Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
51. Makan Malam Gratis


__ADS_3

"Halo?" Ucap seorang pria tampan pada telpon yang sedang ia angkat sejajar dengan telinganya.


"Argh,,, It's amazing. Ma, maaf. Maksudku, iya, Halo." Ucap seseorang dari seberang telpon dengan gelagapan. Untungnya Bira tidak terlalu mendekatkan ponselnya terlalu dekat dengan telinga. Karena suara barusan cukup kencang himgga bisa membuat gendang telinga kejang-kejang, mungkin.


"Aih, kamu ini bikin kaget aja, Cia." Balas pria itu yang tak lain adalah Bira. Sebuah senyum terukir di wajah Bira. Kalau saja ini via video call, mungkin Cia akan berteriak lebih histeris setelah melihat senyum Bira itu.


"Ma, maaf kak. Aku kaget aja kakak nelpon aku." Jawab Cia yang kali ini tidak terlalu gugup.


"Iya, santai aja. Jadi gimana? Makan malam gratisnya jadi, kan?"


"Dinner, kak. Bukan makan malam gratis."


"Hahahaha,,, kan kalo dinner itu dibayarin si cowok. Ini kan kamu yang mau bayarin aku."


Suara bariton yang berat dan berciri khas cowok itu sontak membuat Cia meleyot. Rasanya ia kehilangan tumpuan pada kakinya hanya dengan mendengar suara yang sangat macho itu. Namun, dirinya menguatkan dirinya agar dinnernya dengan Bira bisa berjalan lancar.


"Ah, kakak. Bisa aja." Jawab Cia seadanya karena sedang berusaha menutupi sikap salah tingkahnya.


"Ya sudah, mau aku jemput sekarang?" Tanya Bira.


"Hah?! Kakak mau jemput aku?!" Cia sampai berteriak saking kagetnya. Bira sontak membuang telponnya agak jauh dengan telinganya.


"Bisa-bisa gendang telinga ku bermasalah kalo nelpon terus sama nih cewek." Batin Bira dengan maksud bercanda.


"Iya, aku jemput aja. Soalnya tadi aku keceplosan bilang mau makan malam sama kamu waktu habis latihan." Sambung Bira.


"Bilang ke siapa, kak?"


"Ya, ke dua saudara itu, Bian sama Anggi. Tadi mereka ngajak nongki malam ini. Terus aku keceplosan. Dan mereka langsung heboh gitu, deh."

__ADS_1


"Hahahaha, gitu ya, kak." Jawab Cia dengan nada yang sedikit dipaksakan.


"Aih, mati ntar gua dikampus. Jadi bahan omongan gua pasti." Batin Cia sambil menerawang nasibnya jika bertemu dua sejoli itu.


"Jadi gimana? Aku jemput atau gak? Soalnya habis heboh gitu, mereka berdua malah minjemin aku motor sama baju mereka. Sayang mereka gak mau ngasih aku uang, hahaha." Lanjut Bira masih menawarkan tumpangan pada Cia.


"Hhhhm, yaudah, kak. Aku tunggu di rumah. Alamat rumahnya habis ini aku kirim."


"Oke, see you."


"I love you too," Balas Cia setelah melihat panggilan tersebut di tutup oleh Bira.


****


Di kediaman Biantara.


"Mbok Inem,,," Panggil Clara seraya berjalan ke arah dapur.


Clara langsung masuk ke dapur.


"Mbok. masak apa malam ini?" Tanya Clara sembari mengamati beberapa makanan yang sudah tersedia di atas piring.


"Malam ini menunya adalah kesukaannya, non. Yaitu serba seafood." Mbok Inem menoleh sebentar ke arah Clara untuk menebarkan senyum terbaiknya pada nona kecilnya itu.


"Wah, jadi makin gak sabar buat makan malam." Ucap Clara spontan. Karena sudah mengamati makanan-makanan itu, tangan Clara jadi gatal untung mencicipi satu persatu makanan itu. "Hhhhm,, enak. Buatan mbok emang paling the best."


Baru ingin membalas ucapannya Clara, mbok Inem malah menyentil tangan Clara pelan.


"Non, kebiasaan deh. Pakai sendok atuh, non." Mbok Inem hanya bisa pasrah dengan kelakuan Clara.

__ADS_1


"Hehehe,, maaf." Jawab Clara dengan menyatukan kedua tangannya seolah sedang meminta pertaubatan.


Dan tiba-tiba saja sekelebat bayangan oranb lewat melintasi dapur. Clara yang menyadari hal itu langsung menghampiri arah bayangan itu berada. Ternyata itu adalah adiknya Cia yang sedang berlari keluar rumah. Tentu Clara tahu kenapa adiknya itu berlari seperti sedang di kejar setan. Hal itu tentunya untuk menghidari ayah dan mama mereka.


"Cia, Cia, sampe lari gitu biar gak ketahuan papa buat keluar." Gumam Clara. Awalnya ia hanya biasa saja melihat adiknya ingin keluar malam-malam begini. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, tumben sekali adiknya berpakaian begitu cantik hanya untuk keluar malam-malam begini.


Akhirnya Clara berinisiatif untuk mengikuti adiknya keluar rumah. Ia telat beberapa detik karena sewaktu Clara membuka pintu rumah, Cia sudah naik ke mobil.


"Aih, cepet banget tuh anak." Batin Clara tak percaya.


"Sudahlah biarin aja." Clara memutuskan untuk mengurungkan niatnya mengikuti Cia. Namun, baru memegang handel pintu, dirinya malah penasaran sosok pria yang bisa meluluhkan adiknya yang begitu manja dan keras kepala itu. Alhasil ia segera menyuruh beberapa pelayan untuk mengantarnya ke gerbang rumah.


Setibanya di gerbang, ia tidak melihat lagi mobil yang Cia kendarai barusan. Ia ingin berspekulasi bahwa mobil Cia sudah pergi meninggalkan rumah ini. Tapi sedetik kemudian pandangan di depannya mematahkan spekulasi miliknya. Terlihat jelas Cia sedang berjalan menghampiri seorang pria yang berbincang dengan para security.


"Pak, sudah saya bilang sama jemput temen saya, Cia." Ungkap Bira dengan sedikit emosi lantaran sudah 15 menit ia tertahan di sini. Para security tak mengizinkannya masuk sedari tadi dengan alasan harus mendapatkan izin dari tuan besar mereka.


"Kak Bira!" Teriakan Cia membuat Bira dan para security menengok ke arah Cia yang sesang berlari ke arah mereka. Tak hanya ke arah Cia, mereka juga melihat ke satu sisi di belakang Cia yang berlari sangat kencang.


Tanpa ada satu pun yang menduga, Clara langsung memeluk Bira dari arah depan. Ya, tak hanya Cia yang mendekat ke arah Bira. Namun, Clara juga ikut ke arah Bira. Bukan mendekat, melainkan langsung menerkam Bira sebelum semuanya sadar akan apa yang terjadi.


"Kak Clara?" Heran Cia.


"Clara?" Bira tak kalah herannya. Ia tak membalas pelukan Clara maupun menolaknya. Pikirannya masih mencoba mencerna kejadian yang sangat tak terduga ini.


Beberapa saat hening. Semuanya hanya mengamati kedua orang yang sedang berpelukan itu. Bahkan entah kenapa Cia malah memperlambat langkahnya. Perasaannya campur aduk melihat saudarinya sendiri memeluk pria di depannya itu.


"Aku rindu," Ucap Clara samar-samar namun masih bisa didengar jelas oleh Bira. Dan setelah mengucapkan kata itu, barulah Clara tersadar. Sesegera mungkin ia melepaskan pelukannya. "Ma, ayah?!"


Bugh,, sebuah pukulan keras mendarat tepat di pipi kiri Bira. Sebuah pukulan yang cukup keras untuk Bira yang masih memikirkan ucapan Clara barusan.

__ADS_1


"Lelaki bangs*t! ikut aku sekarang juga!" Bentak Biantara di mana anak buahnya langsung meringkus Bira.


__ADS_2