
"Sel, kamu yakin di cafe ini?" Tanya Clara memastikan.
"Iya, nona. Saya sudah mengkonfirmasi 3 kali dengan tuan Donny." Jawab Sella seraya menunjukkan chat percakapannya dengan Donny.
"Huh, mana dia?!" Gelisah Clara lantaran sudah 5 menit waktu berlalu dari waktu yang direncanakan.
Tak sampai semenit berlalu, akhirnya orang yang mereka tunggu datang juga.
"Permisi, maaf atas keterlabatan kami." Ucap sekretaris Donny yang langsung menyalami Clara dan Sella. Di belakangnya Donny mengekori dan ikut bersalaman dengan kedua wanita itu.
"Ya, tidak masalah. Silahkan duduk," Balas Clara sambil mempersilahkan kedua pria itu untuk duduk di kursi yang tersedia.
__ADS_1
"Sekali lagi kami mohon maaf karena terlambat 5 menit dari jadwal. Ada sedikit urusan yang harus kami selesaikan terlebih dahulu tadi." Sambung sekretaris Donny karena merasa tidak enak dengan dua wanita kliennya. Sementara itu Donny hanya mengamati obrolan mereka.
"Tidak masalah, tuan. Sebelumnya apa kalian ingin memesan sesuatu?" Tawar Clara sebagai basa basi. Sebenarnya dia cukup panik karena keterlambatan Donny dan sekretarisnya ini. Hal itu tentu saja karena pertemuan ini merupakan sebuah terobosan besar untuk perusahaan ayahnya agar dapat bekerja sama dengan perusahaan B&D Group yang mendunia. Namun, kepanikannya ia hilangkan begitu melihat kedatangan kedua pria di depannya.
"Untung saja kalian berdua datang. Jika saja kalian tidak datang, akulah yang akan kena marah ayah karena menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini." batin Clara sambil menerka-nerka hukuman apa yang ayahnya akan berikan jika dia melepaskan kesempatan ini.
"satu kopi espresso dan satu kopi latte saja." Jawab sekretaris Donny ramah. Clara membalasnya dengan anggukan sebagai jawaban dan langsung menyuruh Sella untuk memesankan pesanannya sesuai dengan yang diminta.
"Boleh, silahkan langsung saja dimulai." Kini giliran Donny yang angkat bicara. Setelah itu, Clara dan Sella langsung mempresentasikan apa yang sudah mereka siapkan dari jauh-jauh hari.
Tak terasa sudah satu jam berlalu semenjak Clara dan Sella memulai presentasinya. Bahkan kopi pesanan Donny dan sekretarisnya sudah hampir habis tak bersisa.
__ADS_1
"Menurut penilaian saya pribadi, tidak ada salahnya untuk bekerja sama dengan mereka, tuan Donny. Perusahaan Biantara punya riwayat yang baik di negara ini. Meskipun masih kalah dengan perusahaan Wicaksana kemarin, tapi kinerja perusahaan mereka tidak kalah bagusnya. Terutama wanita yang kini menjabat sebagai CEO perusahaan itu memiliki kinerja sangat bagus selama ia menjabat." Bisik sekretaris Donny kepada atasannya itu. Sesekali juga ia melirik ke arah Clara dengan tatapan yang tidak mudah untuk di tebak.
Donny mengangguk menyetujui ucapan sekretarisnya barusan. Sebenarnya tanpa diberitahu pun dia sudah tahu semua tentang perusahaan ayahnya Clara. Bahkan dia sudah tahu akan menerima kerja sama dengan perusahaan itu atau tidak tanpa perlu adanya meeting ini. Tentu saja itu semua karena arahan dari Bira yang menyuruhnya untuk bekerja sama dengan perusahaan ayah Clara agar dapat lebih leluasa memantau wanita itu.
"Kamu benar. Mereka nampak seperti perusahaan yang menjanjikan." Balas Donny dengan tegas. Dia kemudian merapihkan posisi duduknya dan menatap ke arah Clara dan Sella dengan intens. "Setelah mendengar presentasi langsung dari kalian membuat kepercanyaan kami semakin menguat kalau perusahaan Biantara bukan sekadar perusahaan lama yang telah usang, melainkan perusahaan besar yang tetap konsisten dalam kinerjanya meski telah berdiri cukup lama."
"Terimakasih atas sanjungan anda, tuan Donny. Kami merasa terhormat mendengarnya." Balas Clara dengan perasaan senang. Rasanya seperti sedang berdiri di sebuah cahaya terang benderang di antara gelapnya dunia.
"Baiklah. Dengan ini kami akan menerima kerja sama dengan perusahaan anda," Ungkap Donny sambil berdiri dan menjulurkan tangannya.
"Terimakasih sekali lagi saya ucapkan atas kesempatan yang tuan berikan pada kami." Dengan penuh semangat Clara menyambut jabatan tangan Donny.
__ADS_1