
Bukannya membalas teriakan Clara, Bagas malah memelototinya. Namun, Clara sudah terlanjur berlari kencang ke arahnya.
"Ah, kangen sekali kakak sama kamu." Ungkap Clara yang langsung memeluk adik laki-lakinya itu.
"Kakak, apaan sih? malu tahu diliatin banyak orang!" Bagas yang dipeluk malah cemberut.
"Hahahaha,,, kamu masih gak berubah, Agas." Balas Clara.
"Hhhm,,, aku dilupain nih." Seseorang tiba-tiba muncul dari belakang Bagas. Clara langsung menoleh ke arah suara tersebut.
"Mana mungkin kakak lupa sama kalian berdua." Clara langsung mengajak wanita itu untuk berpelukan. Bagas hanya bisa pasrah ikut memeluk kakak dan adiknya itu.
"Sudah ah, malu tahu." Bagas melepaskan tubuhnya dari dua wanita itu.
"Hahahaha,,," Kedua wanita tertawa bersamaan melihat ekspresi Bagas.
__ADS_1
"Abang gimana sih. Ini tuh namanya reuni. Hahahaha," Perempuan yang lebih muda dari Clara itu menyenggol lengan Bagas pelan.
"Tau nih, Agas. Kita kan kangen sama kamu," Clara ikut menyampaikan tanggapannya. Keduanya kemudian berniat untuk saling berpelukan kembali. Namun, Bagas malah mengangkat tangannya seolah-olah enggan.
"Gak ah. Temu kangennya udah cukup. Udah sama-sama gede juga." Protes Bagas.
"Wah kak Clara, ada yang udah gede nih." Balas perempuan yang lebih muda daripada Clara.
"Benar kamu, Cia. Kayaknya Agas kita sudah tak seperti dulu, yang suka sembunyi dibelakang mama kalo kita kejar." Gelak tawa langsung terdengar setelah Clara mengatakan hal itu. Cia juga ikut tertawa. Bahkan dirinya tertawa cukup keras sampai orang-orang menengok ke arahnya.
"Hais,,, Mendingan balik lagi nih." Ucap Bagas membalikkan badannya.
"Daripada balik lagi, mending kita makan-makan, gimana?" Tambah Cia.
"Boleh tuh. Kakak juga gak sempet makan tadi." Jawab Clara secara langsung. Sementara Bagas hanya bisa pasrah mengikuti kemauan saudarinya itu.
__ADS_1
Ketiganya akhirnya keluar dari bandara. Mereka sepakat untuk menggunakan mobil Cia daripada mobil Clara, tentunya karena tempat duduknya yang tidak cukup untuk mereka bertiga. Rencananya mereka akan mencari makan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Untuk mobil Clara sendiri di bawa oleh supir Cia yang tadi mengantarnya ke bandara.
"Kak, serius mau makan daging doang? Trus itu minumnya bersoda? Bukannya kakak lagi hamil?" Tanya Cia penuh selidik. Mereka bertiga sudah sampai di salah satu restoran mewah dekat yang tidak terlalu jauh dari rumah keluarga mereka.
Clara hanya membalas dengan senyuman manisnya. Dia seperti tidak mau ada yang mendebatnya soal makanan. Toh itu yang diinginkan oleh kandungannya, mungkin. Bagas sendiri baru selesai memesan makanannya.
"Jadi, berita itu beneran, kak?" Bagas langsung bertanya to the point. Jujur kembalinya di sini tak lain karena berita mencengangkan kalau kakaknya itu sedang berbadan dua.
"Hehehe,, iya. Bener." Jawab Clara sambil menunjukkan deretan gigi putihnya.
"Hah?! Serius?! Bukannya kata dokter,, aduh. Sakit woy!" Bagas terhenti lantaran barusan ada yang menendang tulang keringnya.
"Hhhm,,, awalnya kakak juga gak percaya." Ekspresi Clara langsung berubah seketika. Terlihat wajah murungnya saja kali ini.
"Ish, abang ini. Jadi murung kan," Cia melototi Bagas. Dia tahu kakaknya ini masih menyimpan luka yang cukup besar, terutama dengan mantan suaminya.
__ADS_1
"Aduh, iya, iya, maaf. Aku kan gak tahu," Sekali lagi Bagas pasrah. Kaki Cia sudah menendangnya untuk kedua kalinya. Dan tentu dia kesakitan.
"Gak kok. Kalian itu gak salah. Adik-adik ku tercinta gak ada yang salah. Aku hanya berpikir sejenak gimana jadinya aku kalau gak ada kalian." Ucap Clara jujur dari lubuk hatinya.