Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
65. Kilas Jay


__ADS_3

Sebuah helikopter mendarat dengan aman di sebuah pulau. Ukurannya yang kecil membuat tak banyak penumpang yang bisa di bawa oleh helikopter itu. Mungkin hanya cukup untuk 5 atau 6 orang saja. Dan sepertinya helikopter itu tidak membawa orang melainkan pasokan makanan untuk pulau itu.


Terlihat hanya ada tiga orang yang turun dari helikopter. Dua di antara adalah pilot dan co-pilot yang langsung menenteng beberapa pasokan makanan ke dalam pulau. Sementara yang satunya langsung berjalan ke arah satu-satunya resort yang terdapat di pulau itu.


Sepanjang jalan, semua orang yang berpapasan dengannya pasti menyapanya dengan penuh hormat. Begitupun dengan dirinya yang membalas semua sapaan itu dengan senyuman.


"Selamat datang, tuan Jay." Hormat salah seorang pelayan sambil membungkukkan badannya. Jay berdeham sebagai jawaban agar pelayan itu kembali berdiri tegap.


"Di mana bos?" Tanya Jay mengenai atasannya Bira.


"Seperti biasa, tuan. Beliau masih berada di dalam kamarnya." Jawab si pelayan dengan sopan.


"Oke. Tapi apakah ada perkembangan dengan sikap bos?"


"Nampaknya tak banyak tuan jika dibandingkan dengan beberapa hari yang lalu semenjak beliau kembali ingin bekerja."


"Baiklah, terimakasih sudah melaporkan serta menjaga bos. Kamu bisa pergi."

__ADS_1


"Baik, tuan." Pelayan itu langsung pergi meninggalkan Jay.


Jay kemudian melanjutkan langkahnya ke arah kamar tempat Bira berada. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar tersebut. Dan setelah terbuka, hal pertama yang ia cium adalah bau alkohol.


Kamar itu tidak begitu berantakan. Paling hanya ada botol-botol wine yang berserakan saja yang membuat kamar itu terlihat berantakan. Sisanya masih rapih seperti belum di tempati oleh seseorang.


"Tuan, ini saya Jay." Ungkap Jay sambil menutup lubang hidungnya. Dari bau alkohol yang ia cium, bisa dipastikan yang diminum oleh bosnya ini bukan minuman sembarangan karena baunya sungguh semerbak.


Tak ada satupun tanggapan dari Bira. Jadi secara inisatif, Jay mendekat ke arah posisi Bira yang sedang duduk bersender di tembok kaca kamarnya.


"Apa aku sepayah itu, Jay?" Tanya Bira meminta pendapat Jay.


"Tidak tuan. Anda tidak payah sama sekali. Seumur hidup saya, anda adalah orang terhebat yang pernah saya jumpai." Jawab Jay tulus dari lubuk hatinya yang terdalam.


Bira nampak tak merespon jawaban Jay, baik melalui ucapan maupun dari gestur tubuh. Ia hanya kembali melamun menatap lurus ke depan dengan pikiran kosong. Sedetik setelahnya barulah ia menenggak kembali botor wine di sampingnya. Ia sudah tak memakai gelas karena sudah hancur sewaktu ia lempar ke sembarang arah.


"Apa aku benar-benar sepayah itu?" Bira kembali menanyakan hal yang sama.

__ADS_1


Emosi Jay mulai bergejolak. Air matanya sungguh tak tahan untuk keluar. Tapi apabila itu ia lakukan maka situasi tidak akan berubah bahkan bisa jadi lebih buruk. Jadi ia hanya membuang nafasnya dengan kasar.


"Tuan, anda tidak payah sama sekali. Anda adalah orang yang hebat. Apakah anda ingat bagaimana cara kita bertemu?"


Bira kembali menenggak botol Wine.


"Kita bertemu di jalanan secara tidak sengaja karena saya waktu itu ingin mengembalikan dompet anda. Namun, pada saat itu orang-orang yang melihat hal itu menganggap saya lah yang mencurinya. Bahkan dengan sangat gampangnya saya akan dibawa ke kantor polisi oleh mereka." Jay menghela nafas sejenak.


"Jujur saya hanya bisa pasrah saat itu, tuan. Memang saya ingin menggembalikan dompet itu. Tapi sebenarnya apa yang diucapkan oleh orang-orang itu benar. Memang benar kalau saya ingin mencuri dompet anda. Namun, setelah dapat dompet anda, pikiran saya mengatakan kalau apa yang saya lakukan itu tak benar. Jadi, saya memilih untuk mengembalikannya, meski semuanya sudah terlambat. Orang-orang segera berspekulasi saya adalah pencuri dan langsung mengeksekusi saya lalu membawa saya ke kantor polisi."


Bira tak menatap Jay sedikit pun. Ia hanya menyimak cerita Jay sambil meminum botol winenya.


"Saat itu saya benar-benar pasrah. Hidup saya memang selalu diwarnai kekerasan dan kesusahan. Saya tak tahu orang tua saya siapa. Bahkan untuk makan saya harus mencuri atau melakukan hal-hal kotor lainnya. Jadi, wajar saja saya pikir jika penjara adalah tempat hidup saya." Tak terasa Jay mulai menitikkan air matanya. Ia seperti sedang melakukan perjalanan waktu di mana ia bisa kembali merasakan semuanya pada saat ini juga.


"Namun, anda datang membawakan saya secercah cahaya. Tak hanya saya saja, tuan. Donny dan semua bawahan anda merupakan orang-orang yang pernah anda tolong, tuan. Kalau anda tak ada, mungkin saya sudah mati dalam penjara dan Donny sudah dihabisi oleh para rentenir. Tapi anda datang sebagai penyelamat, tuan. Seorang pria kecil dengan semua kehebatannya." Jay menghapus air matanya sejenak.


"Ingat yang anda katakan pada saya waktu itu? Orang jahat itu memang banyak. Tapi orang yang sadar dan mau bertindak itu hanya mereka yang benar-benar kuat. Anda menolong saya, bahkan memberikan saya kesempatan untuk berubah. Tanpa anda saya bukan apa-apa."

__ADS_1


__ADS_2