Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
69. Map coklat


__ADS_3

"Hah, masak iya sih, mbok?" Tanya balik Clara. Ia tak percaya kalau dirinya bisa jadi sebodoh ini.


"Gak percaya?" tanya mbok Inem sambil melepaskan pelukannya dan beralih menatap mata Clara yang masih terlihat bulir air mata di sana. Clara membalasnya dengan anggukan. "Coba non, ke kamar mbok sekarang. Lihat di laci paling yang paling atas. Dan kamar non, biar mbok yang beresin."


"Oke. Clara cek dulu." Clara langsung pergi begitu saja ke kamar mbok Inem.


"Jangan lari, non." Pinta mbok Inem pada Clara, entah didengar atau tidak oleh Clara.


"Ada aja kelakuan anda, non." Ucap mbok Inem menatap kepergian Clara dalam kamar. Dan setelah Clara tak terlihat, mbok Inem mulai menerawang sekitarnya.


"Hais, non. Cuman buat nyari map doang kok sampai harus di bikin berantakan semuanya," Binggung mbok Inem melihat ulah nonanya itu. Tentunya penampakan kamar Clara kini sungguh seperti kapal pecah. Semuanya berserakan tak beraturan, khususnya semua barang di bagian lemari. Semuanya pakaian Clara tertinggal untuk berserakan di lantai.


Kurang lebihnya beginilah rumah Clara sekarang. Dengan uang tabungannya ia membeli sebuah rumah minimalis dengan desain yang elegan namun tak begitu mewah. Setidaknya cukup untuk dirinya saja karena dirinya tak berniat untuk tinggal dengan siapapun di sana. Dan karena keinginannya itu, kamar di rumah itu sangat minim. Terhitung hanya ada 4 kamar yang tersedia di rumah itu. Satu kamar utama digunakan oleh Clara. Kamar kedua diberikan untuk mbok Inem. Sisa kamar ia gunakan sebagai gudang dan tempat ia bekerja.


"Mbok, mbok!" Panggil Clara lagi dari arah luar kamar. Dari getaran suaranya, Clara seperti sedang berlari ke arah mbok Inem.


"Iya, non!" Sahut mbok Inem dari dalam kamar sambil mulai merapihkan kondisi kamar Clara.


"Ketemu. Akhirnya, mapnya ketemu." Ungkap Clara dengan antusias ketika dirinya sudah berada di depan pintu kamar dan masih bisa dilihat dengan jelas oleh mbok Inem guratan lelah karena lari di wajah Clara.

__ADS_1


"Haduh, non. Jangan lari-lari an di dalem rumah. Mbok takutnya nanti non kepeleset, loh." Balas mbok Inem sedikit menekankan suaranya sambil geleng-geleng kepala karena nonanya malah benar-benar berlarian di dalam rumah.


"Iya, mbok. Clara tahu, kok." Jawab Clara tak mau kalah. Dirinya kemudian berjalan mendekati ranjang dalam kamarnya itu. Dan langsung merebahkan dirinya sambil memeluk map coklat itu.


"Diomelin terus, kok gak ngerti-ngerti nih si non?"


"Iya, mbok. Aku paham, kok. Cuman tadi kepengen lari aja." Jawab Clara enteng. Mendengar itu, mbok Inem hanya bisa geleng-geleng kepala.


Mbok Inem sebenarnya cukup bersyukur kalau nonanya ini selama hamil tidak pernah meminta yang aneh-aneh padanya. Yah, meskipun sering kali ia harus mengelus dada ketika melihat kelakuan Clara yang sering seperti anak kecil. Entah itu suka berlarian atau hal-hal lain yang seharusnya tak dilakukan oleh orang dewasa.


"Non, pertanyaan mbok semalem belum non jawab, loh." Sebuah kalimat pertanyaan terlintas dalam benak mbok Inem. Semalam, ketika Clara menitipkan map ini padanya, ia sudah sempat bertanya apa isinya. Namun, karena sudah terlalu malam, Clara tak sempat menjawabnya.


Teett,,,teeettt,,,teeet,,, Belum genap jawaban Clara, terdengar sebuah nada dering dari ponsel tentunya.


"Punya mbok?" Tanya Clara dengan watados atau wajah tanpa dosa selagi menyodorkan sebuah ponsel yang berbunyi.


"Hah? Itu jelas-jelas hapenya non. Kok masih nanya punya mbok atau bukan," Jawab mbok Inem dengan penuh kesabaran.


"Hehehe, iya, ya. Ini ponsel aku. Tapi kan siapa tahu mbok habis beli ponsel, terus tadi ditaruh sini."

__ADS_1


"Iya, udah. Mendingan telponnya diangkat kasian yang nelpon nungguin." Potong mbok Inem tak mau meladeni kenyelenehan nonanya.


"Nomor, mbok. Gak tahu nomornya siapa ini," Ucap Clara sebelum mengangkat panggilan itu.


"Hhhhm, angkat aja dulu, non. Siapa tahu penting." Saran mbok Inem takutnya yang menelpon adalah ayahnya Clara karena setahu mbok Inem kontak yang diblokir akan muncul seperti nomor yang tak dikenal. Dan nomor ayah Clara termasuk ke dalam nomor yang diblokir oleh Clara.


Clara hanya menurut. Ia menggeser icon warna hijau dan panggilan pun tersambung. Awalnya Clara membalas balik sapaan si penelpon dan mulai menanyakan pertanyaan klasik, seperti siapa ini dan apa tujuan menelponnya.


"Hah? Serius? Kamu sudah berhasil nemuin dia?" Kata Clara membuat mbok Inem langsung terperanjat lantaran Clara yang tiba-tiba saja bersuara cukup kencang.


"...." Balas orang dari ujung telpon, mbok Inem tak bisa mendengar sedikit pun pembicaraan keduanya. Namun, yang pasti, Clara nampak sangat senang dibuatnya.


"Oke, nanti malam aku pasti akan datang." Sambung Clara sangat bersemangat. Setelah basa-basi sebentar, panggilan terhenti ketika keduanya mematikan panggilan. Clara langsung memeluk mbok Inem.


"Aduh, duh, non. Kenapa sih? Tiba-tiba teriak, tiba-tiba meluk. Ada apa?"Ucap Mbok Inem masih sedang merapihkan pakaian Clara.


"Hehehe aku seneng banget, mbok. Ah, maksudnya bayi dalam kandungan aku seneng banget." Balas Clara agak salah tingkah karena ucapannya sendiri.


"Kok bisa?"

__ADS_1


"itu karena sebentar lagi bayi dikandungan aku bakal ketemu sama ayahnya!"


__ADS_2