
"Kak Clara mana, Ma?" Tanya Cindy pada sang mama yang sedang mengambilkan nasi untuknya.
"Masih di kamar kayaknya." Jawab Nesya sekenanya.
Nesya kemudian memberikan piring berisi nasi itu untuk Cindy. Kemudian seorang pria datang menghampiri mereka yang sedang di meja makan.
"Wih, enak banget nih keliatannya. Mama yang masak nih?" Bagas yang baru datang langsung mencomot lauk yang tersedia di atas meja.
"Abang,,, cuci tangan dulu, ih. Jorok banget sih! Nanti sakit perut baru tahu rasa," Cindy langsung sewot melihat tingkah abangnya itu.
Bagas yang sudah tahu akan kena semprot langsung menengok ke arah Cindy dan memainkan tangannya layaknya orang yang sedang berbicara dengan maksud menyindir Cindy yang sewot padanya.
"Abang,,," Cindy yang geram langsung berdiri dan hendak memukul abangnya yang rese' itu.
Namun belum sempat ke arah Bagas, sebuah tangan menghentikan keduanya.
"Hush, udah-udah ga usah berantem." Nesya menengahi kedua anaknya agar tak melanjutkan keributan mereka.
"Bagas, mending kamu panggil kakak kamu yang lagi di kamar. Suruh dia makan malem bareng." Titah Nesya pada Bagas.
"Iya, Ma." Bagas langsung mengiyakan perintah mamanya.
__ADS_1
Namun, sebelum benar-benar meninggalkan meja makan, Bagas sekali lagi mengejek Cindy dengan menjulurkan lidahnya ke arah adiknya itu.
"Abang,,," Cindy yang melihat itu langsung ingin menimpuk kepala abangnya itu dengan sesuatu.
"Bagas, udah. Jangan gangguin adiknya terus," Nesya kembali memperingati Bagas tentang kelakuannya.
Mendapat dua kali peringatan membuat Bagas jera. Dirinya sudah harus pergi atau mamanya malah akan mengomel kepada. Untuk itu dia langsung pergi untuk menjalankan perintah mamanya.
"Kak, kak Clara ayo makan malem. Mama udah nungguin." Bagas memanggil nama Clara sebelum sampai kamar Clara berharap ia tak perlu jauh-jauh ke kamar Clara untuk memanggil kakaknya itu.
Namun, tak ada sahutan apapun dari arah kamarnya Clara. Maka dengan terpaksa Bagas harus menyusul ke kamar Clara.
"Kak Clara,,, makan yuk," Ajak Bagas dengan nada seperti anak kecil yang sedang mengajak temannya untuk bermain.
Tak ada sahutan sama sekali dari dalam kamar Clara.
"Kak?" Bagas mencoba sekali lagi memanggil Clara.
Namun, hasilnya nihil. Tak ada sahutan apapun dari dalam sana. Untuk kesekian kalinya, Bagas lah yang harus bersabar.
"Kak, kalau kakak gak mau makan ya sudah." Teriak Bagas sambil berjalan kembali.
__ADS_1
Namun, ternyata itu hanyalah trik Bagas semata. Bukannya pergi, Bagas malah memegang gagang pintu kamar Clara. Bagas berencana masuk ke dalam kamar kakaknya itu.
Ceklek, pintu kamar Clara pun terbuka. Namun, bukan oleh Bagas melainkan oleh seorang wanita yang membuat Bagas langsung terperanjat ketika melihatnya.
Di lain sisi tepatnya di meja makan, Cindy sedang susah payah menahan godaan perutnya sembari menunggu Bagas dan Clara bergabung.
"Ma, ayah mana?" Tanya Cindy sebagai basa basi agar ia tidak terlalu memikirkan soal lauk-lauk di atas meja yang malahan membuat ia semakin lapar.
"Oh ayah, tadi bilang ke mama kalau lagi ngurusin kerjaan di ruangannya." Jawab Nesya yang sedang menyiapkan minuman untuk keluarga mereka.
"Tumben di jam segini kerja."
"Pekerjaan dadakan sih kata ayah. Cuman mama gak tahu kerjaan apa."
Cindy mengangguk sebagai jawaban. Dia tak terlalu ingin tahu lebih jauh lagi.
Tak berapa lama berselang, akhirnya yang ditunggu pun datang.
"Aih, lama banget nih kak Bagas sama,,, Kak Clara?!" Cindy langsung terbelalak ketika melihat Clara datang.
Tentunya karena penampilan Clara yang sangat cantik dengan dress putih yang ia kenakan. Padahal mereka hanya makan malam bersama di rumah.
__ADS_1