
Matahari menyinari bumi seperti biasanya, menandakan pagi telah tiba. Pada dasarnya diwaktu seperti ini setiap orang akan dipaksa bangun, tentunya karena cahaya matahari yang terang benderang dapat mengganggu waktu tidur. Begitu pula dengan tidur seorang pria yang terlihat begitu nyenyak harus terhenti ketika salah satu cahaya matahari mencapai wajahnya.
Matanya mulai mengerjap-ngerjap untuk bersiap bangun sepenuhnya dari tidurnya. Dengan sangat malas ia membuka matanya perlahan. Muka polos khas baru bangun tidur terpampang jelas di wajah pria itu. Rasanya semalam adalah tidur ternyenyak yang pernah ia rasakan. Namun, sedetik itu juga dia tersadar.
"Hah?! Ini di mana?! Bukannya aku ada di tengah hutan? Kenapa sekarang ada di dalam kamar seperti ini?" Binggung Bira seraya mengamati sekelilingnya. Kamar itu terbilang cukup luas bagi Bira. Nampak keseluruhan kamar tersebut Bira deskripsikan seperti kamar hotel.
Ia segera bangun dari tempat tidur. Kemudian berjalan ke depan sebuah kaca besar dalam ruangan itu. Tampilan tubuhnya pun otomatis nampak pada kaca tersebut. Bira dapat melihat dengan jelas beberapa luka lebam yang tersebar di sekujur tubuhnya. Dan yang paling memperhatinkan adalah wajahnya yang terdapat juga nampak beberapa luka lebam.
__ADS_1
"Aw,," Rintih Bira ketika menyentuh pelan bagian bibirnya. Meski luka-luka ini masih nampak begitu jelas, tapi dia yakin lukanya ini sudah diberikan obat-obatan oleh seseorang karena setelah terbangun lukanya tidak terlalu sesakit semalam.
Bira tentunya tak mau tinggal diam di sini selamanya. Dia mesti tahu siapa oranga yang menyelamatkannya semalam. Apakah orang itu baik atau tidak, Bira harus tahu. Setidaknya itu harus ia pahami sebelum ia membalas budi pada orang itu.
Saat mengaca, Bira menyadari pakaian yang ia kenakan untuk kabur semalam tak melekat pada tubuhnya maupun berserakan di dalam kamar itu. Akhirnya dia mencoba mencari sesuatu untuk bisa ia kenakan dan berencana untuk keluar dari kamar itu. Untungnya di dalam lemari pakaian terdapat sebuah bathrobe yang bisa ia kenakan.
"Jadi sekarang aku sedang berada di puncak." Ucap Bira sambil menikmati sebentar keindahan alam di depannya. Ada 2 fakta tambahan yang ia temukan setelah melihat ke luar tembok kaca. Pertama dirinya sedang berada di lantai teratas bangunan itu dan kedua dirinya dapat menyimpulkan bahwa orang yang membawanya kemari setidaknya memiliki uang cukup.
__ADS_1
Bira kemudian melanjutkan langkahnya menelusuri bangunan tersebut. Di ujung lorong dari kamar Bira keluar, terlihat sebuah tangga yang akan menuntunnya turun. Di mana ia langsung menuruni tangga tersebut dengan perlahan.
Sesampainya di lantai paling bawah, Bira langsung melanjutkan eksplorasinya menelusuri lantai pertama bangunan tersebut. Di luar bangunan ia melihat sebuah mobil hitam sedang terparkir rapih. Mobil itu tentunya bukan mobil biasa yang harganya murah karena hanya dengan melihat merek mobil itu Bira bisa menaksir harga kasarannya. Namun, bukan itu yang menjadi poin utamanya.
Sebab yang Bira Cari adalah orang lain selain dirinya yang berada di sini. Dan dari tadi ia belum menemukan satu pun batang hidung manusia. Hingga akhirnya Bira sampai di bagian belakang bangunan tersebut. Nampak terdapat sebuah halaman yang cukup luas terhampar di sana. Di satu titik, pusat perhatian Bira mulai teralihkan pada sosok wanita yang sedang menyirami bunga-bunga di sana.
Bira pun langsung saja menghampiri wanita itu. Kelihatannya keberadaannya belum disadari oleh wanita itu karena walau jarak mereka sudah cukup dekat, wanita itu malah masih asik dengan kegiatan menyiramnya. Baru ketika Bira hendak menyapa, kaki wanita itu malah kehilangan pijakan karena tanah yang pijak cukup basah dan licin.
__ADS_1
"Aaa,,," Teriak si wanita karena tak memiliki pengangan. Sontak Bira mengulurkan tangannya untuk menangkap si wanita dari belakang.