Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
74. Mengawasi


__ADS_3

Begitulah ceritanya bagaimana Bira bisa sampai di sini, di tempat Clara dan Icad akan bertemu. Dirinya sudah bersiap dengan mengambil tempat duduk yang tak terlalu jauh dari tempat duduk Icad berada. Sebenarnya lima belas menit yang lalu, ketika Bira masuk ke dalam hotel, dirinya sudah sempat berpapasan dengan Icad. Sayangnya waktu itu dia tidak berniat mencelakai Icad. Pikirannya mengatakan cukup awasi saja pria ini. Hukuman diberikan di akhir saja.


"Pria banjingan! Bukannya kau janjian dengan Clara 15 menit yang akan datang? Kenapa kau malah sudah berada di sini sekarang? Lihat saja, berani macam-macam, kau tak akan bisa lolos dari hukumaku. Kemana pun kau pergi, aku akan terus mengawasimu bahkan jika kau bersembunyi di lubang semut sekalipun." Ungkap Bira menatap ke arah Icad yang sedang merapihkan pakaiannya.


Saat pikiran Bira menerawang hukuman apa yang cocok untuk Icad. Akhirnya sosok perempuan yang di tunggu-tunggu datang. Meski hanya bisa melihat dari kejauhan, Bira tentu masih bisa melihat betapa cantik dan elegannya Clara. Kulit putih serta mulus dibalut dengan dress hitam menyelimuti tubuh Clara memang sungguh pemandangan yang indah. Bahkan Bira sampai dibuat kesusahan menelan air liurnya setelah tahu Clara tampil sangat cantik malam ini.


"Icad! Lihat saja kau!" Kesal Bira seakan merasa dunia tak adil karena bukannya dirinya yang berada di depan Clara sekarang. Dan hal yang membuat darahnya semakin mendidih adalah bagaimana tatapan liar Icad yang memandang Clara.


Emosinya nampak tak bisa langsung mereda karena dirinya ternyata terlalu jauh untuk bisa mendengarkan omongan keduanya. Pasrah dan pasrah merupakan satu-satunya tindakan yang bisa Bira lakukan saat ini. Dadanya menjadi berdetak tak karuan, terutama kepada pria di depan Clara. Siapa lagi kalau bukan Ica.

__ADS_1


Semuanya semakin menjadi-jadi dan meluap- ketika Icad, pria yang berhasil membuat Bira sangat emosi, melakukan sesuatu yang memantik Bira untuk menghukumnya lebih keras. Pria bernama Icad itu tanpa izin dari Clara langsung saja menyosor punggung tangan kanan Clara.


"Bangs*t!" Umpat Bira dalam hatinya. Saking emosinya tangannya sudah mengepal entah sejak kapan.


Satu sisi dia ingin melabrak Icad saat itu juga. Tapi satu sisinya lagi mempertanyakan tindakannya itu. Pikirannya berkecamuk, pertanyaan untuk apa Bira marah, kesal, dan tak suka jika Clara disentuh orang lain mulai bermunculan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tetap menyaksikan saja. Toh, apa yang dilakukan oleh Icad masih dalam batas wajar tahap "pdkt".


Tatkala bahagia menatap Clara, Icad mulai berjalan kembali ke kursinya dan tentunya itu merusak pemandangan yang Bira lihat.


"Dasar perusak mata!" Umpat Bira sedikit menimbulkan suara. Umpatan Bira barusan nampaknya terdengar oleh pelayan yang sedang memberikan kopinya.

__ADS_1


"Tuan maksud saya?" Tanya si pelayan dengan sopan meski tatapan matanya terlihat sedikit kesal.


"Bu, bukan. Aku hanya sedang,, menghafal naskah. Ya. Ada naskah yang harus kuhafalkan." Kelit Bira agar tak terlalu malu. Untungnya si pelayan hanya mengganguk dan langsung pergi.


Bira bernapas lega ketika pelayan barusan tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Tapi setelahnya malah Bira yang merasa ada masalah. Tepat ketika pesanan Clara dan Icad datang ke meja mereka.


Keanehan tentunya datang dari Icad. Raut wajahnya nampak sangat bahagia ketika pesanan datang. Sangat terlihat jelas tatkala Clara mulai memakan pesanan miliknya.


"Kenapa firasatku mengatakan ada sesuatu yang salah?" Batin Bira ketika pandangannya tak lepas mengawasi Icad.

__ADS_1


__ADS_2