Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
71. Rencana Licik Buaya


__ADS_3

"Ya mana aku tahu. Orang dari awal aku udah begini!" Ingin rasanya Clara menjawab seperti itu. Tapi ia urungkan karena tak mau Icad malah melupakan janjinya.


"Ah, kamu bisa aja." Balas Clara dengan senyum sedikit dipaksakan. Meski terlihat kaku, tapi senyuman Clara berhasil membuat Icad salah tingkah.


"Aih, Clara senyummu indah sekali." Ungkap Icad tanpa pernah melepaskan pandangannya dari Clara. "Oh iya, aku sampai lupa, silahkan kamu pesan makanan dulu. Aku tak terlalu tahu seleramu. Jadi, aku mau kamu pesan sendiri saja untuk sekarang. Tapi mungkin untuk seterusnya kita bisa makan bersama dengan menu buatan kamu."


Jijik sekali Clara mendengarnya. Dirinya baru sadar kalau ternyata pria di depannya ini adalah pria buaya yang punya tingkat kepercanyaan diri unlimited. Maksudnya adalah stres tak tertolong. Kalau bukan karena ingin bertemu Bira, Clara mungkin sudah menyembur Icad dengan air sejak awal.


"Aku pesan steak saja dan minumannya manggo smoothie," Pesan Clara menghiraukan rayuan-rayuan maut Icad.

__ADS_1


"Oke." Balas Icad seraya memanggil pelayan untuk membawakan pesanan milik Clara dan dirinya.


Selagi menunggu pesanan, keduanya hanya terdiam, terutama Icad. Ia hanya memandangi Clara seperti tanpa berkedip. Padahal tak jauh dari mereka, seseorang sedang mengawasi mereka dengan perasaan kesal. Bahkan tangannya sudah mengepal sejak tadi.


"Icad, kurasa aku sudah menepati janjiku untuk datang. Lalu, mana janjimu?" Tanya Clara yang mulai agak risih dengan pandangan Icad padanya. Dan lagi-lagi Clara mesti bersabar untuk menghadapi spesies pria, seperti Icad.


"Hahahaha, tentu. Aku tak akan lupa dengan janjiku, sayang." Panggilan tersebut Icad bumbuhkan agar suasana menjadi lebih romantis. Tapi yang dirasakan oleh Clara adalah sebaliknya. Dia malah merasa seperti sedang menonton video horor, mampu membuat bulu kuduknya merinding.


"Putih dan mulus seperti salju," Ucap Icad ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Clara. Bahkan dengan sangat berani Icad mencium punggung tangan kanan Clara. "Anugrah terindah datang padaku malam ini. Dan itu adalah ketika aku bisa makan malam bersama wanita secantik dirimu."

__ADS_1


Dengan sangat terkejut, Clara langsung menarik tangannya dari genggaman Icad. Rasanya ingin sekali langsung menyiram tangannya dengan air kembang tujuh rupa agar ciuman Icad barusan menghilang. Tapi karena masih ada rasa menghargai, Clara tak melakukan itu dan hanya membalas Icad dengan senyuman.


"Kamu tenanglah. Aku sudah menyiapkan pria bernama Bira itu di suatu tempat." Sambung Icad dengan serius.


"Hah, kau serius?" Jelas Clara kaget mendengarnya. Namun setelahnya ia takut ucapan Icad barusan memiliki arti dirinya menyekap Bira. "Kamu tidak melakukan apapun dengannya, bukan?"


"Oh, tentu saja tidak. Dia aman dan sehat. Tanpa luka sedikit pun." Dengan sangat percaya diri Icad mengatakannya. Padahal dalam kenyataannya dirinya sama sekali tidak pernah menemukan Bira. Semuanya yang dikatakan pada Clara hanya akal busuknya agar bisa menjebak Clara datang kemari.


Sebenarnya Icad sudah berusaha mencari data mengenai pria bernama Bira tersebut. Bahkan ia sempat bertanya pada Donny, selaku atasannya tentang Bira. Di mana Donny dengan terang-terangan menjawab tidak tahu menahu soal pria bernama Bira ini. Akhirnya karena tak mau kehilangan kesempatan, Icad mulai merenakan rencana licik dengan cara menjebak Clara atas nama Bira.

__ADS_1


"Ah, Clara. Maaf sebelumnya. Bolehkah aku izin ke kamar mandi sebentar. Aku tiba-tiba saja ingin buang air kecil." Izin Icad pada Clara. Sebagai jawaban Clara mengangguk saja.


__ADS_2