
"Ti, tidak. Tidak apa-apa." Panik Iris langsung menyenggol lengan Tio. Dia berharap Tio bisa diajak bekerja sama saat ini. Karena ia pasti akan kehilangan mukanya di depan Bira jika Bira tahu kalau semalam Iris tidur sambil memeluk Bira. "Benar kan, paman?"
Iris menatap tajam ke arah Tio. Sedangkan yang ditatap hanya bersikap cuek. Sudah lama sekali Tio tak melihat nona kecilnya bersemangat seperti ini. Mungkin sudah puluhan tahun semenjak kepergian orang tuanya.
"Kami sedang membahas bintang semalam, tuan. Nona sangat suka sekali melihat mereka di malam hari," Mendengar ucapan Tio, Iris langsung membuang nafas lega.
"Tapi belakangan ini beliau kurang antusias." Sambung Tio sambil menunjukkan ekspresi cukup serius. Jelas Iris kembali menoleh ke arahnya.
"Kenapa?" Heran Bira seraya Ia mengembalikan ponsel milik Tio.
"Karena dia mulai merasa bosan melihat bintang sendirian. Ah, mungkin tuan Bira bisa mendampingi nona agar tak terlalu kesepian." Jawaban Tio ini tak hanya membuat Iris melotot ke arahnya. Mulut Iris bahkan terbuka lebar saking kagetnya.
"Ah, tidak. Tidak. Paman barusan berbohong," protes Iris sambil menghalangi pandangan Bira yang menatap ke arah Tio dengan kedua tangannya yang membentang.
"Hhhhm, kamu serius?" Bira mengganti gimick badannya layaknya seseorang yang sedang meneliti sesuatu dengan posisi sebelah tangan menopang dagunya.
__ADS_1
"Tentu saja." Balas Iris.
"Kamu seriusan kesepian?"
"Hah?" Iris tercengang mendengarnya. Bagaimana bisa Bira sebelas dua belas dengan paman Tio. Dia tak habis pikir.
"Kamu tak usah khawatir, aku akan menemanimu. Setidaknya sampai kondisi tubuh benar-benar membaik. Boleh, kan?"
"Tentu saja, tuan." Bukannya Iris yang menjawab, Tio malah lebih dulu menyerobot.
"Hah? Apa-apaan ini. Kalian tak adil." Ucap Iris tak percaya dengan kedua pria itu.
"Aih, nampaknya aku lebih baik pergi dulu, tuan Bira. Menurut firasatku ada anak beruang sedang marah padaku. Bye." Tio langsung tancap gas untuk pergi meninggalkan Iris dan Bira di sana. Meski sudah berumur hampir setengah abad, tapi tingkahnya benar-benar seperti masih remaja yang mengalami pubertas.
"Paman,,,," Panggil Iris dengan perasaan sebal. Tak habis pikir ia dengan pamannya itu. Bagaimana bisa di mencomblangkan majikannya sendiri. Yah, walaupun kalo memang bisa mungkin Iris akan mempertimbangkannya.
__ADS_1
"Jadi namamu Iris?" Tanya Bira.
"Hhhhm,," Jawab Iris tanpa mau membuka mulutnya.
"Apakah kamu sakit gigi? Kok menjawab pertanyaan saja seperti tak bisa bicara." Lanjut Bira.
Iris hanya menatap Bira sekilas. Lalu ia menghiraukan Bira dan membalikkan badannya hendak kembali menyirami beberapa tanaman.
"Namamu indah seperti rupamu." Terang Bira meski ia tahu mungkin wanita bernama Iris itu mendengarnya ataupun tidak.
"Dan nama serta wajahmu mengingatkanku akan seseorang." Batin Bira menatap ke arah langit. Berharap setidaknya tuhan mendengarnya.
"Aw,,," Rintih Bira langsung mengangkat kaki kanannya.
"Jangan menggodaku itu tak akan mempan." Balas Iris yang ternyata setelah mendengar ucapan Bira ia langsung menginjak kaki kanan Bira.
__ADS_1
"Heh, cewek aneh. Awal ketemu kamu gugup terus. Waktu sudah kenalan malah galak," Gumam Bira tanpa mengeluarkan suaranya. Ia hanya menatap Iris dan Iris menatapnya balik. Tangan terangkat dan menunjuk mata Bira dengan dua jari miliknya, seperti sedang mengatakan awas saja kalau macam-macam. Lalu, ia meninggalkan Bira.
"Gadis yang menarik," Batin Bira seraya menggelengkan kepala tak percaya ia bisa langsung tertarik begitu saja kepada gadis muda seperti Iris.