
“Hhmm, tak kusangka aku punya guling yang begitu halus dan wangi.” Gumam Bira saat memeluk clara.
Matanya masih tertutup dengan rapat seolah enggan untuk bangun dari tidurnya.
“Tapi sejak kapan guling punya rambut?” Seketika pertanyaan ini muncul, Bira langsung membuka matanya.
Matanya langsung melotot ke arah wanita yang sedang ia peluk. Dengan cepat ia menarik tangannya dan langsung terduduk di pinggiran kasur.
“Apa aku sudah gila?” Bira bertanya kepada dirinya sendiri.
Sesekali ia melihat ke belakang, ke arah Clara. Dan dengan sangat cepat kembali menoleh ke arah lain. Cukup dengan melihat sebentar saja, bisa bisa merasakan sensasi yang harus ia tahan. Saat itulah ia mulai mengingat kejadian semalam.
“Bodoh!” Umpat Bira dalam hati pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Bira memukul-mukul kepalanya sendiri sebagai salah satu upaya hukuman atas kelalaiannya.
“Bagaimana bisa aku melakukan hal dosa dengan wanita yang sama? Hais,,” Dengan Cepat Bira bangkit dari kasur.
Dia berjalan berkeliling mengambil seluruh pakaiannya yang sudah berserakan di sembarang arah. Lalu, ia masuk ke dalam kamar mandi. Bagian sensitifnya sedang menegang, akan sangat bahaya jika ia tetap berada di dekat wanita tanpa sehelai benang seperti itu. Tentunya dirinya tak mau kejadian semalam terulang kembali. Setidaknya ia bisa menyalurkan hasratnya dengan tangannya sendiri.
Sementara itu, Clara yang melihat Bira masuk ke dalam kamar mandi hanya bisa mengaduh pelan.
“Haish, baru pengen liatin wajahnya. Malah pergi,” Clara sedikit kecewa dan menyesal.
Beberapa menit berselang, pintu kamar mandi akhirnya terbuka. Terlihat Bira kini sudah memakai baju yang ia kenakan semalam. Sesaat itu juga mata Bira menerawang ke seluruh penjuru ruangan. Ia tentu paham betul di mana ini. Tentunya ia sedang berada di salah satu apartemen miliknya.
Setelahnya Bira mengambil ponsel miliknya dan menekan beberapa nomor untuk dia dial. Tak lama berdering, panggilan tersebut langsung di angkat oleh orang yang ia telpon.
__ADS_1
“Ke apartemen sekarang,” Titah Bira dan langsung menutup panggilan tersebut tanpa menunggu jawaban dari orang yang ia telpon.
Beralih dari ponselnya, kini Bira mengalihkan pandangan pada pandangan yang belum pernah ia alami selama ini. Dirinya mendekati kasur tempat Clara tertidur sekaligus tempat yang menjadi saksi pergulatan panas mereka semalam.
Bira langsung duduk di dekat Clara yang masih terlihat seperti tertidur. Pandangan Bira menerawang ke arah wajah Clara. Beribu kata indah ia utarakan dalam hati ketika mengamati anugerah tuhan tersebut. Kemudian secara perlahan pandangan Bira mulai turun ke arah jenjang leher milik Clara.
“Lelaki biad*b. Bagaimana bisa aku memberikan banyak sekali tanda di sana?!” Bira sangat kaget saat melihat kulit leher Clara yang banyak sekali tanda kecil berwarna merah.
Tentunya Bira sadar dan paham tanda itu apa. Itu karena dia sendirilah yang membuat tanda itu. Tapi ia tak menyangka kalau ternyata tanda yang ia buat cukup banyak pada leher Clara. Dan Bira menjadi semakin bersalah akan hal itu.
Bira menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tidak gatal. Dirinya bingung harus berbuat apa selanjutnya. Pastinya ia akan bertanggung jawab apapun yang terjadi. Meski itu berarti ia harus mengambil resiko dengan ayah Clara.
Dan saat Bira sedang bingung, Bira melihat sesuatu kejanggalan pada raut wajah Clara. Pandangan Bira pun tertuju ke arah Clara.
__ADS_1
“Hei, a,,,”
“Huacim,,,” Clara mengeluarkan bersin tepat di wajah Bira.