Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
73. Kesal Sendiri


__ADS_3

"Aih," Keluh Bira pelan begitu sampai di dalam kamar kosannya. Entah kenapa hatinya menjadi tidak tenang saat ini. Semua pikirannya kacau balau seperti sedang dilanda sunami saat ini. "Bodoh, tenanglah. Jangan berpikir gegabah."


Meski berkata seperti itu pada dirinya sendiri, Bira tetap saja tak bisa tenang. Tentunya dia tidak bisa tenang karena ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya, dan itu adalah Clara. Seorang gadis yang ternyata lebih dulu mengingkari kesepakatan keduanya.


"hhhhm apa benar gadis itu mencariku terus selama dua bulan ini?" Gumam Bira sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ternyata sewaktu dalam perjalanan kemari, Jay telah menceritakan semuanya tentang Clara pada Bira. Tentunya tentang bagaimana khawatir dan cemasnya Clara terhadap kondisi Bira. "Kenapa aku jadi merasa bersalah? Padahal kan yang buat janji untuk saling melupakan itu kan dia."


Lagi dan lagi, pikiran Bira berkecamuk. Di satu sisi ia ingin menepati janji sesuai kesepakatan. Dan di sisi lain ia juga merasa bersalah karena membuat Clara harus mencarinya terlebih dahulu. Padahal kalau ia sudah bertekad untuk tanggung jawab, seharusnya ia menghadap ke ayah Clara secara terang-terangan, bukan bersembunyi seperti pengecut.


"Akh!" Teriak Bira kesal. Sudah sangat muak ia mendengar pikirannya sendiri yang tak kunjung mau berbaikan. Akhirnya Bira memutuskan untuk mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor Jay.


Tak berselang lama, panggilan sudah tersambung. Bira segera menyuruh Jay untuk putar balik dan menjemputnya lagi di depan gang tanpa ada protes. Malas rasanya jika pikiran sedang seperti ini harus mendebat seseorang. Namun, sebelum Bira hendak menutup panggilan itu, Jay mengatakan sebuah kalimat yang membuat Bira tak jadi menutup panggilan itu.

__ADS_1


"Coba kau ulangi ucapanmu barusan." Pinta Bira karena takut apa yang ia dengar itu salah.


"Ehm, itu. Ada seseorang bernama Icad mengajak nona Clara untuk makan malam bersama nanti malam, tuan." Jawab Jay mengulangi laporannya.


"Hah? apa itu benar? Icad? siapa itu? Kenapa dia dengan percaya diri bisa mengajak Clara dinner?" Serang Bira dengan semua pertanyaan di otaknya.


"Icad adalah sekretaris Donny, tuan. Dia adalah orang yang biasa mengatur perusahaan cabang kita di sini. Cukup berkompeten orangnya, tuan."


"Apa berkompeten? orang seperti itu berkompeten? sudah gila kau." Kicau Bira yang kesal sendiri ketika mendengar Clara akan malam bersama dengan pria lain. "Sudahlah aku tak perlu penjelasan lengkapnya karena setidaknya aku sudah tahu garis besar ceritanya. Jadi cukup jemput aku lagi."


Bira kemudian bangkit dari kasur dan segera keluar dari kamar. Sebelum keluar, ia sempat mengintip kondisi di luar. Takut-takut ada Bian dan Anggi di sana. Untungnya kondisi luar aman terkendali. Jadi, Bira bisa keluar kamar kosannya dengan aman. Sebenarnya alasan Bira belum mau ketemu dengan Bian dan Anggi adalah karena insiden menghilangnya dua bulan yang lalu.

__ADS_1


Dirinya sangat yakin Bian dan Anggi akan menyerangnya dengan ribuan pertanyaan begitu tahu kalau dirinya baik-baik saja. Dari laporan Jay, motor milik Anggi dan kemeja Bian sudah sampai di tangan pemiliknya masing-masing oleh Cia. Dan menurut Bira, Cia pasti akan berkata jujur pada kedua sejoli itu tentang menghilangnya dirinya. Itulah akar masalah kenapa Bira agak takut bertemu dengan Bian dan Anggi.


Tak berselang lama, Bira akhirnya sampai di ujung gang. Dirinya tak perlu menunggu terlalu lama karena baru saja sampai, dirinya sudah melihat mobil yang dikendarai Jay menghampirinya.


Bira pun segera masuk ke dalam mobil Jay. Dan mobil itu langsung melaju membelah jalanan, menuju tempat tujuan mereka.


"Kita ke mana dulu, tuan?" Tanya Jay mengesampingkan semua pertanyaan yang ingin ia utarakan pada bosnya.


"Ke apartemen dulu. Aku ingin bersiap-siap." Jawab Bira dari kursi belakang. Jay mengangguk sebagai jawaban.


"Oh, iya. Suruh para mata-mata untuk off dulu malam ini." Sambung Bira setelahnya.

__ADS_1


"Hah, serius, Tuan? Tapi bagaimana nanti kalau Icad melakukan sesuatu terhadap nona Clara?" Heran Jay dengan perintah Bira barusan. Memang benar dia sudah menceritakan semuanya pada Bira tadi. Tapi kalau Bira menyuruh untuk semua mata-mata off dulu malam ini, itu berarti tidak ada satu pun yang mengawasi Icad.


"Untuk itulah aku menyuruh mu menjemput lagi. Biarkan aku sendiri yang mengawasi cecunguk sialan yang sudah berani menggoda Clara." Jawab Bira dengan sedikit emosi.


__ADS_2