Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
25. One Stand Night


__ADS_3

Bira yang sedari tadi menahan panas ditubuh segera menidurkan Clara pada kasur di kamar hotel yang ia masuki. Rasanya dia sudah tidak tahan dengan apa yang menimpanya, dia butuh teman untuk pelampiasan. Bira menatap wanita itu dengan tatapan lapar.


"Ku harap kau tidak menarik ucapanmu! jika kau masih ingin berubah pikiran, sekarang lah saatnya." tegas Bira masih menatap wajah cantik nan imut itu.


Clara nampak berpikir sejenak, tapi setelahnya ia tersenyum manis membuat hasrat Bira meninggi berkali-kali lipat. "Tak apa. Apapun yang terjadi, aku tidak akan menyalahkanmu. Meski sebagai pelampiasan, temani aku malam ini, sayang."

__ADS_1


Ucapan sayang yang begitu manis bagi Bira membuyarkan pikiran jernihnya. Tanpa aba-aba dari wasit atau tuhan, Bira ******* bibir ranum clara yang tadi sudah sempat menodai lehernya. Perlahan tapi pasti, keduanya mulai menikmati mulut masing-masing. Bira memang mencium bau alkohol yang begitu menyegat pada Clara dan dia tahu bahwa wanita ini menggodanya karena mabuk tersebut. Tapi semua itu tidak bisa menghentikan semangat birahinya yang sudah menghiasi setiap inci pikirannya. Sedangkan Clara, dia mempasrahkan dirinya pada Bira sehingga Bira dengan leluasa menjelajahi setiap jengkal mulut Clara.


Tangan Bira juga tidak mau tinggal diam. Tanpa persetujuan dari Clara, tangan Bira sudah aktif menggerayangi dua gunung yang begitu menggoda imannya. Karena ukurannya yang pas dan cocok di tangannya, membuat kedua tangannya betah bermain-main di sana. Hingga tak terasa dress yang digunakan oleh Clara sudah compang-camping pada bagian atas.


Sejenak Bira melepaskan pagut*nnya, dan beralih ke leher mulus Clara yang begitu putih dan bersih. Mendapati sesuatu yang menggerayangi lehernya, Clara hanya bisa menggigit bibir bawahnya sendiri karena tak mau membuat suara yang dianggapnya aneh. Dengan satu gerakan, Bira berhasil mengekspos bagian atas Clara yang membuat bagian bawahnya menegang.

__ADS_1


Sebelum melakukan penyatuan, Bira mencoba membuat suasana lebih tenang dan tidak terlalu memaksa. Ia mencoba menyentuh setiap kulit Clara. Memegang kedua tangan Clara yang sedari tadi digunakan Clara untuk menutup mulutnya. Hingga ia kembali menikmati bibir manis milik Clara. Dan sampailah Bira pada penghujung aksinya. Dengan masih ******* bibir Clara, Bira mengarahkan milikinya memasuki singgasana yang seharusnya ia tempati.


"Hhmm,," lenguh Clara masih dalam panggutan Bira. Untungnya Bira sadar, dia masih memiliki sedikit kewarasan dalam otaknya. Dia tidak memaksa masuk ke dalam Clara, melainkan mencoba membuat Clara lebih rileks. Bira mengecup kening Clara, dilanjut dengan kelopak mata, sampai setiap inci wajah Clara di absen olehnya, seperti memberi rasa hangat kepadanya. Lalu Bira mulai melakukan tugasnya.


"Ahhh,," Desah Clara di telinga Bira. Posisi Bira yang berada di atas membuat wajah keduanya begitu dekat. Dan ******* Clara menjadi sebuah api semangat bagi Bira untuk menaklukkan Clara malam ini. Meski melihat Clara yang terus menahan sakit, Bira tetap menjalankan tugasnya. Dan akhirnya, ia berhasil. Dengan memakan waktu yang cukup lama, Bira berhasil menjadi orang pertama yang menaklukkan milik Clara. Tentu saja Bira bangga dan senang. Tapi tidak serta merta membuat dirinya berhenti dalam satu ronde.

__ADS_1


Bira terus menggempur Clara, menghiraukan aliran keringat yang mengalir di tubuh mereka berdua. Keduanya hanya berpikir untuk saling menikmati tubuh masing-masing. Bahkan Clara yang awalnya kesakitan kini mulai bisa menikmati permainan Bira. Clara juga mulai tidak ragu lagi mengeluarkan suara-suara sexy milikinya. Dan malam ini, menjadi malam yang panjang bagi keduanya. Di malam ini, mereka saling melengkapi satu sama lain.


__ADS_2