Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
24. Nikmatnya


__ADS_3

Remuk, itulah yang Clara rasakan. Entah itu perasaan maupun fisik ikut larut dalam remuknya pernikahannya. Semuanya yang telah ia coba bangun dan susun dari awal, kini sudah tidak ada harapan selain tinggal kenangan. Perlahan air mata mulai menggenang di wajah cantiknya.


Hingga akhirnya, kakinya lebih memilih untuk pergi dari sana. Dia tak mau orang-orang mulai sadar bahwa dirinya, istri sah Adelard tengah menyaksikan perselingkuhan suaminya. Dan tanpa ia sadari, dia menabrak seorang pria yang berdiri di depan jalan yang ia lewati.


"Aw,," Rintih Clara ketika dirinya terjatuh karena tidak seimbang. Dia mendengar pria itu menawarkan bantuan untuknya. Tapi karena marah bercampur kecewa, dia menghiraukannya. Lebih baik untuk segera pergi.


Dia butuh seseorang, seseorang yang bisa menolongnya melupakan semua kesakitan yang dia rasakan kini. Dan orang yang dia ingat hanya sahabatnya, Cindy. Ke sanalah langkah kakinya membawanya, membawa semua perasaan hancurnya.


Ternyata sosok sahabat yang dia butuhkan sedang tidak ada. Beberapa orang bawahan Cindy telah ia tanyai tentang keberadaan Cindy, dan hasilnya sama saja, mereka tidak yakin dengan keberadaan bos mereka. Hal itu tentu saja terjadi. Karena memang, Cindy harus melayani serta bertemu dengan beberapa kolega besar suaminya. Sehingga memang sulit menentukan posisi pasti Cindy. Dan akhirnya Clara memilih untuk diam. Menangisi nasibnya dalam diam dan kesendirian.

__ADS_1


"Clara, gadis polos dan lugu." Celoteh Clara tak karuan. Dia kembali menenggak minuman alkohol yang ada di tangannya. Bukan segelas yang ia minum, melainkan satu botol penuh telah siap di tangannya. Entah ini tenggakannya yang ke berepa kalinya. Tapi rasanya isi botol itu sudah tinggal seperempatnya saja. Dan tentu saja itu membuat perhatian orang lain, terutama para lelaki hidung belang yang berpikiran kotor. Salah seorang lelaki pun sampai berani mendekati dirinya yang sudah dikategorikan mabuk.


"Halo cantik, kurasa kau butuh teman." kata pria itu sambil menempatkan dirinya di sebelah kursi yang Clara duduki.


Clara pun menoleh ke arah pria tersebut, dan si pria terpukau melihat wajah cantik Clara meski dalam keadaan mabuk. Hingga pikiran kotornya mulai memenuhi alam pikiran pria itu.


"Ya, aku butuh teman." Jawab Clara setelahnya. Dan tentu saja itu jawaban asal karena dirinya sudah sangat mabuk. Clara yang memang notabenenya adalah gadis yang baik, sangat jarang merasakan minuman keras. Tapi ketika rasa sakit yang begitu mendalam, membuat ia lupa akan semua kepolosan dan keluguannya.


"Hei, ayolah aku akan pelan-pelan." Lanjut pria itu. Nampaknya ia sudah sangat tertarik dengan wanita di hadapannya. Sedangkan Clara, entah apa yang merasukinya, ia tertawa keras setelah perkataan pria itu.

__ADS_1


"Kau tidak pantas, kau tidak pantas!" Bentak Clara secara tiba-tiba. Dia segera berdiri dan berjalan sempoyongan menjauhi pria itu. Sebenarnya pria itu ingin mengejar atau menahan Clara, tapi melihat tatapan orang lain akan dirinya membuat dia kaku di tempat duduknya.


Sementara itu, Clara melanjutkan langkahnya dengan umpatan-umpatan yang tidak karuan. "Cih, dia pikir dia pantas? Brengs*k sepertimu mati saja! Kamu pikir yang pantas memiliki aku seutuhnya itu kamu? tidak! Lihatlah akan kubalas kau wanita jelek!"


Dan sedetik kemudian, pandangan Clara terpaku pada seseorang yang ada di ujung ruangan. Dari mana keberanian itu berasal, Clara tidak tahu. Dia mulai menghampiri pria itu. Tidak hanya menghampiri, dengan berani dia duduk di paha kokoh pria itu dan bergelayut manja di leher eksotis si pria.


"Tampan, temani aku malam ini, yuk." pinta Clara dengan mode yang bisa dikatakan sebagai penghancur iman pria. Tak lupa pula ia menyentuh lembut wajah tampan itu, mengikuti garis wajah si pria. Pria itu hanya terdiam. Dia tidak menolak atau meminta. Seperti hanya mengikuti apa yang Clara inginkan.


"Kau maukan, tampan?" rengek Clara. Dalam keadaannya yang sekarang, Clara sungguh menjadi sosok yang berbeda dari yang biasanya terlihat di dunianya. Banyak orang yang menilai dia adalah orang yang paling sulit didekati dalam keluarganya, namun lihatlah kini. Dia lebih seperti anak kecil dalam pandangan Bira. Benar, pria itu adalah Bira. Pria yang baru saja terkena obat perangsang dari Sisca. Dan kini obat itu sudah bergejolak dalam dirinya. Oleh karena itu, dia memilih diam tak menanggapi Clara, karena takut akan kelewatan batas bila ia bergerak.

__ADS_1


Namun sayangnya, sekuat-kuatnya pertahanan Bira, tak mampu menahan sentuhan hangat dari Clara. Bahkan sedetik kemudian Bira benar-benar merutuki nasib dirinya. Clara nekad mencium lehernya, dan membuat rangsangan itu menjalar dan membakar tubuhnya.


"Baiklah, ku harap kau tidak menyesali apa yang kau lakukan." Bisik Bira pada Clara seraya menggendongnya ala bridal style ke kamar hotel yang sudah ia pesan. Namun bukannya berontak, Clara malah tetap bergelayut manja dan bahkan menyentuh kulit halus Bira. Rasanya seperti dia menikmati nikmatnya pesona pria tampan yang menggendongnya.


__ADS_2