Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
42. Pembicaraan Tak Enak


__ADS_3

Di sebuah warteg pinggir jalan, seorang pria tampan masuk ke sana mengenakan kaos oblong warna putih terpadu dengan celana pendek warna hitam. Perwakannya yang tinggi dan tidak memiliki tampang pribumi pada umumnya jelas membuatnya jadi sorotan di sana. Bahkan emak-emak yang melayaninya sampai dibuat salah tingkah hanya dengan suaranya yang sangat macho.


Setelah pesanannya sampai, pria itu langsung menyantap makanan sambil sesekali melirik ke arah jam yang ada di tangan kirinya.


"Kenapa mereka berdua sangat lama?!" Gerutu Bira dengan nada yang sangat pelan agar tidak ada yang dapat mendengarnya. Untungnya baru 5 detik setelahnya, dua orang pria menghampirinya dan langsung memesan makanan.


"Kalian berdua lama! Gara-gara kalian aku jadi harus pusat perhatian di sini." Ucap Bira tanpa menoleh kepada salah satu di antara mereka.


"Ma, maaf terlambat, tuan." Jawab Donny dan Jay bersamaan. Selang beberapa menit, akhirnya makanan untuk Donny dan Jay sudah tersedia di depan mereka masing-masing. Karena Bira malas memperpanjang masalah keterlambatan, mereka akhirnya makan hingga semua piring bersih tak tersisa. Kini tinggal meminum kopi sambil bekerja.


"Bacakan laporannya, Jay." Perintah Bira seraya menyeruput kopinya. Otomatis Jay langsung menjelaskan pada Bira laporannya seperti biasa sedangkan Donny hanya menyimak karena bagiannya hanya menjadi muka di luar perusahaan.


"Mungkin itu saja, tuan." Tutup Jay sambil mencatat beberapa poin penting dari Bira.

__ADS_1


"Oke, selanjutnya kamu, Donny." Balas Bira seraya melirik ke arah Donny. Yang dilirik langsung menyerahkan sebuah map coklat pada Bira.


"Hampir tidak ada perubahan yang berarti selama 2 minggu terakhir, tuan. Tapi kemarin lusa ada berita mengemparkan yang terjadi." Kata Donny takut-takut.


"Apa itu?" Bira nampak tertarik dengan perkataan Donny. Sebelum menjelaskan, nampak Donny mengambil nafas panjang untuk menjelaskan.


"Nona Clara masuk rumah sakit, bos."


"Apa?!"


"Haduh, mati aku." Batin Donny pada dirinya sendiri. Dia paham betul letak kesalahannya di mana. Dan sewaktu melaporkan berita ini semalam pada Bira, dirinya sudah mempersiapkan mental meski ujung-ujungnya panik juga.


"Ma, maaf baru bisa mengabari sekarang, tuan. Ta, tapi tuan tenang saja. Sekarang nona Clara sudah pulih dan dapat dipastikan besok dia sudah mulai bekerja." Terang Donny dengan ketakutan yang masih terlihat jelas. Bira yang mendengar hal itu mencoba untuk mengontrol emosinya. Dia sedang berada di tempat umum yang tak mungkin baginya untuk mengamuk di sana.

__ADS_1


Satu jentikan jari Bira utarakan pada gelas kopi sebagai isyarat agar Donny melanjutkan laporannya. Tentu Donny paham tuannya ini sedang marah kepadanya. Oleh karena itu, dia harus terus menjelaskan agar mood tuannya tidak kian memburuk.


"Seperti yang sudah saya jelaskan barusan, tuan. Nona Clara masuk rumah sakit kemarin lusa. Hal itu dapat kami ketahui setelah kemarin beberapa orang mencoba mencari tahu tentang kejadian antara tuan dengan nona Clara di hotel itu."


"Cih, dasar tidak becus! Kenapa bisa-bisanya telat mendapatkan informasi tentang Clara padahal aku jelas-jelas menyuruh kalian mengawasinya!" Nada Bira kembali menekan kedua pria di sebelahnya. Bahkan Jay yang hanya menyimak bisa merasakan aura yang mengerikan dari tuannya itu.


"Sekali lagi saya mohon maaf, tuan." Donny langsung membungkukkan badannya ke arah Bira. Dia menghiraukan pandangan sekitar tentangnya. Lebih baik dicap aneh daripada harus kena hukuman tuannya.


Bira menghela nafas panjang. Semua sudah terjadi. Dia tidak bisa terlalu menyalahkan anak buahnya akan hal ini karena sewaktu memberi perintah, dia meminta agar mengawasi Clara namun secara pasif. Maksudnya hanya mengawasi Clara tidak begitu mendalam sampai setiap detik harus diperhatikan.


"Kali aku maafkan. Tidak ada lain kali." Tegas Bira tanpa menoleh ke arah Donny.


Dengan lega Donny kembali duduk ke tempatnya. Ia tak mau terlalu mengambil perhatian orang banyak. Terlebih tuannya tidak terlalu suka diperhatikan orang banyak.

__ADS_1


"Jadi apa benar itu dia?" Tanya Bira setelahnya. Nampaknya Bira sudah dapat menerka siapa orang yang mulai mencari tahu tentang malam itu.


"Benar, tuan. Tapi masalahnya ada beberapa orang juga selain mereka."


__ADS_2