Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
26. After


__ADS_3

Bira mengecup kening Clara setelah ia berhasil melakukan pelepasan terkahir kalinya.


"Ah, nikmatnya." Ucap Bira menidurkan dirinya di samping Clara. Tentu saja dia lelah, tapi mendapati wanita yang ia tiduri ternyata masih perawan membuat rasa lelahnya menghilang entah kemana. Dia melirik ke arah Clara yang sudah tertidur lelap.


"Aku tahu ini sebuah kesalahan. Dan kuyakin kau tidak akan meminta pertanggung jawaban dariku. Tapi apabila ke depannya kau membutuhkan ku, maka itu adalah sebuah prioritas bagiku." Sambung Bira. Dia sendiri binggung kenapa dia bisa mengucapkan hal itu, tapi dia merasa perlu membuat janji seperti itu pada dirinya sendiri. Akhirnya, dia memutuskan untuk ikut bergabung dengan Clara ke alam mimpi dan mengurus semuanya nanti saja. Dan tak lupa pula dia membawa Clara dalam pelukannya.


******


Sebuah cahaya menyentuh hangat wajah cantik Clara. Meski terusik dengan sinar yang menyilaukan, Clara tetap memilih untuk masuk ke dalam dunia mimpi. Dia juga memeluk erat guling hangat di sebelahnya. Semakin ia peluk, semakin ia merasa nyaman. Terasa seperti ada sebuah kehangatan dalam setiap detik pelukannya. Dan ketika raga sukmanya mulai tersadar, ia meraba guling nyamannya dengan teliti. Betapa terkejutnya Clara ketika merasakan guling yang kasar dan berotot.


'Hah, berotot.' Batin Clara masih dalam keadaan terpejam.


"Guling berotot?! mana mungkin." Kaget Clara sudah bangun dari tidurnya. Namun belum sempat ia melihat guling berototnya, kepalanya tiba-tiba terasa pusing. Perutnya bergejolak seperti gunung yang hendak menyemburkan laharnya.


Dengan cepat Clara pergi ke dalam toilet. Dia terduduk di depan closet dan memuntahkan semua makanan yang beberapa saat lalu ia makan. Tak habis pikir dia bisa memuntahkan semuanya begitu saja. Namun ia sadar bahwa tidak hanya perutnya yang mual, badannya pun juga terasa sakit semua. Terutama pada bagian inti dirinya.

__ADS_1


"ugh,, kenapa badanku terasa seperti remuk semuanya." Ucap Clara berjalan ke arah westafel untuk membasuh mukanya.


Dan,,,,


"Aaaaaaaaa......." Teriak Clara begitu melihat tampilan dirinya. Dan teriakan itu membuat Bira yang sedang tertidur tertarik ke dalam dunia nyata secara paksa. Refleks Bira menuju ke arah kamar mandi tempat sumber suara yang ia dengar.


1, 2, 3. Kedua insan itu akhirnya saling bertatapan secara sadar setelah semalam saling beradu.


"Aaaaaaaaa,,,,,,," Clara malah melanjutkan keterkejutannya. Dia menunjuk ke arah burung Bira yang ternyata masih terekspos bebas. Bira pun ikut melihat ke arah yang ditunjuk Clara.


*****


"Jadi nama kamu Bira," Tanya Clara mengintrogasi Bira. Mereka berdua kini telah menggenakan pakaian masing-masing, tidak seperti beberapa menit yang lalu.


"Em, iya." Jawab Bira Singkat, dia binggung harus berkata apa. Terlebih ketika dia tahu sifat Clara yang berbanding terbalik dengan yang tadi malam. Jika tadi malam Clara begitu manja dan membutuhkan Bira, kini dia terlihat begitu berwibawa dan tegas. Hal itulah yang membuat Bira binggung menanggapinya.

__ADS_1


keheningan terjadi setelahnya. Ternyata Clara pun binggung bagaimana dia harus menyikapi hal ini. Dia paham betul bahwa dia sedang dalam keadaan mabuk dan dia pula yang menggoda Bira. Karena begitulah Clara, tetap ingat apa yang ia lakukan meski dalam keadaan mabuk. Dan jujur bagi Clara itu bukan kelebihan. Dia harus menyimpan memori ingatan memalukan setiap kali ia mabuk. Meskipun, dia baru beberapa kali merasakan mabuk.


"Kau ingat yang terjadi tadi malam?" tanya Bira ragu-ragu. Dirinya hendak memastikan apakah Clara marah atau akan meminta pertanggung jawaban darimya.


"Hemm," jawab Clara tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia terlalu malu mengungkapkan bahwa dirinya ingat semua detail kejadian itu. Bagaimana dia begitu menikmati penyatuan mereka.


Bira pun mengganguk seolah memahami maksud kode dari Clara. Dan suasana kembali hening. Keduanya kembali larut pada pikiran masing-masing. Sampai pada beberapa menit kemudian sebuah pesan muncul dalam ponsel Clara. Dan entah dari siapa pesan tersebut Clara tidak tahu, hanya saja ketika dia mendengar dering pesan ponselnya membuat otaknya menemukan sebuah ide.


"Ah, Bira...." Kata Clara mengejutkan Bira yang tadi termenung. Lantas Clara tersenyum melihat tingkah Bira yang dia anggap lucu.


'Sudah tampan, sifatnya juga lucu.' Batin Clara memuji Bira. Namun pikiran itu segera ditepisnya. Bukan saatnya untuk saling mengangumi. Dia butuh jalan keluar agar tidak ada masalah ke depannya.


"ehm, Maaf mengejutkanmu." ucap Clara setelahnya.


"Ah, iya tak masalah." balas Bira menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Jadi, Bira. Bagaimana kalau kita buat sebuah kesepakatan?" Tawar Clara yang direspon dengan cepat oleh Bira, Respon kaget tentunya.


__ADS_2