Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
45. Bagas


__ADS_3

Tok, tok, tok. Bunyi pintu kamar Clara diketuk oleh seseorang dari luar.


"Masuklah," Ucap Clara mempersilahkan orang itu untuk masuk.


"Selamat malam, nona." Ucap beberapa pelayan yang baru saja masuk ke kamarnya. Mereka langsung menyajikan beberapa makanan untuk Clara. Terlihat ada banyak sekali makanan yang dibawakan oleh para pelayan-pelayan itu.


"Huh, dasar ayah!" Cebik Clara karena ia paham betul ini pasti ulah ayahnya. Clara akhirnya mengangkat tangannya agar para pelayan itu berhenti untuk membawakannya makanan. "cukup. Aku bukan monster yang bisa menghabiskan semua makanan ini. Cukup sisakan satu steak saja dan minuman soda."


"Tapi, nona. Tuan besar menyuruh kami untuk menyediakan ini semua. Dan kami dilarang untuk memberikan nona minum soda atau pun alkohol." Balas salah satu pelayan sambil menundukkan kepalanya.


"Ya aku tahu. Tapi bilang saja padanya aku hanya mau makan itu!" Clara menekankan ucapan seolah tak mau ada seseorang pun yang membantahnya. Secara otomatis para pelayan menuruti ucapannya tanpa berani membantah. "Kalau sudah mengerti kalian boleh pergi. Jangan lupa bawakan aku sodanya."


Para pelayan menunduk dan langsung meninggalkan Clara di sana sendirian. Baru hendak menyantap hidangan miliknya, ponsel Clara bergetar.


"Siapa yang menelpon?" Tanya Clara sambil menghampiri ponselnya yang terletak di atas kasur.


"Halo siapa ya?" Clara langsung mengangkat telpon itu tanpa sempat membaca siapa yang menelponnya.

__ADS_1


"....."


"Oh," Balas Clara membentuk huruf O dengan mulutnya.


"....."


"Hah?! apa benar?!" Clara tampak terkejut.


"....."


"...."


"Iya, iya."


Clara menutup panggilan itu dan langsung mengganti pakaian. Tak mau ambil pusing, Clara hanya memakai pakaian yang paling simpel menurutnya. Sebuah kaos putih cukup besar dengan rok panjang dan tak lupa jaket jeans yang cukup tebal.


Dia langsung keluar kamar dengan sedikit terburu-buru. Ia tak memikirkan lagi soal hidangan yang baru saja diberikan oleh para pelayan itu. Bahkan ketika beberapa pelayan menyapanya di jalan untuk membrikan minuman soda, dia langsung mengangkat tangannya tanda tak ingin di ganggu. Di mana langkah kakinya langsung menuju ke arah parkiran.

__ADS_1


Dirinya langsung menekan tombol kunci mobilnya untuk menemukan mobilnya. Tak membuang waktu banyak, Clara langsung mengendarai mobilnya menuju jalan raya. Meski tergolong orang kaya, dirinya tetap lebih suka jika mengendarai kendaraannya sendiri.


Ternyata untuk sampai ke tempat tujuan Clara tidaklah mudah. Baru beberapa meter ia berkendara, dia dihadapkan dengan macet yang cukup panjang. Dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan Clara adalah menunggu.


Untungnya kemacetan hanya terjadi di beberapa lokasi. Dengan kondisi macet itu dia akhirnya bisa sampai ke tempat tujuannya setengah jam dari keberangkatannya. Clara memarkirkan mobilnya dan langsung menghambur ke dalam bandara. Ya, tempat tujuan Clara saat ini adalah bandara.


Clara mengambil kembali ponselnya dalam sakunya. Dirinya hendak menghubungi kembali orang yang tadi menelponnya. Cukup satu kali dial panggilannya langsung diangkat.


"Halo, kamu di mana?" Tanya Clara.


"...."


"Oh, tunggu aku ke sana sekarang." Setelah mengkonfirmasi lokasi orang itu, Clara langsung beranjak ke sana dengan sedikit berlari.


Ada perasaan menggebu dalam dirinya kali ini. Seseorang penting dalam hidupnya akhirnya kembali ke kota ini. Sosok yang telah menemani masa kecilnya agar terus bahagia.


"Bagas!!!!" Teriak Clara ketika melihat adik laki-lakinya.

__ADS_1


__ADS_2