
"Apa maksudmu?" balas Wengky menatap pria di hadapannya dengan tatapan tidak suka. "sebaiknya kamu tidak asal bicara, Bira!"
"Bukankah seharusnya kamu sudah tahu pelanggaran apa yang dilakukan oleh timmu?" Lanjut pria itu yang tak lain adalah Bira. Dia menghiraukan peringatan Wengky dan melihat ke arah tim musuh yang begitu kelelahan baik secara mental maupun fisik
"Tidak perlu berbelit-belit, apa maksud dari perkataanmu?" Ucap Wengky masih mencoba menerka arti dari ucapan Bira.
"Yah, singkatnya, kamu juga melanggar peraturan dalam pertandingan ini." Balas Bira yang membuat semua mata menatap ke arahnya. Mereka semua mulai berpikir dan mencoba mencari di mana letak kesalahan Wengky, tak terkecuali Wengky itu sendiri. Dia memcoba berpikir apa ada peraturan yang telah ia langgar.
"Mas, apa maksudnya? Ku rasa Wengky menjalankan pertandingan dengan benar, meski mereka bermain sedikit kasar." Kali ini Anggi angkat suara. Bukannya dia ingin tim Wengky menang, sehingga dia tidak percaya ucapan Bira. Hanya saja, bila ucapan Bira salah, bukan tak mungkin Wengky membuat masalah ini semakin rumit.
"Tentu saja. Wengky menjalankan pertandingan dengan sangat baik. Tapi sepertinya kita melupakan sesuatu hal yang penting," ungkap Bira kepada semua orang yang ada di sana. Semua mendengarkan penjelasan Bira. Bahkan Wengky mulai merasa ada sesuatu yang salah. "Pelanggaran yang dilakukan Wengky adalah tidak bermain secara langsung saat pertandingan."
Sontak semuanya kaget mendengarnya. Bian yang ditahan Verly agar tidak pergi kemana-mana pun merasa heran. "Mas Bira, meski berat mengatakan ini, tapi tim Wengky bermain sebagai perwakilannya."
Penjelasan Bian membuat Wengky tersenyum lega. Meski dia tidak bermain, tapi menang benar timnya bermain sebagai perwakilan baginya. Terlebih mereka semua adalah mahasiswa universitas itu. Jadi ungkapan Bira tebantahkan begitu saja.
"Benar sekali. Dia diwakilkan oleh timnya. Tapi, bukannya dia harus ikut bermain juga?" Bira mengucapkannya dengan tenang dan perlahan mendekati Wengky. "Kurasa, kamu menantang kami bertanding futsal secara langsung. Lalu, kenapa kamu melakukannya melalui orang lain? apakah kamu takut?"
"Heh, takut. Kenapa aku harus takut. Untuk mengalahkan kalian aku bahkan tak perlu turun tangan," jawab Wengky gelagapan karena Bira yang terus melangkah ke arahnya. Perbedaan postur badan membuat Wengky menjadi semakin menciut. Tak bisa ia pungkiri bahwa dia takut dengan orang di depannya.
*Oh begitu. Jadi menurutmu, kau tak perlu turun tangan?" Tanya Bira tepat di depan Wengky yang hanya berjarak satu jengkal dengannya.
"i,iya tentu saja," Balas Wengky mencoba memberanikan diri.
"Baiklah, kau benar tentang hal itu. Tapi berarti Anggi dan Bian boleh memintaku sebagai perwakilannya juga kan?" Ucap Bira merobohkan pertahanan Wengky yang sedaritadi menahan ketakutannya.
__ADS_1
"Tidak boleh! pemain haruslah memiliki hubungan dengan univ. Dan peraturan itu dibuat oleh mereka berdua." lantang Wengky mencoba mendorong Bira menjauh darinya. Namun bukannya terdorong, malah dia sendiri yang terjatuh karena kurang keseimbangan.
"Hei, kawan. Kau berlaku licik, lalu kenapa kami tidak boleh mengikuti? Kami hanya mengikuti cara mainmu dan itu salah?" Lanjut Bira yang sudah berjongkok agar setara dengan Wengky. Dia memojokkan Wengky, hingga Wengky kehilangan kendali atas pikirannya dan meninju pipi kanan Bira begitu saja.
"Kurang ajar," Umpat Wengky setelah melayangkan pukulan di pipi kanan Bira. Semua yang melihat itu pun terkejut, bahkan Cia. Dia merasa begitu marah atas kejadian itu. Entah mengapa, perasaannya begitu tidak suka melihat Bira dipukul oleh Wengky.
"Stop!!!" teriak seseorang menghentikan pergerakan semuanya. Tak terkecuali Wengku. Dia langsung mencoba berdiri begitu mendengar suara itu dan menjauh dari Bira karena takut serangan balasan, sedangkan Pria itu berjalan mendekati Wengky.
Plak,,,plak
Sebuah tamparan melayang di kedua pipi Wengky. Jelas Wengky terkejut dan tak terima dengan tamparan yang tiba-tiba itu. Namun begitu menyadari siapa orang itu, Wengky hanya bisa menunduk pasrah.
"Dasar anak nakal, tidak pernahlah kau bosan melakukan masalah?" Tanya pria itu menunjukkan kekesalannya di depan semua orang.
"aw, paman. itu sakit. Lagipula aku tidak membuat masalah, tapi mereka terlebih dahulu yang membuat masalah denganku!" elak Wengky melampiaskan kesalahannya pada Bira dan timnya. Pria itu menatap ke arah Bira yang sudah berdiri dan anggota tim di belakangnya. Tapi dia terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang mendekati Bira, itu adalah Cia.
"Tak apa. Eh Cia, sejak kapan kamu di sini?" kata Bira yang baru sadar Cia sudah kembali dari toilet. Hal itu membuat Cia kembali mengingat kejadian sebelumnya. Sehingga bukannya memeriksa wajah Bira yang dipukul, Cia malah memberikan cubitan pada Bira di bagian pinggul. "Aw, sakit, Cia. hei, apa salahku"
Cia menyudahi cubitannya, tapi ia tidak merasa bersalah sedikitpun. "Biarin, biar kamu bisa jaga mulut."
Sambil memegangi perutnya, Bira hanya bisa menahan rasa sakit yang dia rasakan. Baginya pukulan Wengky memang tidak ada apa-apanya. Hanya saja berbeda dengan cubitan secara tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas, terasa lebih menyakitkan. Sementara itu, yang lainnya menyaksikan kejadian barusan dan semuanya hanya bisa menahan tawa melihat eksperesi binggung Bira. Begitupun dengan Anggi dan Bian yang tadi hendak mendekati Bira. Langkah mereka terhenti dan menyaksikan drama yang menggelitik bagi mereka.
"Nona Cia, itu anda?" Ungkap pria itu setelah melihat kedekatan Cia dan Bira. Melihat Cia yang merasa tidak kenal dengan dirinya, dia menjulurkan tangannya dan menunjukkan luka bakar di area telapak tangannya.
"Owh, paman Ian!" dengan antusias Cia menyalami pria yang dia panggil paman Ian.
__ADS_1
"Nona, hanya anda yang memanggilku seperti itu. Tapi saya bersyukur anda baik-baik saja dan tidak berubah." Sebuah senyum terukir di wajah pria itu. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Cia setelah sekian lama. Namun sayangnya pertemuan mengharukan tidak dapat terjadi. Kali ini Wengky begitu geram melihat Cia yang begitu baik kepada Bian menurut pengalitannya, sehingga dia berencana menjadikan paman ian sebagai tameng.
"paman, itu, pria yang itu. Dia sudah berani mencoreng nama baikku." kata Wengky memutuskan pertemuan antara Cia dan paman Ian. Dengan malas, Ian menoleh ke arah Bira. Bukannya marah, Ian malah tersenyum.
"Ah, nona Cia. nampaknya pertemuan kita harus diatur ulang, pria tua ini harus pergi karena ada sesuatu yang harus dilakukan." Ucap Ian menghiraukan perkataan Wengky. Namun baru beberapa langkah, dia menghentikan langkahnya. "Wengky, apa yang kamu lakukan! Cepat ikut aku, kita pergi dari sini."
"Maksud paman...?" tanya Wengky menggantung perkataannya. Jujur untuk berbicara dengan pamannya sendiri, Wengky begitu takut. Selain memiliki perawakan yang seram, pamannya ini merupakan kunci utama dalam keluarganya. Jadi, setiap berbicara dengan pamannya, dia harus memilih kata yang benar bila tidak mau terkena amarah keluarganya.
"cih, dasar keponakan yang merepotkan. Kamu mau terus mempermalukan dirimu sendiri di sini? Jadi sebaiknya kita pulang. Dan tadi aku mendengar perdebatan kecil antara kalian dengan keponakanku. Untuk masalah itu, kalian adalah pemenangnya. Tapi hadiah tidak bisa ku berikan kepada kalian karena pada dasarnya pertandingan ini tidak valid."Jelas Ian kepada semuanya. Tim Anggi dan Bian bersorak senang dengan pernyataan itu. Meski tak mendapat hadiah yaitu traktiran dari Wengky, mereka tetap bahagia karena usaha mereka tidak sia-sia.
"Apa? paman, apa maksudmu?" protes Wengky tak terima keputusan sepihak oleh pamannya.
"Wengky, jika kamu tidak mau ayahmu marah karena hal ini, sebaiknya kau menurut!" perintah Ian kepada keponakannya itu. Dan dengan berat hati Wengky mengikuti pamannya pergi meninggalkan lapangan itu. Sementara tim Anggi dan Bian menikmati kemenangan mereka atas Wengky yang begitu sombong.
"Ayok, kita makan-makan!" Usul salah satu anggota tim Anggi. Mereka semua mengangguk tanda menyetujui usulan tersebut. Tak terkecuali Cia, dia begitu semangat sampai lupa bahwa Bira melihatnya lebih tepatnya berada di sebelahnya.
"Apa liat-liat!" bentak Cia karena malu. Tak lupa dia mencubit Bira karena binggung harus berbuat apa. Namun untungnya Bira sigap dengan keadaan tersebut. Sehingga terjadilah kejar-kejaran di antara mereka berdua yang entah mengapa itu terjadi, mereka berdua tidak paham.
"Bira ada telpon!" teriak seseorang yang melihat handphone Bira bergetar. Dengan memanfaatkan moment tersebut, Bira lolos dari kejaran Cia. Tak lupa dia memberikan Cia sebuah ujuran lidah dengan arti meledek Cia karena tak dapat menggapainya. Sementara Cia hanya bisa pasrah dan menahan semua kesenangannya karena Bira sudah menjauh dan menggangkat telponnya.
Entah mengapa Cia merasa begitu berbeda dengan kehadiran Bira di sana. Dia merasa begitu senang melihat Bira. Selain senyumnya yang memukau, Cia sadar bahwa pria itu bukan pria sembarangan. Hal itu dapat dibuktikan dari cara Bira menangani Wengky barusan. Bagi Cia, Bira terlihat begitu gentleman. Ketika semua orang takut dengan kekuasaan Wengky, Bira malah dengan lantangnya menantang semua itu. Dan poin itu cukup membuat Cia semakin tertarik kepadanya.
"Hah? apa? Sekarang?" tanya Bira pada orang yang ada di ujung telpon. Ucapan Bira membuat Anggi, Bian, Verly dan Cia mendekatinya. Untungnya Bira menyudahi percakapannya, jadi semuanya tidak tahu apa yang dia bicarakan.
"Ada apa mas?" Tanya Anggi begitu melihat Bira selesai mengangkat telponnya. Semua menatapnya penuh dengan rasa penasaran, tak terkecuali Cia. Dia begitu penasaran, siapa yang membuat Bira sampai kahet seperti itu.
__ADS_1
"Heem, Nampaknya aku harus pergi" ungkap Bira kepada semuanya.