Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
6. Sang Penyelamat


__ADS_3

"Bian! oper bolanya! lihat sekitar lu!" teriak seorang wanita yang berada di luar lapangan futsal.


"Woi, mak lampir! berisik lu. enggak liat apa gue lagi susah," balas Bian dengan ngos-ngosan mengejar bola karena kini telah berpindah kaki.


"Tau lu, Cia. Berisik tahu," ucap seseorang yang sedang duduk di kursi samping lapangan, tempat para pemain yang lainnya beristirahat.


Bukannya menanggapi, Lucia atau yang biasa di sapa cia hanya menarik nafasnya dalam-dalam. Kemudian dengan perlahan dia menengok ke arah sekumpulan pria yang ada di sana, dan menunjukkan tatapan dinginnya.


"Siapa suruh kalian kalah 4-2 dari musuh!" bentak Cia kepada para pria yang ada di sana. Dan yang dibentak hanya bisa diam. Memang benar mereka kebobolan 4-2 selama pertandingan, dan konyolnya 2 gol berasal dari kesalahan para pemain. Hal inilah yang membuat Cia begitu geram melihatnya.


Melihat kondisi Cia yang sedang mengamuk, salah seorang di antara mereka mendekatinya. "Tenanglah, Cia. Masih ada waktu, kita bisa balikin keadaan."


"huh, boro-boro balikin keadaan. Lihat tuh! sudah pada tepar semuanya," jelas Cia menunjuk sekumpulan pria yang sedang beristirahat.


"Bisa, kok. Lagian kamu ngapain ke sini sih?" tanya pria tersebut.

__ADS_1


"Memang kenapa? Enggak boleh gitu aku main ke sini? Bukannya ini tempat umum?" jawab Cia yang masih terus memberi instruksi pada tim yang sedang bermain.


"Bukan gitu maksudnya. Gini aja deh, kamu gak mau makan? aku traktir deh, sekalian aku anter pulang?" tawar pria itu.


"Wah, aku ditraktir, terus aku dianterin pulang. Waduh so sweet banget." jawab Cia mendekati pria itu. "satu kata buat lu, gue enggak mau! jadi lu jangan ngusir gue, kalo gue mau cabut gw bisa sendiri. Tambahan, sayangnya saudara Anggi idaman kampus, lu bukan selera gue."


"heh, bukan gitu konsepnya," Anggi hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di depan wanita ini, dia selalu menjadi orang yang salah. Bahkan semua pria akan merasa seperti itu.


Beginilah sifat Lucia, keras kepala. Sekali sudah memutuskan, tidak ada seorang pun yang bisa mengubahnya, bahkan keluarganya juga kesusahan mengatur dirinya. Dia juga memiliki hobi-hobi yang cukup berbeda pada wanita kebanyakan yaitu olahraga dan salah satunya adalah futsal. Saking sukanya berolahraga, Cia mendapat julukan 'gorila betina'.


"Nggi, udah percuma lu kayak gitu. Enggak bakal pergi tuh gorila, eh, maksud gw, tuh cewek." kata seseorang diantara kerumunan tersebut.


"tahu tuh. Dia itu gak ada pawangnya. Sekali memutuskan, enggak bakal selesai sampai dia sendiri yang bosen." timpal yang lainnya dibarengi tawa yang lainnya.


Anggi pun mengangguk setuju. Memang tidak ada yang bisa dilakukannya. Satu kampus bahkan paham dengan gelagat wanita tersebut. Meskipun begitu, Cia tetap menjadi primadona di antara para lelaki di kampusnya terlepas dari sifat keras kepalanya.

__ADS_1


Selain berbakat, kecantikannya juga tidak kalah dengan bakatnya. Kulitnya yang putih dan mulus membuat dia terlihat seperti aktor wanita di film-film korea. Dengan kelebihannya di bidang olahraga dan parasnya yang cantik, sudah tidak bisa diragukan lagi bahwa dia merupakan idaman para lelaki. Terlebih lagi, keluarga Cia merupakan pengusaha besar di Indonesia. Dan dengan tambahan fakta ini, dapat di pastikan Cia merupakan berkelas yang tidak sembarangan orang bisa dapatkan. Sehingga tak jarang lelaki mendekati Cia untuk menaklukkan hatinya.


Namun bukan Cia namanya jika menerima semua peryataan cinta itu. Entah apa yang mendasari dirinya menolak semua itu, tapi yang jelas bukan karena Cia memiliki kelainan. Hanya saja dia seperti tidak menemukan orang yang cocok baginya. Bahkan sekelas Anggi dan Bian yang merupakan pria pujaan kampus pun ditolak mentah-mentah olehnya. Meskipun mereka berdua belum pernah mengatakan suka pada Cia, tapi Cia lebih dulu menolak mereka.


"Daripada menyuruhku pergi, kenapa tidak memainkanku saja?" saran Cia kepada Anggi yang masih berdiri di sampingnya.


"hah, memainkanmu? hei, mau ditaruh di mana muka tim gue?" Jawab Anggi tak percaya dengan jawaban Cia.


"Memangnya salah kalo aku main? Lagipula tim kita sedang terdesak, dengan adanya aku, bukan tidak mungkin kita bisa menang," ucap Cia dengan bersemangat.


"Mungkin kalo kamu main, kita bisa menang tapi kamu bukan bagian tim. jadi, kamu gak bakal bisa buat main. Masalah menang, kamu tenang, timku masih punya kartu as," seringai Anggi membayangkan kemenangannya.


"heh, kartu as? bukannya semua pemain sudah ada di sini?" tanya Cia tak percaya sambil melihat kumpulan pria yang sedang rehat.


"hehehe,,, dia sedang perjalanan kemari. Begitu dia main, kupastikan kita akan menang dengan telak," kata Anggi dengan eksperesi yang sulit diartikan. Dan tak berselang semenit, pria yang disebut Anggi datang. "nah, itu dia sudah datang, Sang Penyelamat."

__ADS_1


__ADS_2