
"Eh, terima kasih,,," gantung Bira seraya mengambil minuman yang diberikan kepadanya.
"Lu,lu,Cia. eh, salah. Lucia maksudnya." Ucap Cia Salah tingkah karena Bira mau menerima air pemberiannya.
"oh, iya. Terima kasih, Lucia." Sambung Bira dan segera meminum air tersebut.
"Eh, maksudku Cia. Panggil Cia aja, enggak apa-apa." Meskipun hanya sekedar memperkenalkan diri, entah kenapa Cia merasa begitu gugup.
"Oke, Cia. Kenalin, aku Bira." kata Bira sambil mengulurkan tangannya mengajak Cia berjabat tangan. Cia yang melihat itu malah semakin gugup. Namun, karena tidak ingin membuat Bira menunggu, dia pun menerima jabatan tangan Bira.
"ehm,,,,ehm,,,ehm" Deham Bira dan Anggi bersamaan menyadarkan kedua orang itu. Sontak mereka berdua menoleh ke arah Anggi dan Bian. Dan betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat semua orang sedari tadi memperhatikan mereka.
kedua merasa begitu malu karena tidak menyadari perkenalan mereka disaksikan oleh semua orang yang ada di sana. Terlebih lagi bagi Cia. Kini wajahnya begitu bersemu merah.
"ah, kalian." ucap keduanya bersamaan. Dan jelas hal itu membuat keduanya semakin malu.
"ehm,, aku ke kamar mandi dulu," potong Cia tanpa menunggu balasan dari yang lainnya. Melihat tingkah keduanya yang begitu lucu, semuanya berteriak kegirangan, khususnya Bian dan Anggi.
__ADS_1
"Wah, mas Bira. Pesonamu besar sekali. Kau taklukkan gunung es Himalaya hanya dengan ketampananmu, mas." ledek Bian dan mencoba mendekati Bira meski dengan keadaan pincang.
"Hebat, ternyata seleranya adalah sekelas dewa." Imbuh Anggi menyindir Bira dan Cia. Ucapan Anggi dan Bian disambut dengan tawa oleh yang lainnya. Sedangkan yang diledek hanya bisa geleng kepala melihat semuanya.
"Mas, kenapa gak bilang kalo suka yang lebih muda?" Bisik Bian di dekatnya agar tidak ada yang bisa dengar.
"hei, sudah cukup kalian semua. Ada-ada saja, kami hanya berkenalan. Soalnya aku baru melihatnya hari ini," kata Bira mencoba menghentikan ledekan mereka.
"Berarti pandangan pertama dong?" ucapan Verly ini membuat semua orang kembali tertawa. Mereka begitu menikmati momen seperti ini. Sederhana tapi cukup untuk membuat orang bahagia. Namun berbeda dengan mereka, di tempat seberang tak terlihat perasaan bahagia, yang ada hanya lelah. Bahkan seseorang di antara mereka memandang kebahagiaan mereka dengan perasaan marah. Siapa lagi kalau bukan Wengky.
"Sial*n, dia pikir dia siapa? Berani-beraninya dia menggoda Cia-ku! kau pikir dirimu hebat? lihat saja nanti, akan kubungkam mulutmu dan aku pasti akan mendapatkan Cia." Batin Wengky dengan menunjukkan senyum licik.
Sudah semenit semenjak peluit time out dibunyikan. Kini semua pemain telah bersiap kembali ke lapangan. Suasana menjadi cukup tegang lantaran skor masih dipimpin oleh tim Bira. Mereka harus bertahan dari tim musuh agar dapat memenangkan pertandingan ini. Sedangkan musuh mereka semakin terbiasa dengan pola serangan mereka.
"Mas, seriusan kita pakai taktik itu? Bukannya kita sedang unggul?" tanya Anggi sebelum kick off dimulai. Bira hanya membalas dengan anggukan.
Peluit wasit berbunyi, tanda pertandingan dilanjutkan. Meski hanya tersisa beberapa menit terakhir, tapi semua tim nampak begitu semangat dan tidak mau kalah. Di sisi Anggi sebagai anchor, musuh datang mencoba untuk menyerang. Musuh yang terdiri dari dua orang menggocek Anggi yang sendirian di lini tengah. Mereka berhasil membuat Anggi terdesak hingga mundur mendekati penjaga gawang. Anggi mencoba merebut bola. Tapi dengan control yang baik, musuh dapat melakukan chipping sehingga bola dapat melewati Anggi dan langsung disambut oleh pemain musuh yang satunya.
__ADS_1
Tak mau membuang momentum, pemain itu langsung melesatkan tendangannya ke arah kiper. Untungnya kiper masih dapat membaca arah bola dan melakukan penyelamatan, meski bola harus keluar karena tendangannya terlalu kuat untuk ditangkap oleh kiper.
Melihat bola keluar, pemain musuh segera mengambil bola untuk melakukan corner kick. Sementara itu, Anggi dan kedua orang timnya sudah bersiap menahan serangan musuh kali ini. Setelah peluit dibunyikan, corner kick dilayangkan datar ke depan dengan maksud mengoper ke arah pemain musuh yang mendekat. Anggi segera menyadari hal itu. Dengan kecepatan maksimal, dia berlari mendekati bola dan melakukan tackle untuk menghalau bola sampai ke pemain musuh.
Keberuntungan datang untuk kedua kalinya. Kali ini Anggi berhasil membuang bola, sehingga musuh harus melakukan kick in karena bola keluar dari lapangan. Namun karena terlalu tergesa-gesa, pergerakan bola menjadi lebih mudah untuk dibaca. Dengan cepat salah satu tim Anggi memotong pergerakan bola dan menendangnya lurus ke arah Bira. Tak sampai Tiga detik, bola sudah berada pada Bira. Dia mulai begerak maju ke arah gawang musuh.
Bira mengira perjalanannya akan lancar, tapi dengan kecepatan yang luar biasa, salah satu musuh yang tadi menyerang sudah berada di samping kirinya. Terjadilah pertarungan di antara keduanya. Pemain itu mencoba mendorong Bira agar dia terjatuh. Namun bukannya melawan, Bira lebih memilih untuk menghindar. Dengan momen yang tepat, dia berputar dan melanjutkan lari ke bagian kirinya. Pemain itu kaget dengan pergerakan Bira. Dia terjatuh karena terlalu bersemangat mendorong Bira. Sedangkan Bira malanjutkan larinya ke arah penjaga gawang. Namun sayangnya, ketiga pemain musuh sudah lebih dulu sampai di sana, disusul oleh Anggi dan kedua orang timnya.
Tanpa banyak berpikir, Bira bergerak maju menggocek kedua orang yang menghadangnya. Dia berhasil lolos dari pertahanan keduanya, tapi pemain musuh ketiga menyambut Bira dengan tacklenya sehingga bola melayang bebas ke tengah lapangan. Kiper tim Bira yang sudah meninggalkan gawangnya mencoba mengambil bola. Dengan resiko yang sangat tinggi, dia melompat setinggi mungkin dan menyundul bola ke arah Anggi yang tak jauh darinya. Beruntungnya aksi sang kiper berhasil, sehingga bola berpindah pada Anggi.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Anggi mengumpan bola kepada temannya yang berada di ujung kiri lapangan. Namun ketika bola sudah berpindah kaki, pemain musuh segera melakukan pressing dan bola tersangkut di ujung.
"Angkat!" teriak Bira memberi instruksi dan dengan sedikit usaha, pemain itu berhasil mencungkil bola ke atas Bira. Kiper yang melihat pergerakan bola segera maju hendak mengambil bola yang sedang melayang. Namun Bira tak membiarkan momentum ini begitu saja. Dia juga melompat dan menyundul bola ke ujung gawang. Sang kiper yang kalah cepat dari Bira menyadari bahwa dia tak dapat menggapai bola. Sehingga dia merubah posisinya dan mencoba menepis bola yang melaju ke arahnya dalam posisi yang masih melayang.
Usaha sang kiper berhasil. Bola berhasil ia tepis, tapi sayangnya Bira sudah mengantisipasi hal itu sehingga dengan cepat bira menendang bola ke arah sebaliknya sebelum sang kiper mampu berdiri.
"Gol!!!gol!!gol!!!" teriak tim Bira dibarengi oleh peluit wasit yang menandakan pertandingan selesai Semua bersorak bahagia dan menghampiri Bira sang pencipta gol kemenagan. Berkatnya mereka dapat menutup pertandingan dengan kemenangan yang membanggakan. Mereka mengangkat Bira seolah dia adalah raja yang harus dijunjung. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa masalah mereka belum selesai.
__ADS_1