Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
61. Tio


__ADS_3

"Ah itu. Tak masalah. Aku hanya kebetulan lewat saja semalam dan melihatmu tergeletak di jalanan semalam." jawab Iris.


"Lagipula yang mengangkatmu adalah pak Tio." Lanjutnya.


Bira menganguk tanda bahwa ia mengerti ucapan Iris. Dan saat itu juga datanglah seseorang pria berpakaian rapih menghampiri keduanya.


"Nah, ini dia pak Tio." Ucap Iris memperkenalkan pria itu.


Bira melirik ke arah pria yang baru datang itu. Usianya sudah berpaut jauh dari Bira. Tapi aura kharisma yang dimiliki sangat pekat. Bira sampai membungkuk tanpa sadar ke arah pria bernama Tio itu. Wajahnya juga terlihat sangat bersahabat untuk ditengok.


"Saya Bira, pak. Terimakasih atas pertolongannya semalam. Saya tak tahu akan berakhir seperti apa jika anda tak menolong saya," Ramah Bira. Tangannya menjulur sebagai ungkapan rasa terimakasihnya.


Tio membalasnya dengan senyuman hangat. Lalu pandangannya berubah ke arah Iris. Senyumannya langsung mengembang lebih besar. Terlihat seperti seseorang yang ingin tertawa tapi ditahan.


"Perkenalkan nama saya Tio, tuan Bira. Senang bisa berkenalan dengan anda. Tapi nampaknya anda salah paham tentang satu hal di sini." Ucap Tio membuat Iris memelototinya.

__ADS_1


"Maksud anda?"


"Memang benar saya yang menolong anda dengan menggotong anda ke dalam mobil dan ke vila ini. Tapi orang yang paling cemas dan sangat ingin menolong anda adalah wanita di belakang anda, tuan." Jawab Tio ramah.


Muka Iris langsung seperti kepiting rebus. Merah padam tapi menyala terlebih karena kulitnya yang begitu putih mulus jadi warna darahnya terlihat jelas.


"Paman,,," Bisik Iris agak sedikit kencang karena jawaban Tio barusan membuatnya begitu malu.


"Hahahaha,, Tak perlu malu. Bagiku itu sangat manis. Menolong orang tak dikenal itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh semua orang. Dan kau berarti orang spesial," Ucap Bira sambil berjalan ke arah Iris. "Sekali lagi, terimakasih."


"Kau imut sekali," Ucap Bira dengan polosnya. Dan setelahnya ia meninggalkan Iris berjalan ke arah Tio.


"Tuan Tio, maaf kalau kurang sopan. Tapi apakah aku boleh meminjam ponselmu sebentar?"


"Tentu, tuan. Tapi tuan bisa memanggilku Tio saja." Tio langsung mengeluarkan ponselnya dari sakunya pada Bira.

__ADS_1


"Baiklah jika itu kemauan anda." Bira langsung meraih pnsel itu dan segera mendial sebuah nomor. Tak perlu menunggu, panggilan itu langsung diangkat.


Nampak Bira berbicara dengan seseorang dalam panggilan itu tapi tak satu pun bisa di dengar oleh Iris maupun Tio karena Bira izin untuk mengonbrol menjauh dari keduanya.


"Paman, dia bukan orang jahat, kan?" Tanya Iris pada Tio. Melihat Bira yang langsung menjauh membuat Iris sedikit curiga.


"Hhhhm, sepertinya tidak, nona. Jika ia jahat, nona tenang karena ia takkan bisa berbuat apapun di sini. Lagipula kalau dia jahat, bukannya nona sudah terlanjur jatuh cinta padanya?" Jawab Tio dengan nada yang serius di awal namun sedikit bercanda di akhir.


"Aih, paman. Jangan mulai lagi deh." Iris menyenggol lengan pamannya. Rasanya sangat memalukan jika Bira mendengarnya. "Aku hanya menolongnya. Tidak lebih,"


"Oh, apakah benar? Lalu kenapa nona yang biasanya sulit untuk tidur langsung bisa terlelap ketika memeluknya?" Lanjut Tio menggoda nona kecilnya ini.


"Hah?! Paman melihat hal itu semalam?" Iris langsung menoleh ke arah Tio dan memelototinya. Ia tak percaya kegiatan rahasianya untuk memeluk Bira ternyata disaksikan oleh Tio.


"Melihat apa?" Potong Bira sebelum sempat mulut Tio menjawab pertanyaan Iris. Ternyata Bira sudah selesai menelpon dan sempat mendengar pertanyaan Iris barusan.

__ADS_1


__ADS_2