Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
8. Bertemu Sahabat


__ADS_3

Di tempat parkir sebuah cafe, muncul sebuah mobil kuning bermerek Chevrolet, lebih tepatnya Chevrolet Camaro Zl1 convertible dan kemudian memarkirkan mobilnya di sana. Banyak orang yang melirik ke arah mobil tersebut. Mereka penasaran, siapakah orang yang mengendarai mobil sport yang begitu mahal. Pintu mobil terbuka, menandakan sang pengendara hendak keluar dari mobilnya. Dan itu adalah Clara.


Dengan menggenakan pakaian kantornya, dia memasuki cafe tersebut. Banyak mata yang melirik ke arahnya, khususnya para pria. Beberapa orang melirik dengan malu-malu dan beberapa orang begitu berani melihat Clara tanpa rasa malu. Sedangkan yang dilirik atau dipandangi hanya acuh pada mereka. Dia tidak ambil pusing dengan tatapan para pria yang ada di sana. Karena tujuannya ke sana hanya satu yaitu mencari sahabatnya, Cindy.


"Ada yang bisa dibantu, mbak?" tanya salah satu pelayan yang melihat Clara sedang mencari sesuatu.


"oh, saya mencari pelanggan atas nama Cindy," jawab Clara kepada pelayan di depannya. Mendengar jawaban Clara, pelayan tersebut langsung menunjukkan jalan ke meja Cindy. Dan Clara tak menyangka bahwa Cindy menyewa tempat vip di cafe itu.


*Clara!!!!" Teriak Cindy begitu melihat Clara datang. Dia langsung menghampiri Clara dan memeluknya dengan erat.


"awh, pelan-pelan, Cindy." ucap Clara karena kaget atas pelukan Cindy. Mungkin lebih tepatnya terjangan Cindy. Untungnya pelayan itu langsung pergi setelah menunjukkan ruangan VIP. Jadi Clara tidak perlu malu akan kejadian ini.

__ADS_1


"hehehe, maaf. Habisnya kamu itu ngangenin," kata Cindy begitu dia melepaskan pelukannya. Dia langsung mengajak Clara untuk duduk dan memesam menu. "jadi, gimana Ceritanya?"


"heh, kutu busuk. Temen baru dateng bukannya disapa atau ditanyain kabar, malah langsung ke gosip." Clara hanya bisa tertawa melihat tingkah laku sahabatnya yang dianggap begitu lucu saat ini.


"Woi, ini bukan gosip. Lu kata gue emak-emak yang hobinya ngegosip?" tanya Cindy tak terima ungkapan Clara.


"Lah, emak situ emak-emak kali. Anak aja udah ada 3. Kalau bukan emak-emak apaan? janda?" balas Clara mengejek Cindy.


"Habisnya kamu lucu deh," ungkap Clara mencubit pipi Cindy gemas.


"Jangan panggil aku anak kecil paman," balas Cindy melepaskan tangan Clara dari pipinya. Sejenak Clara melupakan masalahnya. Namun tiba-tiba pikiran tentang pernikahannya muncul. Raut wajahnya yang awalnya tersenyum, kini berubah menjadi begitu sedih. Cindy yang menyadari hal itu segera mendekati Clara dan memeluknya untuk memberikan kekuatan padanya.

__ADS_1


"Clara, kamu yang sabar, ya. Kamu itu wanita kuat. Jangan terlalu dipikirin, bawa enjoy aja," kata Cindy menenangkan sahabatnya. Dia begitu prihatin dengan keadaan sahabatnya, rasanya dia ingin sekali memukul orang yang melukai hati sahabatnya. Tapi sayangnya, dia tahu bahwa itu tidak akan mungkin.


"Makasih ya, Cindy. Kamu selalu ada ketika aku butuh. Aku gak tahu gimana jadinya kalo gak ada kamu," ucap Clara dengan tulus sampil menghapus air matanya yang entah kapan mulai berjatuhan.


"Kamu gak perlu terima kasih, Clara. Sudah sepantasnya aku sebagai sahabat berada di sampingmu. Lagi pula kamu juga sudah sering banget bantu aku," balas Cindy dengan tulus.


"Cindy,,, boleh aku cerita?" kata Clara ragu-ragu. Clara memanglah sosok yang enggan untuk menceritakan masalahnya kepada orang lain. Tapi dia sadar, terlalu lama memikirkan masalah ini sendirian hanya akan membuat dia tambah terluka. Oleh karena itu dia menerima ajakan Cindy untuk bertemu.


"Silahkan, Clara. Mau kamu cerita atau enggak, aku akan tetap di sini nyemangatin kamu. Aku akan dukung kamu kok, Clara." Hati Clara begitu tersentuh mendengar peryataan sahabatnya itu. Meskipun dia tahu menceritakan masalahnya kepada Cindy belum tentu dapat menyelesaikan semuanya. Tapi dengan adanya bantuan secara mental dari Cindy, membuat dia merasa begitu tenang dan nyaman. Seolah semuanya akan baik-baik saja.


Setelah mengambil nafas secara perlahan, Clara mulai menceritakan masalah pernikahannya yang sedang di ujung tanduk. Dia juga menceritakan bagaimana sikap tegas ayahnya setelah mengetahui masalah pernikahannya. Dan tak terasa air mata Clara mengalir kembali. Sekarang Cindy tahu, di balik fisik Clara yang baik-baik saja, tersimpan hati yang begitu rapuh. Bagaikan kapal titanic yang akan hancur bila kapal itu tetap memaksa maju, karena di depan terdapat bongkahan es yang begitu curam dan tidak mampu ia hadapi.

__ADS_1


Meski tahu pokok permasalahnnya, Cindy tetap tidak bisa memberikan saran yang terbaik untuk Clara. Otak seperti mengalami kebuntuan. Jika dia menyuruh Clara untuk bertahan, maka sama saja seperti menyuruhnya untuk bunuh diri secara perlahan. Tapi jika dia harus berpisah, Cindy tahu betul sahabatnya akan sangat terpukul akan hal itu. Dengan mempertimbangkan resiko yang ada, Cindy memutuskan salah satu di antara keduanya. "Clara, aku tahu betul masalah ini begitu berat untukmu. Tapi jika kau meminta pendapatku sebagai orang ketiga, maksudku sebagai sahabatmu, ceraikan suamimu."


__ADS_2