Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
36. Baik-Baik Saja


__ADS_3

Orang itu tak lain adalah mbok Inem yang segera menyusul Clara lantaran tak dapat menemukannya di meja makan. Mbok Inem mendekati Clara dan langsung menyergap Clara dengan pelukan hangat. Dirinya tahu betul sehancur apa perasaan Clara saat ini. "Yang sabar, Non."


Ingin sekali Clara berteriak sekencang mungkin dan menanyakan bahwa yang ia dengar salah. Namun entah mengapa kerongkongannya menjadi begitu kering. Semakin ia berusaha berucap, tidak ada satu pun suara yang keluar selain air mata yang mengalir.


Dirinya hanya bisa pasrah dalam pelukan mbok Inem sambil menangis sejadi-jadinya tanpa ada suara. Hatinya sangat teriris seperti sedang disayat secara perlahan oleh seseorang.


"Non, sabar, Non." Mbok Inem mencoba menenangkan Clara dalam tangisannya. Bertahun-tahun bersama Clara tentu membuat dia merasakan rasa sakit yang sama dengan nona kecilnya itu. Jika bisa berandai-andai, mbok Inem lebih memilih mengusir pria itu ketika dirinya menginjakkan kaki di rumah ini. Terlebih begitu ia melihat suami nonanya ini membawa wanita lain ke rumah ini.

__ADS_1


"Sa, sakit, mbok." Lirih Clara dengan tangisan yang masih membasahi pelupuk matanya. Mbok Inem menepuk-nepuk pelan pundak Clara. Meski tak berpengaruh atas tangisannya, mbok Inem berharap setidaknya bisa membuat nona kecilnya itu kuat. "Ap, apa itu benar ma, mas Ade?"


Ingin rasanya mbok Inem menjawab tidak. Tapi bagaimana caranya jawab tidak kalau suara itu sangat familiar. Mbok Inem yang sudah lama berada di sisi Clara tentu sudah tahu akan hal itu. Meski begitu, tetap saja mbok Inem ingin menjawab tidak. Setidaknya agar luka yang ditorehkan oleh pria itu tidak kian membesar.


Hanya sebuah senyum dan pelukan hangat yang mbok Inem berikan pada Clara. Sebanyak apapun mbok Inem berusaha menutupi, sebanyak itulah luka yang harus ditahan. Jadi lebih baik jujur daripada menahan kebenaran itu.


Seperti sebuah sihir, ucapan mbok Inem barusan berhasil menenangkan emosi Clara yang awalnya memuncak. Perlahan-lahan tangis Clara mulai tidak terdengar. Dengan sangat pelan Clara melepaskan dirinya dari pelukan mbok Inem.

__ADS_1


"Hiks,,, ma, makasih mbok karena udah berusaha tenangin aku. Kalau gak ada mbok Inem barusan, aku gak bakal paham lagi bakal ngapain." Clara langsung memeluk mbok Inem sebagai rasa syukur. Jujur tanpa adanya mbok Inem barusan mungkin saja dia akan melakukan hal gila seperti memergoki langsung suaminya.


"Sudah, non jangan nangis lagi. Mend,,,"


"Cih, apa-apaan sih ini. Berisik di depan kamar orang." Seorang wanita memotong ucapan mbok Inem yang hampir genap ucapannya. Wanita itu keluar dari pintu yang tadi hendak Clara masuki. Tanpa berpikir keras, Clara pun tahu siapa wanita itu. Terlebih dengan pakaian yang dikenakan wanita itu tentunya Clara tahu siapa dia.


Tapi ada sesuatu yang membuat Clara atau bahkan mbok Inem menatap wanita itu dengan tatapan tak percaya. Tentunya tatapan keduanya mengarah ke arah jenjang leher si wanita yang nampak beberapa tanda kemerahan.

__ADS_1


Wanita itu menyadari tatapan keduanya. Dengan sebuah smirk licik dia bekata, "Lihatlah ini! Tanda ini tidak akan pernah kau miliki bersama dengan suami mu itu."


__ADS_2