cukup lama. Dengan tubuh terlatih dan mental kuat seperti itu, mustahil kau bisa tumbang dengan cepat." Ucap pria itu masih tetap pada posisinya.


Bira mengabaikan ucapan pria itu. Dia lebih memilih mengerahkan tenaganya untuk dapat mengganti posisinya dari terbaring menjadi posisi duduk, meskipun ia butuh tembok di belakangnya untuk bersandar. Tidak seperti sebelumnya, kini tenaga Bira mulai kembali seperti semula. Namun, luka yang ia dapatkan tentu membuat kondisinya mustahil untuknya bisa prima.


"Sial*n. Kenapa kondisiku bisa seburuk ini?" Umpat Bira dalam hati. Dengan tenang ia mencoba mengamati sekelilingnya. "Apa aku bisa mengahadapinya dalam kondisiku seperti ini?"


Sementara Bira masih mencoba berpikir, pria itu mulai beranjak mendekati Bira. Pria itu berjongkok di depan Bira. Keduanya akhirnya dapat melihat wajah satu sama lain.

__ADS_1


"Hola." Sapa pria itu dengan smirk aneh miliknya.


"Cuih, siapa kau!" Balas Bira disertai dengan meludah tepat di wajah pria itu.


"Hahahaha,,," Tawa yang menggelegar itu memenuhi seisi ruangan. "Sudah kuduga. Pemilik tattoo ini pasti orang-orang yang pemberani."


Pria itu melirik ke arah tattoo yang berada di dada sebelah kiri Bira. Sebuah tattoo abstrak namun cukup mengerikan untuk diartikan.


"Dan tattoo inilah yang membuatku begitu kesal!" Lanjut pria itu.


"Cuih," Bira langsung meludah ke sembarang arah. Ludah itu berwarna merah yang artinya itu bukan air liur, melainkan darah miliknya.


"kalau kau tahu arti tattoo ini, seharusnya kau tahu di mana tempat kau berada." Ucap Bira penuh dengan penekanan.


"Kau!' Pria itu langsung mengangkat tangan kanannya. Ingin sekali ia menampar Bira sampai ia puas. Tapi pada kenyataannya, tangannya hanya mengambang di udara.

__ADS_1


Bira sendiri langsung menyiapkan dirinya dengan memberikan wajahnya yang sebelah agar rasa sakitnya tidak terlalu parah di satu sisi. Namun, helaan napas ia hembuskan begitu melihat pria itu tidak jadi menamparnya.


"Dasar bedeb*h!" Umpat pria itu sembari menjauhi Bira. Nafas pria itu nampak tak beraturan. Barulah setelahnya ia kembali melihat ke arah Bira. "Kamu beruntung, meski memiliki tattoo itu kamu masih bisa hidup setelah bertemu denganku."


Bira hanya terdiam. Dia mulai paham situasi yang sedang ia alami ini. Pria di depannya ini memiliki dendam dengan orang yang memiliki tattoo seperti miliknya, mungkin lebih spesifiknya adalah mereka yang menciptakan tattoo ini. Dan hal yang membuat Bira terdiam adalah ia tidak mau membongkar siapa yang memberikannya tattoo ini. Tentu ia paham kalau ia bocorkan hal itu, nyawa akan hilang dalam sekejap mata.


"Yah setidaknya aku sudah puas denganmu." Lanjut pria itu seraya tersenyum puas. Maksud kepuasan di sini adalah kepuasan setelah membuat Bira babak belur seperti ini.


Bira ingat betul siapa yang membuat dia sampai sulit menggerakkan anggota tubuhnya. Dan itu adalah pria ini, bukan Biantara. Karena sewaktu Biantara memperkenalkan dirinya dan mulai mengintorgasinya, Biantara tidak banyak memberikan luka berarti baginya. Hanya pertanyaan tentang hubungannya dengan Cia dan Clara yang Biantara lontarkan padanya. Oh, dan tentang tattoo yang Bira miliki tentunya.


Namun baru lima menit introgasi, salah satu bawahan Biantara masuk dan memaksa Biantara untuk pergi dari sana. Akhirnya, pria inilah yang malahan mengeksekusinya tanpa ampun.


Satu spekulasi lain yang Bira pikirkan tentang pria ini. Selain dendam dengan pembuat tattoo miliknya, pria ini murni bukan bawahan Biantara. Hal itu dapat Bira lihat dari kedatangan pria ini yang langsung menghabisi bawahan Biantara begitu melihat tattoo miliknya.


"Aku yakin kau bertanya siapa aku." Ucap pria itu. Dia merogoh sakunya dan melemparkan sebuah kunci ke arah Bira. "Biar ku jawab hal itu. Aku bukan siapa-siapa. Bukan pula bawahan bangsawan Biantara itu. Aku hanya orang yang akan menghabisi orang itu!"

__ADS_1


Pria itu menunjuk ke arah Bira. Bukan. Bukan ke arah Bira. Tapi ke arah tattoo Bira.


__ADS_2