Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
80. Obrolan serius


__ADS_3

"Semuanya sudah aman berarti?!" Tanya Bira kepada Jay di sebuah warung kopi dekat apartemen Bira.


"Sudah, tuan. Saya yakin Biantara tidak akan mencari nona Clara. Kalau pun mencari, mereka takkan bisa menemukan tempat ini." Jawab Jay seraya merapihkan kembali tab miliknya setelah melakukan laporan rutinnya.


"Oke."


Bira menyeruput kopi hitam miliknya.


"Tapi tuan, bagaimana kelanjutan anda dengan nona Clara? Apa tindakan yang akan anda ambil?" Bukannya bermaksud lancang, Jay hanya ingin membantu Bira agar keputusan Bira tidak salah.


"Hhhhm,,, kalau masalah itu,,"


Di dalam apartemen milik Bira, Clara baru keluar dari kamar mandi. 


"Ah, segarnya!" Ungkap Clara sambil membenarkan ikatan bathrobe yang ia kenakan.


Dirinya menerawang ke seluruh penjuru apartemen. Nampak seperti ada yang kurang di sana.


"Di mana pria itu?" Clara tak melihat batang hidung Bira di sana.


"Bira?!" Clara menelusuri setiap ruangan yang ada di apartemen itu.


Untungnya ruangan-ruangan dalam apartemen itu tidak begitu besar. Jadi, Clara tidak terlalu kelelahan dalam menelusuri setiap ruangan.

__ADS_1


"Hais, kemana dia? Jangan bilang kalo dia pergi lagi. Ish, udah susah-susah dapet kok malah pergi gitu aja sih." Gerutu Clara geram lantaran tak kunjung menemukan Bira.


Tentunya Clara tak mau kehilangan Bira untuk kedua kalinya. Entah ini perasaan cinta atau bukan, Clara tak tahu. Yang terpenting baginya saat ini hanya bisa berada di dekat Bira saja, itu sudah lebih dari cukup.


Memikirkan Bira yang pergi darinya membuat perasaan Clara semakin sedih. Bahkan tanpa ia sadari air matanya mulai bercucuran.


Di saat yang bersamaan, Bira yang tadi sedang baru bertemu dengan Jay kembali masuk ke dalam apartemen. Langkahnya yang ingin melihat Clara sudah bangun atau belum terhenti ketika mendengar suara tangisan wanita.


"Siapa itu?!" Tanpa banyak pikir, Bira langsung arah sumber suara.


"Clara?!" Sontak Bira dibuat bertanya-tanya ketika melihat Clara yang bersedih.


Clara yang mendengar namanya dipanggil langsung mendongkakkan kepalanya ke arah Bira.


Bira yang tiba-tiba dipeluk hanya bisa mematung. Karena serangan tiba-tiba itu, dia tidak membalas ataupun menolak pelukan Clara.


Sampai beberapa detik berlalu, Clara tetap memeluk Bira layaknya kekasih yang sudah sangat lama tidak bertemu. Sementara Bira mulai merasakan sesuatu yang lain.


"Eh, itu bukan punya dia kan. Aduh otak ku kok mesum banget sih!" Pikiran Bira berkecamuk lantaran tubuhnya merasakan ada sesuatu yang menonjol menyentuh badannya.


"Ehm,," Bira mencoba menyadarkan Clara.


Bira tak mau jika mereka berpelukan terlalu lama, kejadian semalam akan terulang kembali.

__ADS_1


Seakan diberi peringatan, Clara langsung melepaskan pelukannya dan memberi jarak antara dirinya dengan Bira. 


"Ma, maaf." Clara tak bisa menutupi rasa malunya saat ini. 


Dan setelah itu, kecanggungan pun terjadi. Keduanya insan itu nampak ragu ingin berbicara.


"Aku,,"


"Aku,,"


Keduanya mengucapkan kata yang sama di waktu yang sama.


"Kamu duluan," 


"Kamu duluan," 


Hal yang sama pun terjadi lagi.


"Bhuwahahaha,," Bira tertawa geli bagaimana bisa mereka mengucapakan kata yang sama dua kali.


Clara pun ikut menertawakan kekonyolan mereka.


"Baiklah, aku rasa kita cukupi bercandanya sampai di sini." Bira memotong tawa mereka berdua dan mengganti suasana menjadi lebih serius.

__ADS_1


"Ada hal penting yang perlu kita bahas untuk apa yang akan terjadi ke depannya.


__ADS_2