
"Kamu kenal sama pria itu, Cia?" tanya Bagas yang sedang memainkan ponselnya di salah satu kursi tempat Clara dirawat.
"Hhhhm," Jawab Cia yang acuh dengan abangnya itu.
Cia sedang tidak begitu mood hari ini. Apalagi setelah terjadi beberapa drama beberapa jam lalu antara kedua orang tuanya. Lalu ditambah lagi dengan fakta yang cukup menyakitkan tentang Bira dan kakaknya.
"Hei, jawab pertanyaan ku jangan hanya dengan deheman saja. Kau pikir aku keong yang diberi jigong langsung keluar?" Bagas Langsung mengalihkan pandangannya ke arah adiknya itu.
Sementara itu, yang diperhatikan hanya membuang wajah kasar. Seolah tak peduli apabila kakaknya itu marah besar sekali pun. Bagas pun harus mengalah untuk ini. Ia paling paham kalau berdebat dengan wanita badmood seperti ini hanya membuang waktu dan tenaga saja.
Dia kemudian memilih untuk memainkan ponselnya kembali melupakan pertanyaannya barusan.
Tak berselang lama, sebuah kecil suara terdengar dari arah ranjang tempat Clara terbaring. Cia yang paling dekat dengan ranjang langsung berdiri dan menghampiri kakaknya yang sedang tertidur di sana.
"Kak?" Cia mendekatkan dirinya untuk meyakinkan kalau yang bersuara itu kakaknya. Bagas yang menyadari hal itu mengikuti adiknya di belakangnya.
Karena suaranya terlalu kecil, Cia harus mendekatkan telinganya dengan mulut sang kakak. Meski dengan serak-serak, Cia tahu apa maksud ucapan kakaknya itu.
"B,i,r,a,, Bir,a," Itulah yang ia dengar dari mulut kakaknya yang masih menutup matanya. Entah apa yang dimimpikan oleh kakanya, Cia cukup penasaran karena nama yang disebutkan adalah pria itu.
__ADS_1
"Kak Clara ngomong apa, Cia?" Tanya Bagas dari belakang. Ia tak bisa mendengar suara apapun.
"Kak bagas, coba panggilkan ayah, ibu atau pelayan. Sepertinya kakak sedang mengngigau." Jawab Cia menoleh ke arah Bagas.
"Tapi dia masih pingsan kan? kok bis,"
"Udah ih, kak. Cepet panggilin aja." Cia mengusir paksa Bagas dengan mendorongnya keluar dari kamar tersebut.
Bagas pasrah mengikuti kemauan adiknya itu. Ia segera memanggil kedua orang tuanya yang sedang berada di luar rumah sakit untuk membelikan beberapa makanan ringan untuk mereka.
Sepeninggal Bagas, Cia masuk lagi ke dalam. Dia berdiri di samping kakaknya yang sedang dirawat. Ditatapnya wajah cantik kakaknya yang masih terpejam.
"Kak boleh aku minta kejujuran kakak?" Cia terlihat seperti menahan isak tangisnya.
"Boleh aku tahu apa hubungan kakak dengan kak Bira?" Cia berhenti berbicara. Ia menarik nafas panjang. Rasanya sulit sekali menerima keadaan ini.
"Kalau jika yang diucapkan ayah benar," Ucapan Cia terjeda lagi.
"Kalau itu benar,"
__ADS_1
"Bisakah hal itu menjadi tidak benar?" Sakit, sakit sekali hati Cia untuk mengucapkan hal ini.
"Kakak mungkin benar, aku tak berdaya melawan ayah ketika membawa kak Bira. Dan aku tahu aku salah karena diam saja."
Kini air mata Cia tak kuasa untuk ia tahan. Perlahan demi perlahan air mata membasahi pipinya.
"Tapi apa kakak tahu apa yang membuat aku lebih tak berdaya? menyadari fakta kalau kakakku juga menyukai orang yang sama denganku," Salah. Cia tahu apa yang dipikirkannya ini salah. Perkiraannya bisa saja salah bukan? Seseorang memeluk orang lain dan mengucapkan kata 'Rindu' bukan berarti dia menyukai orang itu bukan?
"Ah, maaf, kak. Sepertinya aku terlalu terbawa suasana. Cepat bangun ya, kak. Kak Bira," Suara Cia seperti tercekat di ujung tenggorokannya. Dan setelah itu pintu kamar terbuka. Muncul Nesya, Biantara, Bagas dan beberapa perawat yang langsung mengelilingi ranjang Clara.
"Kau habis nangis?" Tanya Bagas yang sudah bergabung untuk melihat pemeriksaan Clara.
"Ah, tidak. Hanya kelilipan debu saja barusan." Kelit Cia membuang mukanya ke sembarang arah.
"Tak masalah, pak. Nona Clara hanya mengalami mimpi buruk. Mungkin karena pikiran yang terlalu banyak ia pikirkan membuatnya sampai ke bawa mimpi. Itu saja." Terang dokter wanita setelah mengecek kondisi Clara.
"Apa anak saya masih belum ada tanda-tanda akan bangun?" Nesya membuka suaranya dengan nada khawatir.
"Mungkin sebentar lagi, bu. Anda tidak perlu khawatir, meski kondisi nona Clara sedang tak sadar karena syok berat, tapi kandungannya tetap aman. Hanya saja tolong hindari hal seperti ini untuk kebaikan kandungannya." Sambung bu dokter yang menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya.
__ADS_1