Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
68. Kembali


__ADS_3

2 jam perjalanan, akhirnya Bira sampai di kota tempat Clara berada. Niat awalnya adalah langsung menemui Clara begitu saja. Namun, karena menurut Jay hal itu terlalu berbahaya, jadi Bira memutuskan untuk kembali ke kosannya terlebih dahulu.


Di karenakan letak kosannya yang ada di ujung gang, mau tak mau Jay hanya bisa mengantarkan bosnya di pinggir jalan.


"Tuan serius ingin jalan saja dari sini?" Tanya Jay seperti tak rela melihat bosnya itu berjalan kaki.


"Ya, tentu saja. Bukannya biasanya juga seperti ini?" Balas Bira dengan entengnya. Ia langsung membuka pintu mobil dan keluar. Sebelum masuk ke gang, ia berbalik ke arah kaca mobil Jay.


"Iya, tuan. Apa ada yang lupa?" Tanya Jay lagi melihat Bira dari dalam mobil.


"Tidak. Tidak ada yang lupa. Aku hanya mau mengingatkan, jangan terlalu lama merancang rencana agar aku bisa bertemu dengannya. Semakin cepat semakin bagus, oke?"


"Hah? Ini bos seriusan? Tumben dia gerak cepat urusan wanita. Apa jangan-Jangan bos udah suka sama wanita itu?" Batin Jay.

__ADS_1


"Ah, iya bos. Tentu. Kalau bisa malam ini. Nanti saya kabari." Jawab Jay sekenanya.


"Ah yang benar? Malam ini?" Bira langsung antusias.


"Ya, kalau bisa, tuan."


"Tak usah seperti itu. Aku tahu kamu pasti bisa." Bira sangat yakin kalau Jay bisa. Dia hanya sedang menguji Bira saja saat ini. "Oke, kalau begitu aku masuk dulu. Kau pergilah dan kerjakan tugasmu."


"Baiklah, tuan." Jawab Jay seraya menutup kaca mobil. Dan langsung meninggalkan Bira di sana. Bira sendiri langsung melanjutkan langkahnya menuju kosan tampat ia tinggal. Ia sedikit berharap kalau Bian dan Anggi tak berada di kosan saat ini. Tentunya kalau mereka ada di sana, semuanya akan menjadi sangat heboh.


Berbeda dengan Bira yang bisa sampai ke dalam kos-kosannya tanpa perlu ada yang namanya gangguan dari Bian dan Anggi, Clara sendiri malah terlihat sibuk mengotak atik kamarnya hingga berantakan.


"Mbok, mbok! Mbok Inem!" Teriak Clara memangil-manggil satu-satunya pembantu di rumahnya. Semenjak bercerai dengan Adelard dan kesal pada ayahnya, Clara memilih untuk membeli sebuah rumah untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Iya, non." Sahut mbok Inem dengan suara yang kian mendekat ke arah Clara. "Ya ampun, non. Kok kamarnya diberantakin kayak kapal pecah, sih?"


Bukannya menjawab, Clara malah merengek seperti anak kecil. Ia berlari ke arah mbok Inem dan memeluknya.


"Hiks, hilang mbok." Rengek Clara dalam pelukan mbok Inem. Entah apa yang ia tangisi, mbok Inem tak tahu.


"Apanya yang hilang, non?" Tanya mbok Inem sambil mengelus rambut Clara.


"Map coklat yang sering aku bawa mbok. Hilang. Huaa,,,," Tangis Clara semakin menjerit. Mbok Inem yang sedang memeluk dibuat keheranan.


"Aduh, non. Gak usah nangis gitu. Masak non lupa sih, semalem ngapain."


"hiks, emangnya ngapain, mbok."

__ADS_1


"Haduh, non, non. Bisa-bisanya lupa padahal semalem kan non sendiri yang bawa map coklat itu ke kamar mbok. Kata non semalem tuh, 'mbok aku nitip map ini di sini ya. Jangan dihilangin. Ini penting banget!' Gitu." Terang mbok Inem dengan mengikuti cara bicara Clara semalam.


__ADS_2