
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu, nona." Ucap Sella yang sudah berada di dekat pintu keluar ruangan Clara. Setelah drama minta nomor telponnya beberapa waktu lalu di cafe, Clara dan Sella langsung memutuskan untuk balik ke kantor. Dan tak terasa waktu sudah menunjukkan waktu untuk para karyawan pulang.
"Oke, Sel. Hati-hati di jalan." Sejenak Clara menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Sella.
"Iya, nona. Tapi seperti nona sendiri juga harus lebih berhati-hati. Barusan sudah kesekian kalinya nona mual dan muntah-muntah selama beberapa minggu." Balas Sella yang ia imbuhi dengan saran agar bosnya itu tidak terlalu gila bekerja padahal sesampainya di kantor tadi Clara langsung mual dan muntah-muntah.
"Aih,, iya-iya, Sel. Kamu jadi kayak bi Sina. Cerewet banget,"
"Lah, kan emang aku anaknya."
"Oh iya, hahaha,,," Clara merilekskan badannya pada kursi kebesaran yang ia duduki.
__ADS_1
"Yasudah, pamit dulu, nona." Sella langsung membuka pintu dan keluar dari ruangan Clara.
"Hei, tutup lagi pintunya!" Teriak Clara karena Sella sudah berjalan cukup jauh dari ruangannya. Yang diterikai hanya melambaikan tangannya sambil melanjutkan langkahnya hingga Clara tak lagi melihat siluet Sella.
"Dasar!" Umpat Clara sambil mengambil kembali berkas-berkas yang harus ia kerjakan. Hari ini dia berniat untuk lembur di kantornya. Jadi mungkin dia akan menginap di sini atau pulang ke rumah jika memungkinkan. Baru sebentar membaca berkas, dirinya langsung terlarut kembali dalam pekerjaannya melupakan guyonan antara dirinya dan Sella barusan.
Perusahaan Biantara ini memang punya ayahnya. Dan oleh sebab itu pula dia merasa seperti punya tanggung jawab untuk membuat perusahaan ini lebih berkembang. Setelah kelulusannya, Clara langsung meminta agar ayahnya mau mengajarinya secara langsung tentang perusahaan. Alhasil dalam kurun 1 tahun ayahnya sudah bisa mempercayakan perusahaan padanya.
"Oh, iya. Aku lupa kalau malam ini aku punya janji sama Cindy." Ingat Clara yang langsung menyambar ponselnya dan menghubungi sahabatnya itu.
Sekali deringan tak ada yang mengangkat panggilan. Begitu pun untuk yang kedua maupun ketiga kalinya hingga suara operator mengalihkan panggilan.
__ADS_1
"Cih, nih anak suka kebiasaan. Sulit banget buat dihubungi." Decak Clara dan mencoba menghubungi kembali nomor sahabatnya itu. Untungnya hanya sekali dering, panggilannya di angkat oleh Cindy.
"Hal,,," Sapaan Clara terhenti tatkala mendengar suara aneh dari ujung ponselnya. Rasanya dia seperti kenal dengan nada suara itu. Tapi karena volumenya terlalu kecil membuat suaranya tidak terlalu terdengar dengan jelas bahkan ketika Clara menaikkan volume ponselnya. Barulah ia mengganti mode telponnya menjadi speaker agar dapat mendengar dengan jelas.
Namun suara itu malah menghilang. Hening, seolah ponselnya sedang di sembunyikan sehingga tidak ada suara yang terdengar.
"Hallo, cindy?" Clara memastikan apakah panggilannya masih terhubung dengan Cindy.
"Y,,,,a,,,,," Cindy membalas dengan nada yang sangat halus. Clara agak heran dengan nada tersebut namun tak ambil pusing akan hal itu.
"Apa nanti malam ja,,"
__ADS_1
"Akh,,,, sayang,,,,, Pe, pelan-pelan. Aw,,,,Jan, jangan. Uh, digigit."