
"Bira?" Tanya Icad untuk memastikan. Ia merasa tidak begitu familiar dengan nama itu.
"Yup. Benar sekali. Tolong bantu carikan aku pria bernama Bira," Clara sangat yakin kalau di tangan Icad mungkin ia bisa menemukan Bira yang hampir selama 2 bulan ini menghilang bak ditelan bumi, meskipun berbagai cara telah ia kerahkan untuk mencarinya.
Icad nampak berpikir. Ia mencoba mengingat-ingat apakah ia pernah menemui seseorang yang bernama Bira, terlebih di kalangan para atasan-atasan perusahaan. Dan hasil pemikirannya adalah nol. Rasanya dia baru kali ini mendengar nama itu.
"Hhhhm,, apa mungkin Bira ini orang biasa? Kalau begitu tak masalah membantu Clara mencarinya. Toh, nanti kalau aku berhasil, Clara pasti akan berhutang budi padaku. Dan dalam keadaan seperti itu aku pasti bisa membuat Clara takluk padaku," Batin Icad sambil menampilkan senyuman maut karena pikiran-pikiran kotor mulai memenuhi otaknya.
"Apa kamu bisa?" Tanya Clara.
__ADS_1
"Oh, tentu. Tentu saja bisa. Mencari seseorang adalah hal yang mudah bagiku." Jawab Icad yang sangat yakin bahwa dia pasti bisa menemukan Bira.
Sementara itu di tempat lain.
"Tuan, apa ada yang tuan inginkan?" Tanya salah satu pelayan pada pria yang berdiri membelakanginya.
"Tak. semua sudah cukup. Kau boleh pergi. Dan katakan pada Jay berikan laporannya nanti malam saja." Pria itu tak lain adalah Bira. Ia kini sedang berada di sebuah resort terbaik di salah satu pulau kecil di Indonesia.
Bira kembali menenggak gelas kecil berisi wine yang ia pegang. Minuman haram itu masuk ke dalam tubuh Bira. Membuat ia merasakan sensasi yang tak ia sukai tapi ia perlukan. Bira memang tak suka minuman keras. Tapi karena pikirannya yang belakangan ini terlalu menyeruak akan masalah-masalah, Bira akhirnya lebih memilih untuk sekedar meminum wine saja daripada harus marah-marah tak jelas pada para bawahannya.
__ADS_1
Terhitung sudah 2 bulan Bira menghilang tak menampakkan dirinya di tempat umum. Selama itu pula ia tinggal di sini. Di Sebuah pulau terpencil di ujung Indonesia. Hal itu ia lakukan karena dirinya merasa butuh tempat untuk menyendiri. Merenungi masa lalu yang secara tiba-tiba datang kembali membawa kesedihan untuknya.
Dan selama itu pula ia menyerahkan semua urusan perusahaan full pada Jay dan orang-orang kepercanyaan, seperti Donny. Hingga baru dua hari belakangan ini dia mulai memiliki mood untuk bekerja lagi, meskipun itu harus ia lakukan secara online dengan Jay.
Di sini Bira tak perlu khawatir tentang segala keperluannya, seperti makanan dan obat-obatan. Meski sebuah pulau terpencil, Bira sudah menyiapkan pulau ini sebagai salah satu basecamp terbaik untuknya. Semuanya sudah tersedia untuknya, tinggal dirinya sendiri yang meminta untuk dapat apa.
Namun, meski menjadi salah satu tempat terbaik, tetap saja tak bisa membuat perasaan Bira membaik. Hari-hari yang Bira lalui di pulau itu tak mampu membuatnya tenang. Tapi setidaknya di sana ia tak perlu melihat kerumunan orang yang takutnya membuat penyakit kambuh. Sebuah penyakit yang di mana jika berada di dalam keramaian dia akan mengalami kecemasan yang berlebihan atau agorafobia.
"Bagaimana kabarmu, sayang? Apakah kau baik-baik saja?" Racau Bira karena sudah dalam keadaan mabuk. Ternyata Bira tak menghabiskan satu atau dua gelas wine, melainkan beberapa botol winelah yang sudah ia habiskan. Terlihat dari botol-botol yang berserakan di lantai.
__ADS_1
"Aku rindu kamu sayang," Ucap Bira masih dalam keadaan mabuk tapi ucapannya seperti memang dari hati terdalamnya.