
"Ma, mama itu wanita kuat. Jangan sedih terus. Aku jadi ikutan sedih kalo mama sedih." Seorang anak kecil melambaikan tangan pada Clara.
"Ka, kamu siapa?!" Tanya Clara setengah panik lantaran anak kecil itu kian menjauh darinya. Dia tak bisa melihat dengan jelas wajah anak kecil itu. Karena semakin ia berlari mengejar, semakin jauh pula dirinya dengan anak kecil itu.
"Jan, jangan pergi!" Seketika Clara terbangun dari tidurnya. Sontak ia kaget dengan tempat ia terbangun sangat asing dari terakhir kali yang ia ingat. Tempat itu bercat putih dengan beberapa perlengkapan yang bisa Clara asumsikan ia sedang di dalam kamar sebuah rumah sakit.
"Hah?!" Clara heran karena selang infus menancap di tangan kirinya. Ia paham ada di rumah sakit. Tapi kenapa juga dia harus di infus. Clara pun mencoba mengingat hal terakhir yang ia lakukan sebelum bisa kemari. Namun sedetik kemudian pintu kamar terbuka. Seorang wanita paruh baya langsung menghamburnya dengan pelukan. "Mama?!"
"Hush,,, kamu ini bikin mama panik saja." Tanpa sadar wanita yang dipanggil ibu oleh Clara meneteskan air matanya. Clara yang mengetahui itu pun ikut terbawa suasana. Ia menangis sambil membalas pelukan sang mama.
Beberapa menit berlalu mereka lakukan hanya untuk berpelukan. Wanita bernama Nesya itu pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah anaknya. "Sudah, jangan sedih lagi ya."
Sebuah senyum manis pada wajah sang mama membuat hati Clara meleleh. Mamanya memang wanita yang sangat cantik meski umurnya susah tak muda lagi.
"Gak kok, ma. Siapa yang sedih? Orang mama yang tiba-tiba masuk sini dengan muka sedih." Canda Clara sambil menyeka air matanya yang masih tertinggal.
__ADS_1
"Lagian kamu pake acara pingsan. Kan mama jadi khawatir."
"Hehehe,, maaf, ma. Oh, iya mama sendirian ke sini?!" Clara sedikit heran karena melihat mamanya masuk ke kamar itu sendirian.
"Oh itu. Mama sama kang Adji. Tadi begitu dengar kamu pingsan dan di larikan ke rumah sakit sama mbok Inem, mama langsung minta tolong di anter ke sini sama kang Adji." Terang Nesya sambil mengelus rambut putrinya. "Oh iya. Papa juga dalam perjalanan kemari. Kalau tidak salah mungkin sekarang sedang diparkiran."
"Hah?!" Kaget Clara entah atas dasar apa.
"Hei,,,, Kenapa malah kaget gitu?!" Heran Nesya melihat Clara yang langsung terlonjak kaget begitu tahu suaminya akan datang. "Kamu gak ada masalah kan?"
"Clara?" Nesya menepuk pelan pundak anaknya yang tiba-tiba saja melamun.
"Y, ya!" Jawab Clara spontan. Nesya yang melihat tingkah Clara hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Clara, kamu kenapa? Kalau ada masalah coba ceritain ke mama. Gak usah dipendam sendiri."
__ADS_1
"G, gak kok, ma. Gak ada masalah."
"Gak ada masalah?! Apa aku tidak salah dengar Clara?!" Suara itu bukan berasal dari Nesya, melainkan dari luar kamar.
Ceklek, pintu kamar itu pun terbuka dan menampilkan seorang pria yang tak lain adalah ayah Clara.
"Coba kamu jelaskan padaku bahwa saat ini tidak ada masalah?" Ayah berjalan mendekati ranjang tempat Clara dan Nesya berada. Raut wajah pria itu nampak sedang tidak baik-baik saja. Lebih terlihat sedang menahan amarahnya agar tak meluap begitu saja.
Clara yang melihat itu tentunya ketakutan. Dia yakin tidak melakukan kesalahan akhir-akhir ini. Tapi melihat ayahnya yang murka seperti ini tentu saja membuat nyalinya jadi ciut. Jika ia bisa bandingkan dengan kemarahannya beberapa waktu lalu ketika tahu bahwa suami selingkuh, sungguh sangat berbeda. Pancaran kemarahan ayahnya nampak sangat berbeda kali ini. Oleh karena itu, Clara menjadi semakin ketakutan dan memilih untuk bersembunyi di belakang mamanya.
"Sayang, ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba saja jadi emosi sekali?" Nesya mencoba menenangkan sang suami.
"Huh, maaf kalau aku menunjukkan kemarahan aku di depan kamu, sayang. Tapi, gak mungkin aku gak marah kalau tahu kebenarannya seperti itu." Ayah Clara sedikit melunak ketika berhadapan dengan sang istri.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Kebenaran yang aku maksud adalah Clara dinyatakan positif hamil."