Teman Pelampiasan

Teman Pelampiasan
43. Jeratan Istri


__ADS_3

"Apa?! Hanya untuk mencari tahu informasi saja kalian tak bisa? Lalu, untuk apa aku membayar mahal kalian, hah?" Bentak Biantara kepada sekumpulan pria di depannya. Sementara Biantara mengamuk, semua pria di depannya hanya menunduk sebagai balasan untuk menerima setiap cacian bosnya. "Kamu! Coba kamu jelaskan secara logis kenapa kamu bisa tidak menemukan satu pun tentang pria itu?"


Biantara menunjuk pria yang berdiri paling ujung darinya. Dengan grogi pria itu memberanikan diri untuk maju. Niatnya adalah untuk menjadi perwakilan menjelaskan kepada Biantara.


"Kami tidak dapat menemukan pria itu karena semua data hotel hilang, bos." Pria itu lega bisa menjelaskan semuanya dengan satu tarikan nafas.


"Maksudnya?"


"Jadi meski ada pesta besar di sekitar hotel itu, pelayanan hotel tetap harus di data, bos. Dan anehnya tidak ada data yang mencurigakan sama sekali yang kami temukan. Padahal menurut beberapa saksi mata mereka melihat nona Clara waktu itu memasuki hotel." Terang pria itu dengan yakin. Beberapa orang di belakangnya juga mengangguki ucapannya.


"Jadi maksud mu ada orang yang memonopoli data hotel kala itu?"


"Benar, bos. Dan ada satu hal lagi yang membuat hal ini semakin aneh"


"Apa itu?"


"Semua pelayan yang bekerja pada waktu itu tiba-tiba melakukan resign dan menghilang dalam waktu 2 minggu ini."

__ADS_1


"Hah?!" Biantara sungguh kaget akan hal itu. Bagaimana bisa seseorang melakukan hal itu jika itu orang biasa. "Menurut mu apakah dia orang jahat?"


"Hhhm,, untuk itu kami tidak tahu. Tapi seperti dia punya kekuasaan, bos." Hipotesis ini pria itu tujukan karena ia paham betul bagaimana mudahnya penguasa dapat melakukan hal-hal gila dalam waktu sekejap.


"Baiklah, aku terima alasan kalian. Tapi aku mau kalian terus lakukan pencarian. Temukan pria itu dan bawa dia ke hadapanku segera. Mengerti?"


"Mengerti, bos." Jawab semua pria yang berdiri di depan Biantara itu.


"Baiklah. Kalian boleh bubar." Biantara mempersilahkan semua orang suruhannya untuk keluar. Kini tinggal lah dirinya sendiri di sana.


"Haih, memikirkan hal ini hanya membuat kepala ku sakit." Ujar Biantara sambil memijit-mijit pelipisnya.


"Sayang, apa aku boleh masuk?" Ternyata orang itu adalah Nesya, istri Biantara itu sendiri.


"Ya, sayang. Masuk saja." Jawab Biantara dengan sedikit berteriak agar suaranya terdengar sampai luar.


Nesya pun masuk ke sana dan langsung menghampiri suaminya yang sedang duduk di kursi kebesaran miliknya. Ia melihat suaminya tengah termenung sambil memijit-mijit pelipisnya. Melihat hal itu, sebuah ide muncul dalam benaknya. Bukannya berdiri di samping atau duduk di kursi depan suaminya, Nesya memilih untuk duduk di atas pangkuan Biantara. Dan jelas hal itu membuat si empu menjadi teralihkan pikirannya.

__ADS_1


"Mikirin apa sih, sayang?" Tanya Nesya dengan lembut seraya mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Biantara yang mendapat perlakuan seperti ini dari istrinya hanya tersenyum penuh arti.


Tidak ada jawaban yang ia berikan pada Nesya melainkan sebuah ciuman yang mendarat tepat di bibir sang istri. Meski sedikit tiba-tiba tapi Nesya menyambut hangat ciuman itu. Keduanya saling mengecap, merasakan dan menikmati rongga mulut masing-masing. Bahkan secara spontan tangan Biantara menyentuh dua benda kenyal yang selalu di bawa oleh sang istri.


"Hmph,,," lenguh Nesya seraya melepas pangutannya karena ia reflek mendongkakkan kepalanya lantaran sentuhan Biantara barusan. Seketika itu pula tubuh Nesya menegang.


Sebagai seorang suami yang sudah paham gerak gerik si istri, Biantara tak membuang-buang kesempatan emas tersebut. Ia mulai menggunakan kedua tangannya untuk menjamah tubuh bagian atas Nesya tanpa lupa menciumi leher jenjang milik Nesya.


Tak ada penolakan sedikit pun atas apa yang dilakukan oleh Biantara. Bahkan setelah tubuh bagian atas Nesya terpampang jelas, dirinya tidak melakukan protes. Malahan dirinya membawa kepala suaminya agar tetap bermain di kedua bukit miliknya. Dan jangan lupakan dengan suara-suara manis yang ia keluarkan sambil menjambak rambut suaminya.


"Sa, sayang. Lanjutin di kamar ya?" Pinta Biantara dengan wajah yang sudah tidak mampu menahan hasrat miliknya.


Nesya tersenyum tipis. Ia tahu sang suami sudah tak sabar ingin bermain dengannya. Terbukti di bawah sana ada sesuatu yang menonjol. Dan dirinya tahu betul itu apa.


"Aku mau tapi,,,," Nesya menggantungkan ucapan sambil membelai wajah sang suami.


"Ah,, apa?" Biantara dibuat semakin tak kuat untuk menahan hasrat.

__ADS_1


"Berjanjilah untuk menuruti kemauanku." Ternyata alasan Nesya kemari bukan semata-mata merayu sang suami. Melainkan untuk menjerat sang suami sehingga mau menurutinya.


__ADS_2